Duet Nadiem Makarim dan Bambang Brodjonegoro: andalan Jokowi untuk wujudkan riset kelas dunia

Tugas berat merevolusi pendidikan tinggi menanti Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Shutterstock

Presiden Joko “Jokowi” Widodo baru saja mengumumkan susunan kabinet untuk periode 2019-2024. Kali ini, Jokowi menamainya Kabinet Indonesia Maju.

Untuk urusan riset dan pendidikan tinggi, Jokowi memutuskan untuk tidak lagi menggabungnya dalam satu unit kementerian - sebelumnya di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Urusan pendidikan tinggi sekarang dikembalikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Jokowi menunjuk pendiri Gojek, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Sedangkan Bambang Brodjonegoro, mantan Menteri Keuangan dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada kabinet Jokowi periode pertama, didaulat menjadi Menteri Riset dan Teknologi dan juga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Jokowi sepertinya ingin bereksperimen dengan mengkombinasikan seorang yang benar-benar tidak punya pengalaman birokratis di pemerintahan dengan seorang birokrat berpengalaman.

Selain itu, Jokowi tampaknya berjudi dengan menjodohkan Nadiem dengan Bambang dalam sebuah misi tidak mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan riset nasional.

Kami menanyakan para ahli untuk menjelaskan bagaimana mereka membaca penunjukan Nadiem dan Bambang, serta tantangan yang dihadapi keduanya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan riset di Indonesia.


Read more: Jokowi tunjuk Nadiem Makarim jadi Mendikbud: pentingnya libatkan pendiri Gojek untuk urai birokrasi pendidikan


Nadiem, perjudian yang menarik

Fajri Siregar - Kandidat doktor antropologi dan sejarah sains di University of Amsterdam

Secara keahlian, sebenarnya Nadiem sangat tidak sesuai dengan area perannya yaitu pendidikan, tapi apabila mempertimbangkan tujuan Jokowi bisa jadi masuk akal.

Jokowi memilih Nadiem karena beliau ingin mendorong agar pendidikan bisa selaras dengan masyarakat digital, perkembangan teknologi, dan juga kebutuhan pasar.

Nadiem dengan latar belakang bisnis pasti bisa mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul dan sesuai kebutuhan pasar. Nadiem dianggap lebih paham seperti apa SDM yang dibutuhkan.

Penunjukan beliau perlu diapresiasi karena ini terobosan. Tapi, wajar apabila masyarakat kritis dan skeptis karena kita tidak boleh lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal kerja dan lapangan pekerjaan.

Bisa dibilang, penunjukkan Nadiem ini adalah perjudian yang menarik.

Dengan pemisahan riset dengan pendidikan tinggi, ada kemungkinan terjadi ketidak-konsistenan perencanaan maupun implementasi program. Lima tahun terakhir keduanya bidang digabung dalam satu kementerian dengan tujuan untuk mendekatkan sektor industri dan bisnis dengan pendidikan tinggi. Harapannya riset-riset yang dilakukan bisa lebih sesuai dengan kebutuhan pembangunan.

Jadi, mungkin sekarang yang dikejar adalah kesinambungannya dalam hal muatan pendidikannya.

Untungnya Kemenristek dipimpin Pak Bambang. Beliau sudah tahu tentang rencana pembangunan dan juga riset yang harus diprioritaskan untuk mencapai misi pembangungan. Hal ini mudah-mudahan menjadikan segalanya lebih efisien.

Beliau juga akan memimpin BRIN yang kita juga masih menunggu bentuknya seperti apa.

Namun pengalaman beliau di lingkup eksekutif selama 5 tahun terakhir semoga mempercepat dan menyelaraskan agenda riset dengan agenda pembangunan.

Saya berharap Pak Bambang bisa mempercepat realisasi rencana Dana Abadi Riset karena beliau paham masalah perencanaan keuangan, perencanaan pembangunan, dan tantangan yang dihadapi dunia riset.

Mudah-mudahan beliau dapat meningkatkan koordinasi antar lembaga, membuat perencanaanya lebih efektif, termasuk penyederhanaan skema perencanaan pendanaan riset.

Perguruan tinggi berbasis inovasi

Chairil Abdini - Pengajar kebijakan publik di Universitas Indonesia, dan Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)

Bambang Soemantri Brojonegoro adalah seorang ekonom yang sangat memahami pentingnya riset, teknologi dan inovasi bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Sejak menjabat sebagai menteri keuangan di periode pertama Presiden Jokowi, beliau memberikan perhatian yang tinggi terhadap riset dan penguasaan teknologi.

Beliau mendukung dibentuknya Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) sebagai lembaga independen pendanaan riset. Kini DIPI sudah menjalin kerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam pendanaan kolaborasi riset antara peneliti Indonesia dan dunia.

Semula, tujuan penggabungan urusan pendidikan tinggi ke dalam Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dilakukan agar terjadi keterkaitan yang erat antara perguruan tinggi dan kegiatan riset sehingga bisa melahirkan universitas berbasis riset.

Bahkan, harapannya lebih jauh lagi yaitu membentuk universitas yang membangun jiwa entrepreneurship dengan mengaitkan perguruan tinggi dan pengembangan inovasi seperti di Stanford University, MIT, dan Harvard University di Amerika Serikat.

Sayangnya, dalam perjalanannya ekosistem penggabungan ristekdikti belum mampu bersinergi karena kebijakan dan program ristek dan dikti diatur oleh ketentuan perundang-undangan secara terpisah termasuk ketentuan penganggarannya.

Penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang membawahi pendidikan tinggi diharapkan mampu mendorong tumbuhnya universitas yang mengembangkan jiwa entrepreneurship.

Nadiem tentunya memiliki bekal dan memahami betul ekosistem riset dan inovasi di tempat beliau studi di Harvard.

Kedepannya, paling tidak ada 5 hal yang perlu diperhatikan Nadiem dan Bambang dalam memajukan kualitas pendidikan dan riset Indonesia.

  1. Meningkatkan keahlian peneliti dan guru besar.
  2. Mewujudkan akses yang terbuka terhadap pengetahuan.
  3. Membuka rekrutmen dosen dan peneliti terbaik dari negara lain.
  4. Mewujudkan otonomi perguruan tinggi agar lebih fleksibel dalam mengelola pendidikan tinggi dan penelitian.
  5. Menumbuhkan budaya kompetisi tidak hanya dalam rekrutmen dosen dan peneliti tetapi juga dalam memperoleh pendanaan riset termasuk membuka kehadiran perguruan tinggi asing di Indonesia.

Mewujudkan pendanaan berkelanjutan

Berry Juliandi - Peneliti biologi di Institut Pertanian Bogor, dan Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI)

Pemisahan urusan pendidikan tinggi dari Kemenristekdikti dan kembali pada Kemendikbud diharapkan mampu memperkuat ekosistem riset di Indonesia.

Kemenristek bisa fokus pada pencarian, penguasaan dan pengembangan sains serta penerapannya.

Sedangkan Kemendikbud bisa lebih fokus pada peran pemberdayaan proses pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia terutama talenta mereka.

Pak Bambang sendiri adalah seorang akademisi dan birokrat yang mumpuni.

Beliau sudah sangat paham seluruh lanskap ekosistem riset di Indonesia. Pengalamannya sebagai menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) pada kabinet Jokowi periode sebelumnya akan membantunya membuat kebijakan yang holistik dan bisa diimplementasikan.

Pengalamannya sebagai menteri keuangan juga akan sangat membantu pengelolaan dana penelitian terutama dana abadi. Koordinasi penyaluran dana yang melibatkan dua kementerian diharap berjalan lancara karena pengalamannya di kementerian keuangan.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi Pak Bambang dan Nadiem adalah pembenahan ekosistem riset.

Proses pembenahan itu termasuk pengembangan lembaga-lembaga riset dan pemberdayaan aktor-aktornya juga perbaikan kualitas manajemen riset dari hulu hingga hilir termasuk dukungan pendanaan berkelanjutan.

Keduanya diharapkan mampu memaksimalkan sumber daya yang ada dan menerapkan berbagai visi seperti pendanaan riset berkelanjutan yang kompetitif.

Kombinasi keduanya juga diharapkan bisa memastikan dinamika triple helix antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam mewujudkan kebijakan dan inovasi berbasis riset hadir lebih kokoh.

Oleh sebab itu pengelolaan dana riset termasuk dana abadi, dan optimalisasi peran lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional menjadi sangat vital.