File 20170823 13299 pz2n1.jpg?ixlib=rb 1.1

Hidup dan bertahan di Semarang yang terus ambles

Warga Kemijen di pesisir Semarang membuat sendiri tembok penahan, biasa disebut talud, agar luapan Kalibanger tidak membanjiri perkampungan. Tim Dokumentasi Kolektif Hysteria, CC BY-NC-ND

Hidup dan bertahan di Semarang yang terus ambles

Pesisir Semarang di utara Jawa mengalami penurunan permukaan tanah atau ambles dan warga yang tinggal di sana semakin miskin akibat bencana banjir rob.

Namun warga tidak tinggal diam menghadapi banjir rob yang bisa datang sehari dua kali ke rumah-rumah mereka di kawasan yang diberi cap kumuh oleh pemerintah kota Semarang ini. Mereka beradaptasi, berupaya memperbaiki keadaan, dan menjadi bagian penting terciptanya kota yang tangguh.

Tiga kampung di pesisir Semarang-Kemijen, Tambak Lorok, dan Genuk-mengalami banjir rob setiap hari. Dalam tulisan ini saya membahas bagaimana warga Kemijen bertahan dan beradaptasi dengan bencana.

Pesisir Semarang krisis ekologi

Sehari dua kali rob menggenangi permukiman dan bangunan-bangunan lain di wilayah Semarang yang populer disebut kota lama. Sejarah geologi Semarang menunjukkan tanah Semarang aluvial dari periode Kuarter yang dalam ilmu geologi terbilang muda sehingga cenderung ambles.

Penelitian juga menunjukkan penyedotan air tanah secara besar-besaran dan beban bangunan sebagai faktor lain dari penurunan muka tanah di Semarang. Di wilayah ini, selain permukiman, terbangun pergudangan, perkantoran, dan pabrik.

Peta Geologi Amblesan Semarang. Pemerintah Kota Semarang

Narasumber penelitian saya menyebutkan ada wilayah di Kemijen yang ambles 2,5 cm per bulan. Tetapi, sebuah studi mendalam tahun 2010 dari Institut Teknologi Bandung menunjukkan amblesan di beberapa tempat di pesisir Semarang terdalam mencapai 15 cm sementara studi lain mendapatkan angka terbesar hingga 19 cm per tahun.

Kemiskinan memperburuk bencana

Bencana memiskinkan masyarakat kampung pesisir dan kemiskinan memperburuk bencana. Antara lima hingga 10 tahun sekali, masyarakat kampung pesisir harus mengeluarkan biaya untuk meninggikan rumah karena tanah ambles terus. Ketiadaan fasilitas pengelolaan sampah juga menjadi penyumbang terhadap kebencanaan. Penumpukan sampah plastik di saluran irigasi menyumbat aliran air got, menyebabkan banjir ketika hujan turun.

Selain itu kondisi lingkungan rumah di Kampung Kemijen tidak tertata dan sanitasinya buruk. Masyarakat di sana sulit mendapatkan air bersih dan fasilitas umum lainnya.

Keadaan di Kemijen saat banjir rob. Tim Dokumentasi Kolektif Hysteria, CC BY-NC-ND

Fasilitas mandi, cuci, kakus warga kerap diterjang air laut maka untuk ke WC mereka lakukan di sungai atau saluran air, dengan demikian memperburuk polusi.

Meski bukan yang terpadat di Semarang, kepadatan kelurahan Kemijen di kecamatan Semarang Timur mencapai hampir 9.500 orang per kilometer persegi, bandingkan dengan sekitar 4.700 untuk rata-rata kota Semarang.

Kemiskinan membuat penduduk semakin rentan kebencanaan. Kemiskinan selalu bergandengan erat dengan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga akses penduduk terhadap pengetahuan kebencanaan pun rendah. Hasilnya, mereka tidak memiliki rencana jelas untuk menghindari bencana. Kapasitas mereka untuk menanggulangi bencana menjadi rendah.

Misalnya ada warga yang berusaha menguruk tanah menggunakan sampah plastik yang menggunung. Selain sia-sia, ini juga berbahaya mengingat plastik tidak saling mengikat sehingga ada risiko longsor.

Meski demikian, masyarakat sudah menjadikan kawasan tersebut tanah kelahiran, tempat mencari nafkah, dan membangun keluarga. Banyak kepemilikan rumah dan tanah di Kemijen diwariskan secara turun temurun.

Kota tangguh bergantung pada pelibatan masyarakat

Menurut program Rockefeller Foundation—100 Resilient Cities—konsep “resilient city” atau kota tangguh adalah kota yang terus bisa berfungsi meskipun menghadapi tantangan yang beragam. Tak hanya berfungsi, kota tersebut juga bisa berkembang.

Tahun ini Semarang terpilih menjadi kota yang akan dibantu agar menjadi tangguh dalam program 100 Resilient Cities.

Konsep kota tangguh di kota pesisir yang rawan bencana tidak bisa berdiri sendiri namun harus diintegrasikan dengan ketangguhan masyarakatnya, atau yang lebih spesifiknya disebut sebagai livelihood resilience oleh pakar geografi Chinwe Ifejika Speranza.

Kerangka konseptual Speranza mengidentifikasi ketangguhan dari tiga kelompok ukuran di masyarakat: kapasitas penahan, pengorganisasian diri, dan kapasitas pembelajaran. Tiga hal ini dipecah lagi menjadi berbagai indikator mulai dari kepemilikan atas aset, kerja sama dan jaringan, hingga komitmen terhadap pembelajaran.

Banyak hal yang saya temukan, di antaranya: warga Kemijen berpendidikan rendah namun memiliki semangat tinggi untuk belajar. Pengetahuan kebencanaan mereka terbatas namun masyarakat terbuka akan hal baru.

Gotong royong di masyarakat sudah mulai melemah tapi bukan sama sekali tidak ada. Masyarakat bisa bekerja sama dengan pemerintah hingga titik bisa menerima penggusuran sepanjang kompensasinya layak.

Masyarakat Kemijen juga terbuka pada pihak luar mulai dari universitas, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan swasta, dan pemerintah yang menawarkan kerja sama atau program.

Warga Kemijen aktif

Sebagian warga Kemijen aktif mengubah keadaan, salah satunya dengan membentuk Komunitas Masyarakat Kemijen yang disingkat Komjen. Di Komjen warga berembuk dan menyampaikan pendapat mengenai lingkungannya.

Beberapa dari mereka pun rajin kerja bakti membersihkan got dari sampah, menggalakkan budaya bersih kampung, dan festival sungai. Suatu komunitas kreatif di Semarang, Kolektif Hysteria, juga masuk kampung mengadakan kegiatan bertajuk Narasi Kemijen. Warga juga bersama lembaga swadaya masyarakat Camar aktif menanam bakau yang telah makin hilang.

Workshop seni kolase tentang keseharian warga menghadapi rob di Kemijen dalam kegiatan Penta K Labs: Narasi Kemijen yang digelar Kolektif Hysteria tahun lalu. Tim Dokumentasi Kolektif Hysteria, CC BY-NC-ND

Di luar hal-hal yang tidak rutin, warga Kemijen termasuk aktif dan berdaya demi perbaikan lingkungan mereka atau sekadar adaptasi bencana. Menguruk dan meninggikan rumah telah menjadi hal biasa, demikian pula memodali sendiri pompa mereka sembari menunggu program pemerintah. Mereka juga aktif dan terbuka akan banyak program pemberdayaan seperti di bidang kesehatan dan lingkungan, kecuali program pembuatan kolam tangkapan air dari pemerintah yang mengancam keberadaan kampung mereka.

Manajemen ‘keroyokan’

Untuk mendukung penciptaan kota yang tangguh, pemerintah kota harus mendukung warga yang aktif beradaptasi dan bertahan dengan mengerahkan semua dinas terkait dan dukungan dana.

Manajemen “keroyokan” dapat cepat meremajakan kampung kumuh. Satu pos dana bisa sekaligus memperbaiki beragam persoalan: pembenahan sanitasi, pembangunan instalasi pengelolaan limbah cair, perbaikan jalan, pembangunan ruang publik, dan renovasi rumah yang tidak layak huni.

Selain fasilitas fisik, pembenahan juga mesti dilakukan di ranah layanan kesehatan dan pendidikan.

Tentunya pembenahan harus selalu menyertakan warga Kemijen yang memang sudah aktif mengorganisir diri. Warga terbuka akan perubahan, misalnya program yang mendorong perubahan kebiasaan dari warga yang tidak acuh akan lingkungan menjadi warga yang merawat dan menjaganya.

Jadi seharusnya sejak awal telah dilakukan perubahan melalui pemaksaan struktur dengan manajemen keroyokan pemerintah dengan warga disertai interaksi tulus antara birokrat dengan warga yang terus menerus. Kemudian, secara budaya dilakukan inisiasi pendidikan sadar lingkungan.

Maka ke depan penting untuk mengintegrasikan konsep kota tangguh dengan ketangguhan masyarakatnya, karena suatu kota tangguh bencana tanpa ketahanan warga tidak akan mampu menyelesaikan kebencanaan.