Film asal-usul Joker muncul pada waktu yang tepat: Badut-badut kini berperan penting

Joaquin Phoenix dalam film Joker (2019) Warner Bros.

Si pelawak, si jahil, si provokator - ada sejarah budaya yang kaya dan panjang terkait peran-peran ini bahkan hingga tokoh Hermes dalam mitologi Yunani.

Salah satu tokoh pelawak yang paling terkenal pada era modern adalah Joker, ia pertama kali muncul di edisi perdana buku komik Batman pada 1940.

Kemunculan perdana Joker di buku komik. Wikipedia

Sebagai musuh bebuyutan Batman, Joker menawarkan sedikit jeda dalam cerita perilaku tokoh Batman yang narsis dan dikuasai kemarahan. Joker memberi hukuman pada masyarakat dengan cara yang seringkali komikal, ia juga memiliki semangat pemberontakan berbalut ironi yang kontras dengan Batman yang keras dengan sikap moral yang dianutnya.

Joker itu lucu, keren, dan pintar. Joker saat ini muncul di bioskop dalam film berjudul Joker juga. Film ini telah memenangkan Film Terbaik di Festival Film Venesia.

Si provokator budaya

Dalam permainan kartu, kartu joker (pada umumnya) tidak memiliki kegunaan. Dua kartu joker tidak dipakai dalam banyak permainan, tapi susunan kartu tidak lengkap tanpanya.

Joker adalah kartu tidak penting yang diperlukan, sebuah pengecualian yang menyatukan seluruh susunan kartu. Karena joker berganti-ganti peran dan kedudukan, kartu ini seringkali memantik improvisasi dalam susunan hirarkis yang kaku.

Secara budaya, joker menggarisbawahi tatanan sosial dengan mengolok-oloknya, mengubah area-area sosial penting menjadi ruang-ruang karnival dan banyolan, mengungkapkan retak-retak komikal dan absurd dalam masyarakat lewat semangat permainan anarki.

Kartu ini memantik improvisasi. Wikimedia Commons, CC BY

Namun peran ini selalu terikat erat dengan tatanan-tatanan yang sepertinya hendak dilawan. Sebagian peran pelawak istana di kerajaan, misalnya, adalah melegitimasi tatanan sosial. Ia mempertahankan relasi dengan orang-orang, tapi perilaku perlawanan pada kekuasaan justru menunjukkan lagi adanya batasan-batasan yang ia miliki.

Ada banyak tokoh yang mengaku-aku “berbeda” (“maverick”) dalam politik global saat ini. Mereka secara strategis menempatkan diri seakan-akan di luar struktur kekuasaan, padahal tindakan mereka justru melanggengkan kekuasaan itu sendiri.

Kata-kata dan tindakan provokator semacam yang ini bermain dengan batas-batas selera dan etika sosial harus diwaspadai. Kekuasaan dapat melanggengkan diri dengan berbagai cara – termasuk lewat orang-orang yang kelihatannya menentang kuasa.


Read more: Prime Minister Boris Johnson: the jester has taken the throne


1989: Kegilaan dengan sisi keji

Dalam lakon Batman, penokohan Joker yang paling efektif terjadi saat Joker menari-nari antara perilaku lucu dan sadisme psikopat – ruang tipis inilah tempat semua komedi terbaik muncul.

Mungkin aktor terbaik yang menampilkan peran ini adalah Jack Nicholson dalam film Batman karya Tim Burton pada 1989. Joker yang diperankan Jack merangkul kegilaan Joker yang diinterpretasi oleh aktor Cesar Romero lewat serial TV 1960-an dan memiliki sisi keji – kombinasi kejenakaan dan brutalitas mematikan ini menjadi pengalaman tontonan yang menggelisahkan.

“Aku membuat karya seni hingga orang mati,” kata Joker yang diperankan Jack pada jurnalis Vicki Vale (Kim Basinger) di sebuah museum seni setelah dia dan anak buahnya merusak beberapa karya seni sambil menari diiringi musik karya Prince.

“Aku adalah seniman pembunuh pertama di dunia yang mampu mengaktualisasikan diri sepenuhnya.”

Pada akhir 1980-an, Jack, yang tampil sebagai tokoh buruk dalam film-film seperti The Witches of Eastwick (1987), adalah aktor di balik tokoh-tokoh yang paling dibenci dalam dunia film. Oleh karena itu, ia adalah pilihan tepat memerankan Joker – wajah Jack yang bisa terlihat jahat dan gila juga cocok dengan Joker.

Jack disebut pertama dalam daftar aktor film ini dan penonton, seperti diamati oleh Roger Ebert, cenderung mendukung Joker dibanding Batman. Ambiguitas inilah yang membuat film Tim ini begitu meyakinkan.

2008: Kenapa serius sekali?

Joker yang diperankan Heath Ledger dalam The Dark Knight (2008), yang mendapat anugerah anumerta Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik, menjadi sepenuhnya hidup lewat akting tingkat tinggi. Heath memiliki daya hidup yang kuat sekaligus menyeramkan. Namun, kalimat tanya yang dia ucapkan dalam film - “Kenapa serius sekali?” - bisa dengan mudah digunakan untuk mempertanyakan penampilan Heath.

Heath mengisi peran itu dengan realisme psikologis yang justru menghasilkan pengalaman menonton yang kurang menarik (dan kurang rumit) dibanding dengan penokohan yang ambigu.

Campuran aneh antara perilaku jenaka dan sadislah yang membuat tokoh ini terus menarik - kita dibuat terus menduga-duga. Heath, lewat penokohan yang realistis, justru membuat Joker menjadi orang aneh yang tidak punya selera humor.

2017: Terjebak di romantika buruk

Sifat hubungan simbiosis alami antara Batman dan Joker biasanya tidak digali. Hebatnya, film The Lego Batman Movie (2017), menaruh hubungan ini di titik depan.

Film ini bercerita tentang Joker (yang diisi-suarakan oleh Zach Galifianakis) yang mencoba membuat Batman (Will Arnett) mengakui bahwa mereka berdua saling membutuhkan. Batman menolak mengakui ikatan yang mereka bagi berdua sepanjang film; tapi saat dia akhirnya mau mengakui, hubungan bromance mereka menjadi matang.

Joker dan Batman – pasangan sesungguhnya. Warner Bros

2019: Kemunduran mental

Versi paling baru Joker diperankan oleh Joaquin Phoenix, seorang aktor yang telah memerankan tokoh-tokoh absurd tapi kuat (Walk the Line) dan jenaka (I’m Still Here). Film yang disutradarai Todd Phillips ini menjanjikan sebuah revitalisasi tokoh lewat cerita asal-usul tentang komedian/badut sial Arthur Fleck yang berubah menjadi Joker seiring memburuknya kondisi kejiwaan dia.

Beberapa penilaian awal memuji film ini mewakili bentang politik saat ini. Time Out menyebut film ini “visi mimpi buruk kapitalisme era lanjut” dan [IndieWire] menyatakan film ini membahas “tentang efek dehumanisasi sistem kapitalistik yang menjalankan tangga-tangga ekonomi”.

Dalam konteks gerakan incel – gerakan laki-laki yang merasa mereka korban ketidakadilan, narasi tentang pahlawan orang kecil penuh kekerasan yang terbentuk dari kegagalan menjadi selebritas terlihat sangat tajam dan pedih.

Jumlah penembakan massal di Amerika Serikat (pada 2012 James Holmes membunuh 12 orang saat pemutaran film The Dark Night di Aurora, Colorado) juga menimbulkan kekhawatiran efek film ini. IndieWire juga mengkritik film ini sebagai “ajakan bergerak bagi incel yang mengasihani diri”.

Joker butuh adanya hukum dan tatanan untuk dilawan lewat kejenakaan, sehingga patut diperhatikan bahwa di dalam film ini tidak ada Batman. Mampukah Joker mengisi narasi film ini sendiri?

Hadirkan pada badut

Tokoh-tokoh seperti badut sepertinya semakin umum muncul dalam dunia politik profesional. Bulan April, komedian Volodymyr Zelensky terpilih sebagai Presiden Ukraina. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dijuluki “Bojo” oleh media.

Popularitas Presiden AS Donald Trump sebagian besar muncul dari cara dia mempresentasikan diri sebagai orang di luar kelompok elit yang mau mengejek dan mempermalukan kekuasaan – walau jelas, sebagai pebisnis New York yang kaya, dia sendiri adalah personifikasi dari kekuasaan.

Signifikansi lebih luas dari fenomena ini sedikit lebih sulit untuk didiagnosa. Pada era semua dinilai dari sisi hiburan (pada saat semua orang memahami trik-trik yang dilakukan oleh media yang mereka konsumsi), tentu masuk akal jika selebriti badut, komedian provokatif, dan pebisnis licik mampu memperoleh kekuasaan di ranah publik jauh lebih besar dari yang pernah terjadi sebelumnya.

Politikus menghibur kita dengan memakai baju pelawak dan mengolok-olok politikus.

Mungkin ini mencerminkan sinisme publik yang lebih besar terhadap politik profesional, atau mungkin ini hanyalah cerminan adanya keinginan untuk selalu dialihkan perhatiannya oleh badut-badut yang menghibur.

Yang jelas, film ini sepertinya menarik ditonton.

This article was originally published in English