Di 2018 ini, Anda mungkin ingin berpikir ulang tentang monogami

Apakah definisi monogami yang terlalu ketat melemahkan hubungan Anda? Penelitian menunjukkan pasangan mengharapkan ekslusivitas, dan perselingkuhan tetap menjadi penyebab perceraian terbesar. shutterstock.com

Di 2018 ini, Anda mungkin ingin berpikir ulang tentang monogami

Monogami sulit dijaga. Tentunya, cukup mudah ketika dalam hidup Anda tidak ada godaan. Namun kecuali Anda dan pasangan Anda hidup terasing dalam sebuah pondok di hutan, tidak ada jaminan bahwa “orang lain” yang menawan tidak akan muncul—menggoda Anda dan menantang kesucian hubungan Anda.

“Tidak akan pernah,” pikir Anda “Bukan saya. Saya mencintai pasangan saya. Segalanya masih sangat segar. Dan saya akan kehilangan banyak hal bila selingkuh.”

Ya, tentu. Namun, riset menunjukkan bahwa niat terbaik kita sering kali tidak berarti di hadapan ketertarikan yang kuat dan mungkin tak terduga terhadap orang lain—yang berniat menjalin hubungan dengan kita. Mereka yang melaporkan memiliki hubungan di luar pernikahan mengatakan bahwa itu adalah seorang teman dekat, rekan kerja atau kenalan lama; cenderung bukan orang asing sembarangan.

Terlebih, tindakan perselingkuhan sering kali dipahami sebagai “kesalahan pamungkas” dalam hubungan. Dan hanya sedikit orang yang lebih dibenci daripada mereka yang ketahuan “main serong”. Film, lagu dan karya sastra penuh dengan cerita yang melukiskan pembalasan mengerikan yang dipercaya menimpa mereka yang berselingkuh.

Terlepas dari semua ini, studi menunjukkan bahwa faktanya, kebanyakan orang pernah terlibat dalam beberapa macam perselingkuhan di masa lalu atau pernah mengalami ketidaksetiaan pasangan.

Kemudian, pertanyaan pun mengemuka: Apakah ini saatnya untuk melenyapkan, atau berpikir ulang, monogami sebagai sebuah standar?

Ekspektasi optimis

Riset menunjukkan bahwa kebanyakan orang mengharapkan eksklusivitas romantis maupun seksual pada tahap dini dalam hubungan mereka, dan bahwa mereka menolak perselingkuhan.

Wawancara dengan pasangan yang baru menikah di Amerika Serikat menunjukkan bahwa banyak orang berharap mereka dan pasangan mereka akan tetap dalam monogami, meski mengakui bahwa mereka sebelumnya pernah memiliki berbagai pikiran dan perilaku di luar pernikahan, seperti menggoda seseorang atau merasa terangsang dengan kehadiran seseorang.

Semua negara maju, bahkan yang mengaku memiliki keyakinan yang lebih toleran soal pentingnya eksklusivitas, melaporkan bahwa monogamy adalah pola dominan dalam masyarakat mereka.

Apakah rasa cemburu dan curiga merusak hubungan monogamy Anda? shutterstock.com

Meski ada ketidaksetujuan universal yang kuat terhadap perselingkuhan, dan meski ada banyak optimisme, studi menunjukkan bahwa tahun demi tahun, perselingkuhan tetap menjadi penyebab utama putusnya hubungan dan perceraian.

Sekarang, bila Anda memperhitungkan penderitaan, rasa tidak percaya dan perselisihan yang disebabkan oleh perselingkuhan terhadap hubungan yang tetap bertahan, Anda mulai memahami beban konsekuensinya.

Berfantasi tentang kekasih selebritas?

Apakah monogami beralasan? Dapatkah kita bahkan mendamaikan kemustahilan menghabiskan hidup kita (atau bertahun-tahun dari hidup kita) dengan seorang pasangan tanpa pernah tertarik pada orang lain?

Bisakah kita mengakui bahwa pasangan kita mungkin tidak memenuhi kebutuhan kita sepanjang waktu? Bahwa kita bisa mengalami ketertarikan pada orang lain tanpa menyerahkan hak kita sepenuhnya atas hubungan yang penuh cinta dan hormat, atau tanpa harus berpikir untuk kabur bersama orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini lebih memilukan dalam sorotan penelitian yang mengindikasikan bahwa hubungan yang intim makin tidak membahagiakan seiring waktu bahkan ketika ekspektasi kita terhadap suatu hubungan terus meningkat.

Penyanyi Adam Levine adalah salah satu selebritas yang paling diimpikan. (Shutterstock)

Di kebanyakan negara Barat, keyakinan terhadap pentingnya monogami itu kuat, tapi relatif sedikit individu yang benar-benar berdiskusi dengan pasangannya soal apa saja yang harus menyertai monogami.

Apakah menggoda mantan di dunia maya yang tidak akan pernah Anda temui lagi itu “serong”? Apakah berfantasi tentang seorang selebriti berarti tidak setia kepada Satu-satunya Cinta Sejati Anda?

Alatnya adalah kecemburuan dan kecurigaan

Serangkaian penelitian oleh psikolog Ashley Thompson memperjelas bahwa kita utamanya tidak konsisten dalam standar monogami yang kita pegang untuk diri kita sendiri, dengan apa yang kita pegang untuk pasangan kita. Sebagai contoh, kita jauh lebih lunak dan toleran dalam menjelaskan perilaku kita sendiri ketimbang perilaku pasangan kita.

Mereka yang mendukung pendekatan alternatif—seperti “non-monogami konsensual” yang memungkinkan hubungan romantis atau seksual di luar hubungan utama, dengan persetujuan pasangan—berpendapat bahwa hubungan monogami jauh kurang stabil karena orang menggunakan kecemburuan, pemantauan dan kecurigaan sebagai alat untuk menahan pasangan mereka pada standar sulit ini.

Individu yang seharusnya berada dalam hubungan monogami juga lebih besar kemungkinannya mempraktikkan hubungan seksual yang tidak aman ketika mereka berselingkuh (menempatkan kesehatan pasangan utama mereka dalam risiko) daripada mereka yang berada dalam hubungan non-monogami konsensual. Dan pertanyaan pun mengemuka tentang apakah Anda benar-benar mempraktikkan “monogami” bila Anda eksklusif dari satu hubungan ke hubungan lain—yakni, mereka yang berganti pasangan utama setelah beberapa tahun saja.

Menulis ulang dongeng

Untuk membahas soal apa-apa yang dapat memutus hubungan, penting bagi sepasang individu untuk mendefinisikan apa yang merupakan pengkhianatan, pelanggaran kepercayaan atau tindakan yang tidak jujur.

Merundingkan pedoman dengan pasangan Anda bisa membantu Anda berdua berada dalam pemikiran yang sama, tentang jenis dan ekspresi hubungan seperti apa dengan orang lain yang bisa diterima.

Bila sepasang individu bisa merencanakan sebelumnya mengenai kemungkinan bahwa salah satu atau kedua individu mungkin memiliki momen intim dengan orang lain pada suatu titik, ini bisa memperkuat fleksibiltas, toleransi dan pemaafan yang diperlukan untuk menyelesaikan, seandainya hal tersebut terjadi.

Tentu saja, semua itu tergantung situasinya, tapi menerima bahwa orang lain mungkin menawarkan sesuatu yang kita atau pasangan kita butuhkan bisa membantu pasangan untuk melewatinya dan berunding bila diperlukan, tanpa kehancuran hubungan yang menyeluruh.

Inilah kuncinya: Bila kita bisa mengakui pada diri sendiri bahwa ketertarikan sekilas, atau hubungan yang lebih berarti dengan pasangan lain mungkin tidak merusak hubungan asmara kita—dan alih-alih bisa melengkapinya—maka hubungan kita bisa bertahan lebih lama dan lebih baik.

Sebuah sudut pandang baru membutuhkan kesediaan untuk mengganti dongeng —bahwa satu orang bisa selamanya memenuhi semua kebutuhan emosional, romantis dan seksual Anda.

Makan siang OK, sentuhan tidak

Ini mungkin tidak mudah bagi sebagian besar kita. Bayangan bahwa pasangan perhatiannya tertarik dengan oleh orang lain bisa memicu rasa panik pada orang yang paling teguh dan percaya diri. Namun bersikeras pada standar yang tidak masuk akal (eksklusivitas seumur hidup atau putus!) sebenarnya bisa menyimpan kemungkinan akan rahasia dan pengkhianatan.

Berundinglah dengan pasangan Anda dan buat pedoman seperti ‘Makan siang OK, sentuhan tidak. shutterstock.com

Titik berat dalam hubungan selalu memerlukan keterbukaan, perhatian dan persetujuan bersama.

Menyetujui cara pandang baru mengenai ekslusivitas bukan berarti bahwa Anda atau pasangan Anda akhirnya akan berhubungan secara intim dengan orang lain dalam cara apa pun. Juga tidak berarti bahwa Anda harus setuju bahwa “apapun terjadilah”, bahwa hubungan Anda menjadi hubungan terbuka dalam arti luas istilah tersebut, atau bahwa siapa pun bisa memasuki area privat Anda.

Adalah bijak untuk merundingkan beberapa pedoman dengan pasangan Anda—tentang siapa atau tipe orang seperti apa yang mungkin diundang masuk ke area tersebut, untuk sesaat atau lebih lama, dan cara seperti apa yang mungkin bisa diterima untuk berhubungan dengan orang lain (misalnya makan siang OK, sentuhan tidak), saat kebutuhan atau keinginan itu muncul.

Bila Anda juga mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk membicarakannya, pendekatan ini bisa menjaga hubungan Anda tetap jujur, transparan dan penuh rasa saling percaya.

This article was originally published in English