Menjadi komuter telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari hingga kita tidak sadar apa yang mungkin ditawarkannya pada kita. shutterstock.com

Bagaimana menjadi komuter setiap hari mengubah hidup Anda

Hanya sedikit aktivitas yang bisa menandingi buruknya menjadi komuter. Penggunaan kata-kata seperti “neraka” dan “mimpi buruk” untuk menggambarkan perjalanan menuju dan dari tempat kerja menunjukkan betapa merendahkannya kehidupan sebagai komuter itu. Perjalanan tersebut sering digambarkan dalam istilah distopia yang mencerminkan semua rasa stres dan melelahkan dari rutinitas harian kita.

Perjalanan ini seringkali telah menjadi rutinitas sehingga kita jarang berhenti sejenak untuk memikirkannya. Para peneliti telah mengeksplorasi topik ini, misalnya melihat hubungan menjadi komuter dan kesejahteraan – dengan kesimpulan bahwa menjadi komuter mengorbankan secara signifikan kesejahteraan.

Dan terdapat pula statistiknya, contohnya mengenai durasi perjalanan. Penelitian di Jakarta, misalnya, menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan dalam satu kali perjalanan dari dan ke tempat kerja di kota sekitar 2 jam. Tak mengherankan, survei lain menunjukkan bahwa Jakarta adalah kota dengan tingkat kemacetan terparah di dunia, dengan setiap orangnya menghabiskan 22 hari terjebak di kemacetan setiap tahunnya.

Kemacetan di Jalan Jendral Sudirman Jakarta sewaktu jam padat. www.shutterstock.com

Informasi tersebut menyediakan kita pandangan umum tentang perjalanan kita. Di samping diagnosis pada tingkat yang lebih luas, hanya sedikit hal yang kita ketahui tentang bagaimana komuter mengubah kehidupan perkotaan. Coba lihat secara lebih dekat, dan kita pun akan mulai menghargai bagaimana perjalanan menuju dan dari tempat kerja adalah ruang transisi yang aneh dari kehidupan kita, bercampur dengan segala macam peristiwa dan pertemuan, yang dengan baik ataupun buruk, mengubah siapa diri kita.

Ruang transisi

Menguping pembicaraan orang asing yang berbisik. Melihat cahaya pertama matahari sambil mendengarkan lagu dari musisi kesukaan. Sesaat bertatapan dengan orang yang duduk berhadapan dengan kita, lagi dan lagi. Setengah menyadari bahwa di mobil sebelah saat lampu merah, ada seseorang dengan air mata mengalir di pipinya.

Pertemuan-pertemuan yang tampaknya tidak berarti ini penting karena hal tersebut bisa mengubah kita dengan cara yang halus namun kuat. Mereka akan membawa kita keluar dari diri sendiri, mengulang drama kita ke dalam kehidupan orang lain, dan memperkuat rasa keterhubungan kita dengan dunia di luar dunia kita sendiri.


Read more: Sistem pembayaran transportasi multimanfaat bisa mengurangi macet Jakarta


Semua pertemuan yang kita alami selama perjalanan, seluruh lingkungan perpindahan yang kita lalui, memberi kesan bagi kita dan meninggalkan jejak. Bahkan jika kita tidak sadar tentang bagaimana sebuah peristiwa mempengaruhi kita pada saat itu, kita mungkin akan menyadari, terkadang lama setelahnya, betapa kuatnya peristiwa itu. Dengan berjalannya waktu, dan melalui pengulangan, apa yang kita alami menjadi bagian dari diri kita, dan diri kita pun menjadi bagian dari lingkungan yang kita lalui.

Hal ini berarti, dibandingkan hanya melihat pengalaman menjadi komuter secara pasif, kita bisa melihat bagaimana pengalaman rutin ini secara aktif mengubah kita.

Perjalanan dan perpindahan yang terjadi selama kita menjadi komuter secara aktif mengubah kita. Nabeel Syed/Unsplash, CC BY

Pada pertengahan abad ke-20, ketika pinggiran kota berkembang dengan pesat, filsuf Henri Lefebevre khawatir bahwa perpanjangan waktu perjalanan merupakann tanda bahwa waktu luang kita akan diambil oleh tuntutan pekerjaan. Namun jauh dari zona “dead time” atau waktu yang terbuang karena pekerjaan, sebagaimana yang sering disampaikan oleh ekonom, perjalanan kita sebagai komuter adalah waktu di mana kita terlibat dalam segala macam kegiatan, untuk bekerja ataupun bersenang-senang, yang membentuk siapa kita.

Perjalanan kita dipenuhi dengan banyak aktivitas yang dimampukan dan dibatasi oleh lingkungan tempat kita berpindah. Di balik aktivitas ini terdapat motivasi yang berlimpah, dari tawar-menawar yang sulit yang mungkin kita lakukan dengan diri sendiri untuk mengisi waktu perjalanan kita menjadi produktif, hingga hal yang tidak terlalu membutuhkan pengambilan keputusan dan tentu saja lebih menyenangkan, seperti dengan melihat-lihat unggahan di media sosial di ponsel kita lagi.

Buku saya yang baru-baru ini saja diterbitkan, Transit Life: How Commuting Is Transforming Our Cities, didasarkan pada penelitian selama empat tahun tentang pengalaman menjadi komuter di Sydney, Australia. Dibandingkan dengan mengevaluasi apakah hal tersebut baik atau tidak, penelitian tersebut mengajarkan saya, layaknya prisma, perjalanan menjadi komuter membiaskan banyak bagian dari hidup kita.

Bagaimana perjalanan komuter mengubah hidup kita

Seorang perempuan yang saya wawancarai memberi tahu bahwa perjalanannya menuju tempat kerja yang baru jauh lebih pendek dari yang sebelumnya, sehingga dia harus duduk beberapa menit di dalam mobilnya setelah ia sampai di tempat kerjanya. Dia merasa dia datang terlalu cepat dan menginginkan waktu perjalanan yang lebih panjang.

Perempuan lain memberitahu saya bahwa dia merasa sangat kelelahan karena bombardir sensoris dari menyetir menuju kantor. Dia memutuskan untuk berganti menggunakan kereta, yang memanjangkan waktu perjalanannya hingga satu jam dan sepuluh menit. Namun hal ini memberi dia waktu untuk tenggelam dalam novel.

Lalu terdapat seorang laki-laki yang mengikuti kursus komuter pesepeda untuk mengurangi kecemasan yang ia rasakan ketika melewati lalu lintas yang berbahaya dengan bersepeda. Hal itu pada akhirnya menjadi hal yang mendorong dirinya untuk memilih mengejar karir baru yang membantu mengarahkan jalan bagi para calon pengendara sepeda.


Read more: Fenomena omprengan: solusi mobilitas komuter pinggiran Jakarta


Perempuan lainnya mengeluh bagaimana perjalanannya yang panjang dengan harus mengendarai mobil lalu dilanjutkan dengan naik kereta telah merampas waktu yang bisa ia habiskan di rumah. Namun dia berbicara dengan penuh kehangatan tentang rasa komunitas yang telah dibangun selama bertahun-tahun di dalam gerbong kereta, dan bagaimana orang-orang saling peduli satu sama lain, memastikan orang tidak terlewat dari pemberhentiannya karena tertidur.

Situasi yang kita hadapi dalam perjalanan kita menuju dan dari tempat kerja mungkin akan memberikan dampak panjang bagi hidup kita. Jad Limcaco/Unsplash, CC BY

Untuk mengklaim apakah menjadi komuter adalah kegiatan yang negatif atau positif berarti mengingkari sifat dasarnya yang memang tidak pasti. Perjalanan bisa melelahkan, menguras tenaga dan biaya, namun juga bisa menghidupkan, membangkitkan, dan memberi semangat. Baik racun ataupun obat, perjalanan komuter adalah zona dimana ketegangan dan pertentangan, beragam pengaruh dan keinginan dalam hidup kita, semuanya menjadi jelas.

Banyaknya peristiwa-peristiwa dan pertemuan yang dialami dalam perjalanan kita mungkin akan memunculkan pertanyaan yang menggugah diri kita dari dalam. Mengapa tindakan orang tersebut mengganggu saya? Hal apa yang menyebabkan perjalanan pada hari itu membuat saya merasa damai?

Konfrontasi yang terjadi satu kali dalam perjalanan mungkin akan mengganggu atau membuat kita frustasi, namun paparan yang berulang pada lingkungan yang mengancam mungkin akan mengubah pemahaman dasar kita dengan jauh lebih nyata. Sebuah perjalanan panjang menuju tempat kerja dan mengulangnya kembali mungkin masih bisa diatasi, namun melakukan secara terus-menerus selama bertahun-tahun mungkin akan mengatur ulang dorongan dan keinginan kita secara mendasar.

Perjalanan yang kita lalui membuat kita mempertanyakan nilai-nilai yang kita percayai, membuat kita berpikir ulang tentang apa yang berharga bagi kita dan memungkinkan kita untuk mengevaluasi kembali apa yang kita kerjakan, makan dari hubungan dan komunitas bagi kita. Perasaan terjebak dalam kemacetan, mungkin hanya muncul seperti itu saat kita merasa terkekang, atau berada pada titik terendah kita. Pada saat yang bersamaan, cara baru menjalani kehidupan mungkin akan muncul dengan sendirinya.

Penulis menambahkan informasi tentang kegiatan komuter di Indonesia

This article was originally published in English