Detik-detik menunggu Gerhana Bulan 28 Juli, ini kisah proses Bulan terbentuk

Astronot berdiri di atas permukaan Bulan membelakangi Bumi di belakangnya. Dima Zel/Shutterstock

Detik-detik menunggu Gerhana Bulan 28 Juli, ini kisah proses Bulan terbentuk

Gerhana Bulan Total yang akan berlangsung pada Sabtu dinihari, 28 Juli 2018, akan menjadi gerhana Bulan terlama pada abad ke-21. Gerhana yang bisa dilihat dari seluruh Indonesia itu diperkirakan akan berlangsung lebih dari 6 jam, dengan durasi gerhana total selama 1 jam 43 menit.

Fenomena ini unik karena bulan saat itu berada hampir pada titik terjauhnya (apogee) di dalam orbit yang berbentuk elips, sehingga ukuran Bulan relatif menjadi lebih kecil saat memasuki bayangan Bumi.

Perubahan ukuran relatif ini berdampak pada lamanya waktu Bulan untuk keluar dari bayangan Bumi secara keseluruhan. Fenomena yang tidak terjadi setiap saat dan hanya bisa diamati dari sudut tertentu di permukaan Bumi ini membuat gerhana bulan kali akan sangat dinanti dan menjadi perhatian banyak orang.

Anatomi saat terjadi gerhana bulan. Bob King-Starry Night/Skyandtelescope

Di luar penjelasan sains, banyak mitos yang berkaitan dengan bagaimana gerhana Bulan terjadi dan mitos itu masih hidup di masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat percaya pada mitos bahwa fenomena gerhana Bulan bisa terjadi karena beberapa hal seperti:

  1. Bagian Bulan yang hilang diyakini dimakan oleh raksasa atau makhluk gaib lainnya. Karena itu, saat terjadi gerhana bulan, sebagian masyarakat di Jawa memukul kentongan dan lesung berkali-kali sebagai tanda untuk mengusir raksasa tersebut.
  2. Raksasa hanya menyimpannya dalam mulut, saat semuanya masuk maka gerhana Bulan total terjadi. Dan saat dimuntahkan kembali, maka Bulan akan bercahaya seperti biasa.
  3. Gerhana Bulan terjadi karena pertikaian antara Matahari dan Bulan, dan kita yang menyaksikan dianggap sedang melerai pertengkaran tersebut.
  4. Gerhana Bulan sering diikuti bencana alam lainnya, sehingga sering ditafsirkan sebagai akhir zaman.

Masih banyak mitos lainnya dan larangan berbau mitos seperti perempuan hamil tidak boleh keluar rumah saat gerhana Bulan terjadi.

Penjelasan sains

Sains memberikan penjelasan tentang gerhana berdasarkan riset-riset ilmiah. Saat Bumi berada dalam garis lurus di antara Matahari dan Bulan, maka saat itulah Bumi menghalangi sinar Matahari. Bulan gagal memantulkan sinar Matahari sehingga meninggalkan bayangan gelap di permukaan Bulan dan kita menyebutnya dengan Gerhana Bulan.

Fenomena sesaat penampakan Bulan dari tertutup sebagian hingga berubah total menjadi gelap lebih menawarkan sajian visual yang menarik sekaligus memanjakan mata yang bisa disaksikan secara langsung.

Tidak seperti gerhana Matahari yang perlu peralatan atau kaca mata khusus untuk mengamatinya, keunikan gerhana Bulan bisa diamati dengan mata telanjang dengan satu syarat, langit cerah pada malam itu.

Posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang berada dalam satu garis lurus menyebabkan gaya tarikan pada bagian Bumi tertentu. Karena itu, terkadang ada gejala geologi atau fenomena alam ikutan seperti gempa bumi, ombak pasang, dan bahkan gunung api meletus bersamaan dengan gerhana Bulan seperti terjadi di Cina pada era 1700-an. Sederhananya, dalam keadaan kritis maka perubahan tarikan bertanggung jawab terhadap fenomena ikutan tersebut.

Bagaimana Bulan terbentuk?

Cerita panjang bagaimana terjadinya gerhana bulan lebih populer dibanding bagaimana cerita Bulan terbentuk. Padahal dalam sains, proses pembentukan Bulan tidak kalah menariknya dengan kisah Gerhana Bulan Total.

Ilmuwan mempunyai beberapa teori pembentukan Bulan. Salah satunya saya jelaskan di bawah ini.

Bulan merupakan salah satu benda langit yang telah menjadi objek penelitian para ilmuwan dari berbagai negara sejak empat dekade yang lalu. Dari Bumi dibutuhkan hanya 4 hari bagi pesawat penjelajah ruang angkasa untuk mencapai Bulan.

Hingga tahun 2015 setidaknya sudah tercatat lebih dari 100 kali misi penelitian di bulan dan 42 di antaranya berhasil mendarat di sana dan membawa sejumlah sampel dari Bulan untuk diteliti di laboratorium di bumi.

Bulan adalah benda langit yang mengelilingi Bumi. Bulan tidak memancarkan cahaya sendiri. Saat malam hari, Bulan bisa bersinar karena memantulkan cahaya dari Matahari. Sebenarnya, hanya sebagian permukaan Bulan yang memantulkan cahaya dari Matahari.

Bulan memiliki diameter 3.474 kilometer, memiliki massa 0.167 Massa Bumi, dengan waktu orbit 27,32 hari, berjarak 385.000 km atau sekitar 239.227 mil. Untuk mengelilingi Bumi sekali, Bulan membutuhkan waktu 29 hari 12 jam.

Lebih dari empat dekade, para ilmuwan meyakini bahwa sekitar 4,5 miliar tahun lalu, sebuah objek langit berukuran sebesar Mars menyerempet Bumi dengan kecepatan rendah. Objek langit ini mengambil sebagian massa padat di Bumi yang kemudian menjadi cikal bakal Bulan dan meninggalkan tempat untuk bergerak bagi lempeng-lempeng yang ada di permukaan Bumi.

Di sini cerita perjalanan tektonik lempeng dimulai. Ruang kosong yang ditinggalkan oleh objek langit yang seukuran Mars itu membuat lempeng bergerak leluasa di atas astenosfer, bergerak saling mendekat, menjauh atau sekadar berpapasan. Pergeseran ini menghasilkan palung, pegunungan tengah samudra, pegunungan, atau patahan seperti patahan San Andreas.

Sejak pendaratan pesawat luar angkasa pertama Luna 2 pada 1959, sejumlah catatan menyebutkan pendaratan dengan sempurna baru bisa dilakukan pada 1966, saat morfologi bulan sudah lebih banyak diketahui. Dan baru tiga tahun kemudian tepatnya 1969, misi luar angkasa Apollo 11 berhasil mengirim dua astronot dan kembali ke Bumi dengan selamat.

Sejak saat itu para ilmuwan secara intensif mengkaji dan meneliti ulang sampel yang diperoleh dari misi luar angkasa yang dilakukan pada era 1970-an.

Rekaman isotop batuan yang ada di Bulan hampir sama dengan hasil penelitian sebelumnya, kecuali satu, Heavy Potassium Isotope atau isotop dengan kandungan potasium yang tinggi. Isotop ini dimanfaatkan oleh ilmuwan untuk menceritakan bagaimana pecahan 4,5 miliar tahun yang lalu tersebut memisah dari Bumi. Isotop dengan kandungan potasium yang tinggi mengindikasikan diperlukan suhu yang sangat tinggi untuk memisahkan pecahan cikal bakal Bulan tersebut dari Bumi.

Skenario baru pun diusulkan, violent collision atau tumbukan dasyat telah terjadi antara objek langit berukuran sebesar Mars dengan Bumi menciptakan temperatur yang sangat ekstrem panas. Suhu ini menghasilkan kabut asap yang mengembang hingga 500 kali ukuran Bumi, kemudian mendingin, menggumpal, dan menghasilkan Bulan seperti sekarang.

Struktur dan Komposisi Interior Bulan. Encyclopedia Britannica

Rangkaian panjang pembentukan Bulan kini menyisakan interior yang unik, berturut-turut dari dalam keluar: Inti Dalam memiliki ketebalan 500 kilometer dengan suhu 1300 Celsius, diselimuti oleh Inti Luar yang memiliki ketebalan 700 km, yang sisanya kemudian disusul oleh Mantel Bawah, Mantel Luar, dan Kerak.

Saat ini pengamatan dan penelitian mengenai benda langit termasuk Bulan makin intensif dilakukan. Batuan dari Bulan kini sedang “diperas”, berharap rahasia lain tentang Bulan segera terungkap. Dan tentu saja mengungkap rahasia tentang Bulan tidak semudah menyaksikan Gerhana Bulan Total yang akan terjadi Sabtu dinihari nanti.

Give now and double the power of your support. Dollar for dollar doubled by NewsMatch.