Bagi anak-anak, dendam itu alami, balas budi tidak. Riset temukan ternyata balas budi perlu dipelajari

Natalia Lebedinskaia/Shutterstock.com

Dahulu kala, ada seorang budak melarikan diri dan bersembunyi di dalam gua hanya untuk menyelamatkan seekor singa yang terluka. Walau takut, budak itu membantu mencabut duri yang tertancap di cakar singa. Singa itu sangat berterimakasih, lalu membagi makanannya dengan sang budak, dan akhirnya menyelamatkan hidup budak itu.

Pernah dengar dongeng ini? Dongeng ini usianya sudah ratusan tahun. Dongeng ini mirip cerita “Androcles and the Lion” dalam kisah Aesop dan cerita rakyat Romawi, dan cerita ini terus ada dalam buku cerita anak-anak zaman sekarang.

Dongeng-dongeng ini menekankan sebuah hikmah yang menurut kita semua orang pasti mengerti dan pahami: “ada budi, ada balas”.

Karena pepatah ini relevan dalam kehidupan sehari-hari, banyak ahli psikologi, dan orang-orang awam yang berasumsi bahwa prinsip ini umum dipegang dalam berperilaku, bahkan oleh anak-anak.

Namun, percobaan kami baru-baru ini menunjukkan bahwa perbuatan balas budi bukanlah sikap yang muncul secara alami ataupun intuitif. Kami menemukan bahwa anak-anak hampir tidak punya kesadaran bahwa mereka perlu membalas budi pada orang yang telah membantu mereka.

Seekor singa mengingat kebaikan Androcles dan membalas budi. Jean-Léon Gérôme/Wikimedia Commons

Membantu orang yang membantu kita

Prinsip balas budi – membalas kebaikan seseorang yang telah membantu kita – sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sering dilekati dengan status moral. Dalam banyak masyarakat, termasuk di Amerika Serikat (AS), tidak membalas budi bisa dianggap sebagai pelanggaran besar.

Di luar ranah pribadi, peneliti berpendapat bahwa balas budi langsung dapat menjadi alasan keberhasilan masyarakat dan alasan terjadinya evolusi kerja sama secara umum.

Jika balas budi adalah memang sesuatu yang telah berevolusi menjadi landasan manusia saling berinteraksi, maka menurut kami balas budi pastilah dipahami oleh anak-anak secara alami.

Untuk menguji hipotesis ini, kami menyiapkan permainan komputer sederhana untuk anak berusia empat sampai delapan tahun. Anak-anak ini berinteraksi dengan empat avatar; kami beritahu peserta bahwa avatar ini adalah anak-anak lain yang juga bermain.

Pada satu versi permainan ini, semua avatar mendapatkan stiker dan si peserta tidak mendapat stiker. Namun, kemudian, satu avatar memberikan stiker kepada peserta.

Pada tahap selanjutnya, anak tersebut mendapatkan stiker kedua yang bisa dia berikan kepada pemain lainnya. Tentu, pilihan yang paling jelas adalah membalas budi dengan memberikan stiker tersebut kepada avatar yang telah berbuat baik sebelumnya bukan?

Ternyata tidak. Bahkan ketika dipaksa untuk memberikan stiker barunya, dan ketika berinteraksi dengan orang-orang yang berasal dari kelompok sosial yang sama, anak-anak umur berapapun memberikan stikernya secara acak kepada pemain lainnya.

Perilaku tersebut menunjukkan tidak adanya perilaku balas budi langsung.

Apakah ada yang salah dengan tugas yang kami berikan? Atau apakah terlalu sulit untuk anak kecil mengingat siapa yang telah berbuat baik padanya? Sepertinya tidak – ketika kami tanya, hampir semua anak ingat siapa yang memberinya stiker.

Kami menemukan hasil yang sama beberapa kali dalam kelompok-kelompok anak-anak lainnya. Lagi-lagi, tidak ditemukan bukti bahwa anak kecil menghargai prinsip “ada budi, ada balas”.

Apakah ini berarti anak-anak tidak pernah menunjukkan kemampuan membalas perlakuan orang lain secara langsung? Tidak sepenuhnya. Mereka mampu, hanya saja dalam bentuk dendam bukan rasa berterimakasih.

Membalas dengan hukuman

Sebenarnya ada dua bentuk cara membalas perlakuan secara langsung: bentuk positif – menunjukkan rasa berterimakasih – dan bentuk negatif – menyimpan dendam. Bentuk negatif ini tersurat dalam pepatah seperti “mata ganti mata”.

Kami menguji bentuk negatif ini dengan kelompok anak yang berbeda; mereka memainkan permainan yang mirip dengan yang pertama, namun ini versi “mencuri”.

Setiap anak mulai dengan satu stiker yang nantinya akan direbut oleh satu dari empat avatar. Pada kesempatan berikutnya para avatar memiliki stiker dan peserta yang diambil stikernya punya kesempatan untuk mengambil dari salah satu avatar. Yang terjadi, anak-anak membalas dendam, kadang dengan puas, dan merebut stiker dari si pencuri agar impas.

Mengapa anak-anak dalam rentang umur yang sama lebih ingin membalas dendam tetapi tidak mau membalas budi? Dalam kasus ini pun, kesalahan ingatan atau ingatan yang bias juga tidak berlaku: anak-anak mampu mengingat orang yang berbuat baik dan yang berbuat jahat, tetapi mereka hanya membalas perbuatan yang jahat.

Siapa yang pantas mendapat stiker? Dmytro Yashchuk/Shutterstock.com

Sebuah ekspektasi yang harus dipelajari

Anak-anak mungkin bisa menghiraukan kewajibannya, tetapi menurut penelitian mereka mencoba mematuhi ekspektasi sosial.

Kami mengira-ngira apakah mereka tidak menyadari adanya norma untuk balas budi. Bisa jadi mereka memang tidak sadar perlunya membalas budi terhadap kebaikan yang mereka terima.

Maka kami bertanya kepada mereka. Kami menggunakan permainan yang sama seperti sebelumnya dan mereka masih menerima stiker, namun kali ini, kami hanya bertanya “siapa yang pantas dapat stiker?”

Pada kasus ini, kelompok anak dengan umur paling tua - tujuh dan delapan tahun - secara sistematis memilih orang yang pernah memberi stiker kepadanya. Sementara kelompok anak dengan umur lebih muda, memilih secara acak; sepertinya mereka memang tidak sadar adanya aturan ini.

Hasil penelitian kami menunjukkan adalah anak-anak harus belajar prinsip balas budi langsung agar mampu menerapkannya.

Kami melakukan satu eksperimen terakhir untuk mengetahui kemungkinan ini. Satu kelompok anak-anak mendengarkan cerita tentang dua anak yang saling berbalas budi, cerita ini disampaikan seakan-akan sebagai sebuah ketentuan: “karena Tom memberikan stiker pada saya kemarin, maka hari ini saya harus membalas.” Sekelompok anak-anak lainnya mendengarkan cerita tentang dua anak yang berperilaku baik, namun tidak dalam bentuk balas budi.

Kedua kelompok anak tersebut kemudian bermain permainan yang sama seperti sebelumnya.

Hasilnya, kelompok anak pertama yang mendengar cerita tentang balas budi cenderung “membalas kembali” anak lain yang pernah memberinya, dibanding kelompok anak yang mendengar cerita tentang perilaku baik. Dengan kata lain, cerita sederhana tentang sikap berterimakasih cukup untuk membuat anak-anak mengikuti norma sosial tentang balas budi.

Pada akhirnya, kesimpulannya tidak begitu buruk. Rasa dendam mungkin muncul lebih alami daripada rasa berterima kasih, tapi sikap berterimakasih bisa dipelajari.

Mungkin itulah alasan mengapa ada banyak dongeng tentang balas budi seperti “Androcles and the Lion” bukan karena perilaku itu muncul secara alami. Namun, karena kita butuh untuk mempelajari balas budi.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa inggris

This article was originally published in English