Jangan biarkan remaja tenggelam dalam kesendirian. www.shutterstock.com/iphotosmile

Bahaya ide bunuh diri pada remaja bila terlambat ditangani

Ita (nama samaran) adalah seorang remaja perempuan 14 tahun yang duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama tahun ini. Dua bulan terakhir, dia seringkali tidak mau diajak untuk belajar dalam kelompok. Ita merasa malas dan tidak semangat belajar. Ia lebih banyak termenung dan merasa hampa hampir setiap hari.

Di kelas, Ita menjadi mudah tersinggung, kemudian menangis seorang diri, marah, dan menentang gurunya. Ita merasa teman-temannya menjauhinya dan tidak menyukai dirinya. Dia juga tidak mampu berkonsentrasi dan nafsu makannya menurun drastis. Dalam satu bulan terakhir berat badannya susut tiga kilogram. Ia ingin bercerita kepada teman dan gurunya tapi khawatir mereka menganggap ia gila. Dalam keputusasaan tersebut Ita berpikir lebih baik mati saja karena tidak tahu harus berbuat apa.

Beruntung, Ita tidak jadi bunuh diri.

Kondisi remaja di atas menggambarkan perasaan dan pikiran seorang remaja dengan gangguan depresi yang disertai dengan keinginan bunuh diri. Masalah ini cukup sering dijumpai pada remaja saat ini tapi jarang terdeteksi. Depresi pada remaja perlu mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua dan sekolah. Jika terabaikan kondisi tersebut dapat berujung maut. Berita tentang remaja bunuh diri mudah kita temukan di media massa.

Depresi remaja

Penelitian saya dan kolega pada 2018 menunjukkan bahwa 6,82% dari sekitar 2.900 remaja sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta dan sekitarnya memiliki ide-ide untuk bunuh diri, dan 2,47% di antaranya pernah mencoba tindakan bunuh diri. Belum diketahui secara spesifik rasio antara perempuan dan laki-laki.

Dalam penelitian saya dan kolega yang baru-baru ini dipublikasikan menunjukkan remaja perempuan yang mengalami cyberbullying lebih rentan untuk melukai diri sendiri. Remaja perempuan yang bertindak sebagai pelaku sekaligus korban cyberbullying juga lebih berisiko untuk memikirkan serta berupaya bunuh diri.

Publikasi lain menegaskan bahwa remaja rentan terhadap depresi. Kondisi ini dapat terjadi pada sekitar 5% remaja atau satu dari 20 remaja mengatakan bahwa mereka pernah mengalami paling sedikit satu episode depresi dalam hidup mereka. Situasi tersebut membuat gangguan depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang cukup sering ditemukan pada remaja. Di samping itu, remaja perempuan juga dilaporkan lebih berisiko untuk mengalami gangguan ini dibandingkan dengan remaja laki-laki dengan rasio 2:1.

Namun sayangnya gejala-gejala depresi seperti kehilangan minat, perasaan sedih yang berkelanjutan dan keluhan-keluhan fisik seringkali kali dipikirkan sebagai gangguan fisik sehingga diagnosis depresi seringkali terlambat dilakukan.

Di Indonesia, belum ada data nasional mengenai angka kejadian depresi pada remaja. Data ini penting karena depresi meningkatkan risiko remaja untuk bunuh diri.

Depresi pada remaja juga bisa berdampak buruk terhadap fungsi sehari-hari seperti belajar serta meningkatkan risiko untuk menyalahgunakan obat. Ini mungkin terjadi karena kemampuan remaja untuk membuat keputusan seringkali terganggu.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa depresi, ide-ide bunuh diri dan tindakan bunuh diri merupakan masalah yang serius dan perlu ditangani dengan optimal. Riset-riset mengenai depresi pada remaja di Indonesia belum banyak dilakukan terutama yang berkaitan dengan penyebab atau latar belakang terjadinya gangguan depresi atau bunuh diri pada remaja.

Namun dapat saya katakan bahwa terjadinya gangguan depresi pada remaja merupakan suatu interaksi yang kompleks antara faktor biologis (otak) dan faktor psikososial.

Penanganan depresi

Penanganan depresi pada remaja pada umumnya dengan pendekatan biopsikososial yang meliputi psikoedukasi, psikoterapi individual dan keluarga serta pemberian obat golongan antidepresan.

Pada remaja dengan depresi ringan pada umumnya diberikan psikoedukasi kepada orangtua terkait dengan gejala dan intervensi depresi yang ada dan latar belakang terjadi depresi pada remaja. Langkah ini untuk membantu orangtua untuk memahami dinamika remaja dengan menelusuri perkembangan remaja secara spesifik sehingga bisa menjalin relasi emosi yang lebih tepat.

Sedangkan intervensi pada remaja yang mengalami depresi ringan pada umumnya diberikan psikoterapi suportif yaitu mendukung maturitas (kematangan) perkembangan ego remaja dengan memberikan berbagai gambaran dan pemikiran yang lebih positif terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Modifikasi lingkungan juga dapat dimanfaatkan dalam membantu mengurangi gejala depresi pada remaja, misalnya menurunkan ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga dengan menciptakan lingkungan keluarga yang lebih kondusif.

Dalam proses tata laksana tersebut, sesi pertemuan dapat dilakukan beberapa kali sampai remaja dapat mengatasi perasaannya dan gejala depresinya mereda.

Selain itu, remaja juga dibimbing untuk mendapatkan pola keterampilan adaptasi yang lebih tepat dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan sehingga mampu mengatasi berbagai tantangan kehidupan pada masa depan. Psikoterapi suportif juga membantu remaja untuk melakukan refleksi sehingga bisa belajar dari berbagai pengalaman masa lalu untuk menyusun berbagai strategi penyesuaian diri yang lebih baik pada masa depan.

Jika depresi berkembang menjadi lebih berat maka tata laksana yang diberikan juga meliputi obat golongan antidepresan dan psikoterapi yang lebih bersifat re-edukatif berupa terapi kognitif-perilaku. Obat golongan antidepresan dapat membantu mengurangi gejala depresi oleh karena cara kerja obat yang lebih selektif pada neurokimiawi otak yaitu serotonin, dopamine dan juga nor-epinefrin.

Obat antidepresan dianjurkan untuk dikomsumsi selama 6–12 bulan untuk mengurangi frekuensi kambuhan yang mungkin terjadi. Obat golongan tersebut pada umumnya tidak menimbulkan ketergantungan tapi dikatakan memiliki beberapa efek yang tidak menyenangkan misalnya mual, perasaan tidak nyaman di lambung serta sakit kepala dan beberapa gejala lain dengan persentase yang kecil. Namun gejala-gejala tersebut hanya bersifat sementara dan menghilang dalam beberapa hari setelah obat dikonsumsi.

Pemberian terapi kognitif perilaku bersama dengan pemberian obat antidepresan dilaporkan dapat memperbaiki gejala depresi sebesar 71% dalam waktu 12 minggu pertama. Dengan demikian, untuk remaja dengan depresi sedang dan berat, maka kombinasi ke dua intervensi tersebut merupakan pilihan utama.

Promosi dan prevelensi

Hal yang lebih penting adalah program yang mencegah terjadinya depresi itu sendiri, yaitu memperkuat faktor protektif, melindungi remaja agar tidak mudah menjadi depresi, serta menurunkan faktor risiko pada remaja. Tujuan program tersebut adalah mendukung remaja untuk memiliki kemampuan resiliensi yang lebih baik sehingga mereka mampu beradaptasi dan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan saat ini yang kompleks dan penuh dengan persaingan.

Program Mental Health Gap Action Program (mhGAP) dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) merupakan suatu program berbasis bukti untuk profesional kesehatan non-spesialistik (seperti doktor umum dan guru bimbingan konseling) agar mereka dapat mengidentifikasi berbagai permasalahan kesehatan jiwa remaja. Program ini juga dapat digunakan untuk menentukan prioritas penanganan sesuai dengan kebutuhan.

Depresi pada remaja merupakan suatu kondisi yang perlu dicermati karena angka kejadian yang cukup tinggi di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Penanganan kondisi tersebut memerlukan kerja sama yang komprehensif antara berbagai profesi kesehatan jiwa remaja seperti psikiater anak-remaja, psikolog klinis perkembangan, guru dan juga melibatkan orangtua.

Kita sangat berharap remaja dapat melalui fase depresi dengan cepat dan kembali beraktifitas sebagaimana remaja seusianya serta menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.