‘Ga mauuuuu… weng weng weng’: panduan mengelola tantrum bagi orang tua

shutterstock.

Tantrum dahsyat pertama pada anak balita adalah tonggak penting dalam perkembangan setiap anak yang tidak akan pernah menjadi bagian album foto bayi. Anak yang tiba-tiba mengamuk hebat, apalagi di tempat umum, bisa membuat orang tua yang paling percaya diri sekalipun kelabakan.

Antara usia satu dan empat tahun, hampir 90% anak-anak akan menunjukkan tantrum sesekali. Tantrum atau mendadak marah-marah ini meliputi anak-anak yang mengungkapkan kemarahan dan frustrasi mereka dengan menjerit-jerit, menangis, berguling-guling di lantai, kejang-kejang, memukul-mukul, menendang-nendang, melemparkan apa saja dan, pada beberapa anak, menahan napas mereka.

Penyebabnya sering kali bisa tidak masuk akal. Shutterstock/TumNuy

Tantrum sering bermula ketika seorang anak menginginkan sesuatu yang tidak bisa dimiliki, ingin menghindari sesuatu, ingin perhatian atau jika anak itu lapar, lelah, tidak enak badan atau cuma frustrasi.

Tetapi penyebabnya sering kali bisa tidak masuk akal, seperti diparodikan oleh blogger Greg Pembroke dalam bukunya Reasons my Kid is Crying (yang meliputi “Saya membiarkannya bermain di rerumputan”, “Kami mengatakan kepadanya babi bilang ‘nguik’,” dan “Anjing tetangga tidak ada di luar”).

Ledakan tantrum memuncak pada usia dua tahun, ketika anak-anak mengalami situasi kritis tidak mampu mengungkapkan diri secara verbal sementara pada saat yang sama mengembangkan perasaan otonomi dan independensi mereka.

Apa yang normal dan apa yang tidak ?

Meski merupakan bagian dari perkembangan anak normal, tantrum adalah alasan lazim bagi orang tua untuk mencari bantuan psikiatri untuk anak mereka. Pada titik yang lebih serius perilaku tantrum, sekitar 7% anak-anak memperlihatkan tantrum beberapa kali sehari, berlangsung selama 15 menit atau lebih. Setengah dari anak-anak itu biasanya memiliki problem perilaku atau perkembangan yang mendasari.

Tantrum yang bisa dikelompokkan sebagai “abnormal” cenderung merupakan tantrum yang berlanjut melewati usia prasekolah, berlangsung lebih lama dari 15 menit, melibatkan anak melukai diri sendiri atau anak-anak lain, terjadi lebih dari lima kali sehari, atau terjadinya suasana hati buruk sesudah tantrum, bukannya kembali normal.

Tanda-tanda lain tantrum yang lebih parah adalah ketika tantrum terjadi di hadapan orang dewasa yang bukan orang tua atau mendadak meledak, tanpa provokasi apa-apa.

Tidak mengherankan, keluarga seorang anak yang mudah dilanda tantrum barangkali juga membutuhkan dukungan. Salah satu studi mutakhir mendapati bahwa setengah dari ibu-ibu dari anak-anak yang meminta bantuan karena perilaku tantrum mempunyai problem mental sendiri, umumnya depresi dan kecemasan.

Faktor-faktor keluarga lain yang terkait dengan tantrum yang sering atau parah pada anak-anak mencakupi iritabilitas maternal, stres perkawinan, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, ketika perawatan anak hanya dilakukan oleh ibu, dan ketika hukuman fisik digunakan di rumah.

Semua itu menyajikan sebuah gambaran keluarga dengan stres serius, entah itu mendahului atau akibat dari tantrum anak. Yang jelas, tantrum yang sering terjadi kemungkinan besar meningkatkan stres di rumah sehingga penting bagi keseluruhan sistem keluarga mendapat sarana untuk mengatasinya.

Apa yang harus dilakukan ketika anak Anda mengalami ledakan emosional (meltdown)

Bagi 90% orang tua yang mengalami tantrum sebagai bagian dari pertumbuhan anak yang normal, cara terbaik menangani tantrum adalah dengan berusaha menghindarinya. Ini lebih mudah diomongkan daripada dilakukan, tetapi sebisa mungkin upayakan selalu konsisten dan dapat diperkirakan dengan kebiasaan dan rutinitas. Dan pastikan harapan-harapan anak Anda sesuai dengan usia mereka.

Berikan pilihan-pilihan dalam pembuatan keputusan untuk mendorong independensi seraya memastikan adanya opsi-opsi yang bisa Anda terima sebagai orang tua. Misalnya, “Kamu mau yoghurt atau biskuit?” (Bukan “kamu mau makan apa?”).

Atau, “Kamu mau mendengarkan Play School atau Wiggles di mobil hari ini?” (Bukan “kamu ingin mendengarkan apa?” Salah melakukan ini bisa berujung pada sebulan memutar Alvin and the Chipmunks Greatest Hits, yang terdengar seburuk kenyataannya).

Mendorong anak-anak yang lebih tua untuk mengatakan apa yang mereka rasakan. Shutterstock

Waktu makan yang teratur dan tidur yang rutin akan membantu menghindari ledakan emosi karena lapar dan terlalu letih, dan menyingkirkan sumber-sumber frustrasi bagi anak (seperti sekaleng biskuit yang bisa mereka lihat tapi tak bisa mereka jangkau) juga bisa menolong.

Ketika mereka bertambah umur, doronglah anak-anak Anda mengungkapkan perasaan mereka dalam kata-kata. Kata-kata untuk mendeskripsikan emosi juga bisa dipantulkan kembali kepada anak-anak untuk mengajarkan literasi emosional, misalnya “Tampaknya kamu benar-benar marah soal ini” atau “Aku tahu ini membuatmu benar-benar merasa sedih”.

Yang tak kalah pentingnya dengan konsistensi sebagai orang tua adalah memilih pertempuran Anda. Jika permasalahannya tidak penting atau membahayakan keselamatan, hal itu tidak perlu diributkan.

Di samping itu, ingatlah selalu untuk memberi anak Anda banyak perhatian positif ketika perilaku mereka layak mendapatkannya, karena seorang anak yang merasa diabaikan bisa memancing perhatian negatif hanya untuk mendapatkan perhatian.

Jika pencegahan tidak berhasil, beberapa strategi mungkin membantu. Tetap tenang, jangan memanaskan situasi dan jangan menyerah untuk memastikan agar tantrum tidak dipandang sebagai aktivitas produktif. Waktu “time-out” bisa membantu orang tua maupun anak untuk menenangkan diri. American Academy of Pediatrics merekomendasikan satu menit time-out per tahun usia anak.

Jika Anda berada di tempat umum, usahakan untuk mengarahkan kembali perhatian anak dan jika itu tidak berhasil, tetap tenang dan tinggalkan lokasi itu jika perlu.

Akhirnya, bertahun-tahun lalu dalam sebuah studi tentang simpanse para peneliti mengamati fenomena rekonsiliasi setelah konflik. Persis simpanse, lebih dari sepertiga anak-anak balita ingin mengakhiri tantrum mereka dengan pelukan, dikenal sebagai “afiliasi pascatantrum”. Itulah cara yang menyenangkan untuk mengisyaratkan berakhirnya krisis dan kembali menjadi bagian kehidupan keluarga normal dengan pengetahuan bahwa, bagi sebagian besar keluarga, fase tantrum akan berlalu.

This article was originally published in English

Help us meet the NewsMatch Reader Challenge. Get your gift doubled today.