Otak tidak cukup baik dalam memproses besar ukuran dan jarak secara bersamaan. Shutterstock

Di balik ilusi visual–dari alam hingga desain arsitektur

Ilusi optik dirancang secara cerdik untuk mengubah gambaran realitas, tapi apakah Anda tahu bahwa distorsi yang sama sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari?

Kemampuan kita untuk melihat melibatkan otak memproses data sensorik mentah ke dalam bentuk visual yang sempurna. Proses ini ada alasannya, mereka didesain untuk membantu kita bertahan hidup.

Namun dalam proses ini otak melakukan kegiatan menebak-nebak yang cukup banyak. Dan sementara otak kita telah berevolusi untuk menebak dengan benar dalam sebagian besar waktu, beberapa pola tertentu secara reguler menjebak tebakan visual. Saat itulah kita mungkin melihat sebuah ilusi optik.

Pola-pola ini dapat memiliki efek ilusi yang sama, baik di buku ilusi optik, maupun dalam perjalanan ke stasiun kereta.

Objek yang tak terlihat

Kiri: Richard L Gregory. Kanan: Jim Mullhaupt. Jim Mullhaupt/flickr

Banyak bercak yang acak kadang-kadang dapat diartikan sebagai objek visual yang rumit, seperti yang ditunjukkan dalam ilusi klasik di sebelah kiri. (Masih belum terlihat? Terus cari! Anda mungkin melihat anjing Dalmatian sedang mengendus-endus tanah).

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan untuk membedakan objek membantu kita mengetahui apa yang ada di sekitar kita di saat terdapat bagian-bagian pemandangan yang tertutup atau dalam buruknya penerangan.

Tapi, pola visual yang terjadi secara kebetulan juga dapat memicu sistem di otak, menyebabkan kita melihat objek yang sudah dikenal di tempat yang sangat aneh-seperti penampilan wajah di awan (gambar kanan).

Dimensi yang terdistorsi

Kiri: Ponzo Illusion. Kanan: LivioAndronico (2013) wikimedia commons

Dua garis horizontal dalam Ilusi Ponzo (gambar kiri) sebenarnya memiliki panjang yang sama, tapi bagi kebanyakan orang, garis bawah tampak lebih pendek. Ilusi ini bekerja dengan menggunakan dua garis yang saling bergerak mendekati untuk membentuk tampilan garis paralel yang memanjang ke kejauhan (lintasan kereta sering memberikan tampilan ini).

Karena otak mengartikan garis atas berada di daerah yang lebih jauh, maka otak menilai bahwa garis itu harus lebih panjang dari ukuran yang sebenarnya, sehingga penampilan garis tampak lebih besar.

Ukuran dan jarak adalah dua parameter yang sulit bagi otak untuk bekerja pada saat yang bersamaan–bola besar yang terlihat dari jauh memiliki ukuran yang persis sama dengan bola kecil yang dilihat dari dekat. Otak bergantung pada banyak sinyal yang berbeda untuk menyelesaikan masalah ini, dan biasanya dapat melakukannya cukup baik. Tapi bisa membuat kesalahan jika konteksnya salah dipahami.

Prinsip ini telah dipelajari oleh para desainer selama berabad-abad, seperti yang terlihat dalam contoh klasik arsitektur roman ini (gambar kanan). Di sini, para desainer kuno meletakkan patung berukuran kecil (tinggi 60cm) di ujung koridor (pada jarak 9m) di Palazzo Spada.

Karena kita terbiasa melihat bentuk manusia dalam ukuran manusia, pengunjung berasumsi bahwa patung itu harus seukuran dengan manusia dan berada di jarak yang jauh, sehingga memberi kesan bahwa lorong itu jauh lebih panjang daripada yang sebenarnya.

Garis-garis yang ramping

Kim Ransley (2019)

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa benda-benda yang bergaris-garis mungkin tampak lebih lebar atau lebih tinggi daripada sebenarnya, meski para ilmuwan belum sepenuhnya menjelaskan mengapa otak menghasilkan distorsi semacam ini.

Ilusi Helmholtz (gambar kiri) ditunjukkan dari dua persegi di atas. Banyak orang melaporkan bahwa persegi dengan garis-garis vertikal tampak terlalu lebar, dan persegi dengan garis-garis horizontal tampak terlalu tinggi.

Efeknya juga berlaku untuk pakaian, dengan beberapa penelitian sekarang menunjukkan bahwa atasan atau gaun dengan garis-garis horizontal dapat membuat pemakainya tampak lebih ramping daripada gaun yang sama dengan garis-garis vertikal (gambar kanan).

Sayangnya, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa efek ini mungkin bergantung pada pemakainya. Semakin besar pemakainya, semakin kecil kemungkinan ilusinya untuk berhasil.

Seperti yang bisa kita lihat, pengalaman kita bisa berbeda dari kenyataan sebenarnya dalam banyak cara. Terlebih lagi, kemungkinan bahwa ilusi visual yang kita tidak sadari jauh lebih banyak daripada yang disadari.

Dengan memahami proses di otak, kita dapat memprediksi pengalaman sensorik dengan lebih baik, dan menggunakannya untuk merancang berbagai hal dengan keunggulan fungsional dan bentuk yang menarik.

Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Muhammad Gaffar.

This article was originally published in English