Gempa Lombok: desain bangunan yang berbeda bisa kurangi kerusakan

Sebuah gempa berskala 6.9 menyebabkan runtuhnya ribuan rumah di bagian utara dari pulau Lombok di Indonesia. Adi Weda/AAP, CC BY-SA

Gempa Lombok: desain bangunan yang berbeda bisa kurangi kerusakan

Rangkaian gempa bumi di Lombok Utara dan sekitarnya masih terus berlangsung. Namun semoga yang terburuk telah lewat dan intensitasnya akan berkurang.

Ratusan orang tewas dan lebih banyak lagi yang terluka, banyak diantaranya menderita luka serius. Hampir seluruh korban jiwa disebabkan oleh bangunan yang runtuh. Akibatnya ratusan ribu orang akan menjadi tuna wisma sampai berbulan-bulan ke depan.

Namun penderitaan ini tidak harus terjadi.


Read more: Mengapa gempa di Lombok tidak ditetapkan sebagai bencana nasional?


Mengubah standar bangunan

Gempa terkuat yang terjadi pada tangal 5 Agustus dengan skala 6,9 dan pada kedalaman yang relatif dangkal, adalah gempa yang cukup besar bagi standar manapun. Namun sebagaimana yang ditunjukkan oleh foto dan rekaman video, tidak semua bangunan rubuh. Di antara hamparan kehancuran, terdapat banyak bangunan yang tampak hanya mengalami sedikit kerusakan.

Menurut salah satu perkiraan, 70% bangunan mengalami kerusakan serius, yang artinya 30% tidak mengalami kerusakan. Di banyak belahan dunia, misalnya Jepang, Selandia Baru, dan Chili, bangunan-bangunan didesain untuk tahan gempa hingga skala tersebut dan banyak di antara bangunan tersebut yang tahan dari serangan gempa berulang.


Read more: Belajar dari gempa Lombok, pentingnya strategi komunikasi risiko gempa di Indonesia yang rasional


Sekitar 70% bangunan mengalami kerusakan, namun sebagian lagi tetap berdiri setelah goncangan besar tersebut. AAP, CC BY

Kebanyakan bangunan tradisional di Indonesia, termasuk Lombok Utara, dibangun dari rangka kayu dengan atap jerami. Saat terjadi gempa, mereka bersifat lentur dan bergoyang namun jarang rubuh. Jika mereka rubuh, hal tersebut mungkin terjadi dengan lambat dan tidak sepenuhnya, serta jika ada atapnya yang runtuh pun ia relatif ringan dan empuk.

Namun selama dekade-dekade terakhir, bahan dan metode pembuatan bangunan telah berubah. Kayu dan jerami telah menjadi langka dan mahal. Selera populer pun bergeser ke arah rumah-rumah yang terlihat seperti rumah-rumah modern dari kalangan kelas menengah global – vila-vila kecil dengan dinding yang diplester, jendela kaca dan atap genting.

Tetapi di balik tampilannya (yang seringkali indah), konstruksi dari bata atau blok beton, hanya disatukan dengan lapisan semen yang lemah dengan sedikit atau tidak sama sekali rangka. Bangunan yang lebih baik mungkin memiliki rangka beton, namun kualitas dari betonnya biasanya buruk dan hanya sedikit saja baja yang memperkuat pada sendinya. Bangunan semacam ini tidak dapat dengan baik menahan bahan pengisinya dan beban mereka berat ketika runtuh.

Atap genting hanya terpasang dengan longgar dan langit-langit yang berada di bawahnya terlalu ringan untuk menangkapnya. Jika seseorang harus mendesain sistem konstruksi yang mudah roboh dan mengakibatkan kerusakan yang hebat, maka ini adalah model yang tepat.

Belajar dari gempa di masa lalu

Di Yogyakarta, pada Mei 2006, setidaknya 150.000 rumah dengan jenis yang sama runtuh dalam waktu kurang dari satu menit guncangan yang disebabkan oleh gempa yang lebih kecil dibandingkan gempa terbesar di Lombok. Hampir 6.000 orang tewas dan ribuan lagi terluka. Kebanyakan hewan ternak yang berada di bangunan tradisional bertahan hidup.

Sebuah gerakan bantuan kemanusiaan internasional yang masif merespons gempa Yogyakarta tersebut disertai oleh program pemerintah yang signifikan. Dalam satu tahun sebagian besar Yogyakarta telah terbangun kembali – sebuah hasil yang menakjubkan dalam situasi seperti itu. Baik pemerintah maupun badan internasional berusaha keras untuk merancang metode bangunan yang lebih aman, mengedukasi masyarakat tentang dan menawarkan dukungan, bahan material dan insentif untuk “membangun dengan lebih baik”.

Seorang ahli melaporkan kesimpulan sepuluh tahun kemudian (yang sayangnya belum dipublikasi) bahwa:

keseluruhan kualitas konstruksi yang buruk hampir secara pasti menempatkan manusia pada risiko yang lebih besar ketika elemen bangunan yang semakin besar dan berat roboh menimpa mereka.

Lombok Utara tidak pernah mengalami kejadian seperti ini sampai pada dekade terakhir dan karena ini adalah daerah yang relatif miskin di Indonesia, hingga 20 tahun lalu, banyak orang di luar daerah urban tinggal di rumah tradisional. Namun, beberapa tahun belakangan, sebagian karena hasil dari pendapatan wisata, banyak rumah yang kemudian dibangun atau diperluas dengan gaya dan konstruksi baru.

Di sini, standar konstruksi cenderung rendah dan bahkan lebih rendah lagi untuk rumah tangga yang lebih miskin. Bukti video menunjukkan kegagalan tepat seperti yang terjadi di Yogyakarta 12 tahun lau, dikarenakan kelemahan desain dasar yang sama. Gempa selanjutnya, di mana pun mungkin terjadi di Indonesia, hampir secara pasti akan menghasilkan efek yang sama.

Rumah-rumah di Lombok runtuh karena kegagalan desain yang sama seperti di Yogyakarta 12 tahun yang lalu. AAP, CC BY

Bukan solusi yang mudah

Sebuah artikel baru-baru ini menyalahkan penegakan aturan pembangunan yang tidak memadai dan kurangnya komitmen pemerintah. Sayangnya kenyataannya tidak sesederhana itu.

Pengalaman Yogyakarta menunjukkan bahwa bahkan dengan kampanye masif oleh pemerintah dan badan internasional, dan dengan ketakutan akan gempa yang masih segar di ingatan orang-orang, proses pembangunan kembali sedikit lebih baik dari bangunan lamanya. Aturan untuk bangunan ada di Indonesia, namun hal tersebut jarang diikuti, dapat dengan mudah diakali dan jarang ditegakkan, paling tidak pada tingkat pemilik perumahan lokal.

Bahkan jika terdapat usaha serius untuk menerapkan aturan tersebut, hal tersebut akan dirusak oleh tingkat inefisiensi dan korupsi birokratis yang terkenal. Belum lagi adanya penentangan dan penolakan dari publik. Hal tersebut juga bisa menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, termasuk membuat pembangunan rumah yang layak semakin tidak terjangkau, terutama bagi mereka yang lebih miskin.

Tidak akan ada solusi yang mudah, namun perbaikan dapat dimulai dengan pendidikan nasional tentang prinsip dasar rancangan struktur bangunan, desain yang disubsidi, produksi dan distribusi perangkat keras murah dan sederhana untuk mengurangi kegagalan desain paling umum serta insentif finansial untuk konstruksi yang tepat.

This article was originally published in English

Give now and double the power of your support. Dollar for dollar doubled by NewsMatch.