Menyingkap penjelasan sains sehari-hari, mulai dari perubahan iklim hingga apa yang terjadi saat kita jatuh cinta.
Sains punya peranan—dan penjelasan—dalam hampir setiap hal di hidup kita. Dengarkan Sains Sekitar Kita dan tambah wawasan Anda mengenai sains, mulai dari soal perubahan iklim hingga apa yang terjadi saat kita jatuh cinta. Diproduksi bersama KBR.

Episode-episode paling baru

Sains Sekitar Kita: Mengapa sistem pemilu Indonesia berubah setiap lima tahun?

Sains Sekitar Kita: Mengapa sistem pemilu Indonesia berubah setiap lima tahun?

Sekitar satu setengah bulan lagi pemilihan umum serentak untuk memilih wakil rakyat di parlemen dan presiden dan wakil presiden untuk masa lima tahun akan diselenggarakan. Setidaknya 7.900 calon anggota DPR memperebutkan posisi wakil rakyat yang jumlahnya hanya 575 kursi pada 17 April nanti. Tapi di ruang publik, yang justru terdengar gegap gempitanya adalah "perang kata-kata" dua calon presiden, Joko…

1 Pembawa Acara : Indra Pahlevi

Sains Sekitar Kita: Relasi politikus dan anak muda masih tahap simbolik

Sains Sekitar Kita: Relasi politikus dan anak muda masih tahap simbolik.

Jumlah pemilih milenial (usia 21-30 tahun) dalam pemilihan umum kali ini mencapai sekitar 42 juta pemilih. Bila ditambah usia 20 tahun, masih ada 17 juta pemilih lagi. Totalnya sekitar 40% dari total pemilih. Dalam konteks pemilihan presiden, calon presiden (capres) petahana Joko Widodo dan penantangnya, Prabowo Subianto, membidik suara mereka untuk memenangkan pertarungan. Para politikus menggunakan…

1 Pembawa Acara : Titi Anggraini

Sains Sekitar Kita: Bagaimana jaksa dan kepribadian hakim pengaruhi tingginya vonis?

Sains Sekitar Kita: Bagaimana jaksa dan kepribadian hakim pengaruhi tingginya vonis?

Hakim kerap disebut sebagai wakil Tuhan di muka bumi untuk memberikan rasa keadilan bagi korban ketidakadilan. Tapi para hakim juga manusia yang punya bias dalam mengambil putusan. Guru Besar psikologi forensik dari Universitas Surabaya Yusti Probowati mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi bias hakim setelah meneliti aspek psikologis hakim di ruang sidang. Masih ingat persidangan kasus pembunuhan…

1 Pembawa Acara : Yusti Probowati

Sains Sekitar Kita: Mengapa orang bisa begitu fanatik dalam pemilu?

Sains Sekitar Kita: Mengapa orang bisa begitu fanatik dalam pemilu?

Dalam kegaduhan demokrasi terdapat celah terciptanya bibit konflik dan fanatisme berlebihan. Karena itu, secara psikologis, demokrasi mensyaratkan adanya orang-orang yang cukup pendidikan, berpikiran terbuka, toleran, bisa menerima perbedaan, dan bisa menunjukkan empati terhadap orang lain. Apa yang terjadi di Jerman pada pertengahan 1930-an menjadi contoh bahaya fanatisme. Kala itu, ekonomi mereka…

1 Pembawa Acara : Hamdi Muluk

Sains Sekitar Kita: Makin sering berbohong makin lihai, tapi manusia tak bisa berdusta non-stop

Sains Sekitar Kita: Makin sering berbohong makin lihai, tapi manusia tak bisa berdusta non-stop.

Sejarah bohong dan kebohongan, dalam berbagai level dan kasus, bisa dilacak dalam sejarah kehidupan manusia hingga ribuan tahun lalu. Dalam era modern, dusta kerap dipakai oleh para terdakwa untuk menutupi keterlibatannya dalam perkara yang dituduhkan saat mereka jadi pesakitan di pengadilan. Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setyo Novanto, misalnya, mengaku sakit saat sedang dicecar hakim di pengadilan…

1 Pembawa Acara : Yusti Probowati

Sains Sekitar Kita: Laut dalam Indonesia timur kaya bakteri, tapi belum banyak dipelajari

Sains Sekitar Kita: Laut dalam Indonesia timur kaya bakteri, tapi belum banyak dipelajari.

Perairan Indonesia Timur punya banyak harta karun berupa organisme yang unik dan menarik tapi tidak banyak diketahui oleh peneliti dalam negeri. Di Ambon, banyak ekspedisi ilmiah sejak 1800, tapi yang melakukannya mayoritas dari luar negeri: Denmark, Belanda, Perancis, dan Amerika. Para ilmuwan Barat itu "mengeduk-eduk" kekayaan alam laut Indonesia untuk riset ilmiah. Yosmina Tapilatu, peneliti dari…

1 Pembawa Acara : Yosmina Tapilatu

Sains Sekitar Kita: Pembelajaran sains, mengapa begitu dogmatis?

Sains Sekitar Kita: Pembelajaran sains, mengapa begitu dogmatis?

Indonesia mengalami darurat kualitas pembelajaran sains. Sebagian besar lulusan sekolah menengah atas, belum menguasai matematika sederhana (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian angka sederhana), kemampuan yang semestinya telah dikuasai saat sekolah dasar. Apa yang salah dengan pendidikan sains di Indonesia? Intan Suci Nurhati, peneliti iklim dan kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia…

2 Pembawa Acara : Intan Suci Nurhati dan Suharyo Sumowidagdo

Sains Sekitar Kita: Kisah Djoko Iskandar, pionir peneliti katak dari ITB, tak mengekor ke Barat

Sains Sekitar Kita: Kisah Djoko Iskandar, pionir peneliti katak dari ITB, tak mengekor ke Barat.

Sekitar 30 tahun lalu, Djoko Tjahjono Iskandar kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi doktor di Université Montpellier 2 Prancis. Awalnya dosen Institut Teknologi Bandung itu akan meneliti tikus, tapi rupanya untuk peralatan untuk riset tikus terlalu mahal untuk ukuran Indonesia. Maka dia ganti objek penelitian ke kodok. Iskandar ingat betul waktu itu hanya ada tiga makalah tentang kodok…

1 Pembawa Acara : Djoko Tjahjono Iskandar

Sains Sekitar Kita: Jalan panjang melawan malaria, siapa yang menang?

Sains Sekitar Kita: Jalan panjang melawan malaria, siapa yang menang?

Musim hujan telah tiba dan banyak air tergenang di sekitar rumah. Lingkungan kotor seperti itu yang menjadi tempat favorit nyamuk untuk berkembangbiak. Nyamuk malaria menggigit tubuh manusia mulai magrib sampai pagi. Malaria merupakan penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit Plasmodium. Satu gigitan saja bisa menyebabkan parasit masuk ke aliran darah. Dan kini malaria sudah…

1 Pembawa Acara : Rintis Noviyanti

Sains Sekitar Kita: Tiga skenario kiamat menurut astronom ITB

Sains Sekitar Kita: Tiga skenario kiamat menurut astronom ITB.

Kitab suci dan para agamawan memiliki cerita sendiri mengenai kiamat yang mengakhiri kehidupan dunia fana. Film-film Hollywood dan berbagai komik mengeksploitasi narasi kiamat sebagai hiburan sekaligus mencetak keuntungan. Ilmuwan astronomi juga punya penjelasan ilmiah bagaimana dan kapan sebuah planet, termasuk Bumi, akan hancur lebur sebagai pertanda kiamat. Premana Premadi, astronom dan dosen senior…

1 Pembawa Acara : Premana W. Premadi

Sains Sekitar Kita: Cintailah kecebong dan kodok, mereka indikator kualitas lingkungan

Sains Sekitar Kita: Cintailah kecebong dan kodok, mereka indikator kualitas lingkungan.

Katak merupakan organisme yang paling sensitif di dunia. Karena itu, mulailah mencintai kecebong, katak, dan kodok, karena mereka indikator kualitas lingkungan. Mereka bisa digunakan sebagai penanda kerusakan lingkungan dan perubahan cuaca. Nenek moyang kodok diketahui hidup bersama dinosaurus pada 180 juta tahun lalu. Mereka mendominasi area rawa di hutan dengan kemampuan hidupnya yang sangat canggih…

1 Pembawa Acara : Djoko Tjahjono Iskandar

Sains Sekitar Kita: Kenali tanda keracunan makanan

Sains Sekitar Kita: Kenali tanda keracunan makanan.

Makan banyak harusnya bikin tenaga Anda berlipat. Tapi kalau setelah makan Anda justru demam, perut melilit, dan mual-muntah, awas! Jangan-jangan Anda keracunan makanan! Menurut Puspita Listiyanti, peneliti bakteri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), makanan yang terkontaminasi bakteri itu akan terlihat berlendir dan bau, serta teksturnya hilang jadi lembek. Apa yang sebenarnya terjadi…

1 Pembawa Acara : Puspita Lisdiyanti

Sains Sekitar Kita: Bakteri baik untuk manusia, bagaimana mereka bekerja

Sains Sekitar Kita: Bakteri baik untuk manusia, bagaimana mereka bekerja.

Reputasi bakteri memang terlanjur jelek. Orang awam lebih mengenal bakteri sebagai biang keladi penyakit diare, TBC alias tubercolosis, atau tifus. Padahal, sebenarnya semua makhluk hidup itu punya dua sisi, jahat dan baik. Begitu juga mikro organisme. Ada yang jahat dan baik. Mikroba tugasnya adalah mengurai. Di tubuh manusia, misalnya, bakteri mengurai kulit dengan cara memakannya. Lendir-lendir…

1 Pembawa Acara : Puspita Lisdiyanti

Sains Sekitar Kita: Kisah petualangan Premana Premadi dari ITB menguak ruang angkasa

Sains Sekitar Kita: Kisah petualangan Premana Premadi dari ITB menguak ruang angkasa.

Melayang-layang di antara planet Jupiter dan Mars, bersama hampir dua juta asteroid lainnya, ada Asteroid 12937 Premadi. Nama asteroid ini diambil dari nama Premana Premadi, perempuan astronom pertama dari Indonesia, yang aktif mengajar di Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung dan Direktur Observatorium Bosscha. Dia juga menggerakkan pendidikan astronomi ke anak-anak melalui organisasi…

1 Pembawa Acara : Premana W. Premadi

Sains Sekitar Kita: Astronomi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari

Sains Sekitar Kita: Astronomi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.

Astronomi merupakan ilmu paling tua. Ilmu ini setua nenek moyang kita yang menoleh ke angkasa dan bertanya: mengapa kita ada, mengapa ada hujan, siang, malam, dan bintang gemerlapan. Juga pertanyaan yang selalu relevan sepanjang masa: misalnya apakah alam semesta itu ada dari dulu? Apakah mereka ada untuk selamanya? Alam semesta itu sampai mana batasnya? Umurnya berapa? Berapa jarak Bumi dan Matahari…

1 Pembawa Acara : Premana W. Premadi

Sains Sekitar Kita: Kekuatan musik metal yang selama ini jarang diketahui

Sains Sekitar Kita: Kekuatan musik metal yang selama ini jarang diketahui.

Musik metal kerap dikaitkan dengan pemberontakan kaum muda sampai dengan pemujaan setan. Tapi betulkah metal penganjur kekerasan dan memicu agresi? Alih-alih menghasilkan energi buruk, metal malah punya dampak baik. Journal of Psychology of Popular Media dalam satu tulisan menyebut metal membantu orang dalam menghadapi kematian. Peneliti Paula Rowe dan Bernard Guerin dari University of South Australia…

1 Pembawa Acara : Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Sains Sekitar Kita: Mengapa dokter tidak meresepkan jamu kepada pasien?

Sains Sekitar Kita: Mengapa dokter tidak meresepkan jamu kepada pasien?

Indonesia adalah rumah dari sekitar 32 ribu tanaman berkhasiat obat. Banyak buah dan batang tanaman yang bisa diolah menjadi jamu. Mereka diklaim bisa menyembuhkan beragam penyakit seperti masuk angin, pegal-pegal, sampai disfungsi ereksi. Apa benar jamu sesakti itu? Bila begitu sakti, mengapa dokter tidak meresepkan obat jamu kepada pasiennya? Erni Hernawati Purwaningsih, Guru Besar Ilmu Farmasi Fakultas…

1 Pembawa Acara : Erni Hernawati Purwaningsih

Sains Sekitar Kita: Bahaya gula yang selalu mengintai kesehatan tubuh kita

Sains Sekitar Kita: Bahaya gula yang selalu mengintai kesehatan tubuh kita.

Gula merupakan sumber energi bagi tubuh manusia. Tapi mengkonsumsi terlalu banyak zat manis ini bisa juga mendatangkan banyak penyakit yang mematikan. Gula olahan dari tebu atau jagung adalah sumber karbohidrat, sama seperti kentang, biji, umbi, atau nasi. Zat esensial bagi tubuh manusia ini menghasilkan tenaga, agar berdaya. Bersama lemak dan protein, karbohidrat adalah zat yang banyak dibutuhkan…

1 Pembawa Acara : Steffi Sonia

Sains Sekitar Kita: Tips-tips hidup produktif dan seimbang dari 6 ilmuwan kondang

Sains Sekitar Kita: Tips-tips hidup produktif dan seimbang dari 6 ilmuwan ternama.

Menjadi ilmuwan berkelas lebih dari bakat. Mereka adalah pekerja keras. Ilmuwan-ilmuwan aneka cabang ilmu ini telah menembus batas-batas baru yang memungkinkan ilmu pengetahuan maju centi demi centi. Apa rahasia produktivitas mereka? Kami menghimpun aneka tip dari para saintis agar hari-hari Anda lebih produktif dan juga sehat! Selain membaca yang jadi menu wajib mereka, ada yang senang naik gunung…

6 Pembawa Acara : Berry Juliandi, Dharmawan Adi Purnama, Dian Fiantis and 3 other

Sains Sekitar Kita: Potensi energi angin di Indonesia begitu besar, mengapa kincirnya harus kecil

Sains Sekitar Kita: Energi terbarukan.

Angin punya posisi penting bagi sejarah panjang peradaban manusia. Sekitar 7000 tahun lalu, angin tercatat telah memutar baling-baling kapal di sepanjang Sungai Nil di Mesir. Di Cina, 200 tahun sebelum Masehi, hembusan angin telah memutar kincir sederhana dan membantu petani memompa air. Sejak abad ke-20, angin telah menggerakan turbin dan menghasilkan listrik untuk rumah di Eropa dan Amerika Utara…

1 Pembawa Acara : Adi Surjosatyo

Sains Sekitar Kita: Kisah Adi Utarini untuk melenyapkan demam berdarah

Dia satu dari sedikit sekali ilmuwan yang juga musisi.

Adi Utarini adalah satu dari sedikit sekali ilmuwan yang juga musisi! Memainkan musik klasik dan rock progresif sembari mengajar, meneliti, dan menanggulangi demam berdarah yang mematikan itu. Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada ini memimpin Eliminate Dengue Project di Yogyakarta. Dari Kota Gudeg, proyek ambisius kelas dunia sedang berlangsung: mencoba menjadikan Demam Berdarah…

1 Pembawa Acara : Adi Utarini

Sains Sekitar Kita: Hati-hati tinggalkan jejak digital di belantara Internet

Indonesia membutuhkan Undang-Undang Perlindungan Privasi.

Langkah Cambridge Analytica memanen data pribadi secara ilegal lebih dari 50 juta pengguna Facebook untuk kepentingan tim kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2016 menunjukkan data digital begitu penting. Dan setiap kita menggunakan Internet akan meninggalkan jejak digital seperti telapak kaki meninggalkan jejak saat melewati tanah basah. Sinta Dewi Rosadi, Guru Besar Hukum Teknologi…

1 Pembawa Acara : Sinta Dewi Rosadi

Sains Sekitar Kita: Dian Fiantis, perempuan pemburu abu vulkanis dari Andalas

Menghitung kesuburan tanah.

Dian Fiantis adalah ahli tanah dan pemburu abu gunung api. Guru Besar Universitas Andalas Padang Sumatra Barat itu telah mengumpulkan abu vulkanis setelah Gunung Merapi, Kelud, Sinabung, dan Krakatau meletus. Dia dan timnya mengambil abu vulkanis yang belum terkena hujan. Dari penelitiannya tentang abu vulkanis, 6 artikel ilmiah telah diterbitkan jurnal internasional. Dengan 129 gunung api aktif, Indonesia…

1 Pembawa Acara : Dian Fiantis

Sains Sekitar Kita: Strategi bakteri 'kuda troya' Wolbachia lenyapkan demam berdarah

Teknik baru melawan nyamuk demam berdarah.

Demam berdarah tiba pertama di Surabaya pada 1960-an. Kini, virus yang diperantarai nyamuk Aedes aegypti ini telah menyebar di seluruh kabupaten di Indonesia. Termasuk di Yogyakarta. Indonesia berada di peringkat kedua di dunia dan pertama di Asia Tenggara dalam kasus demam berdarah. Kerugian akibat demam berdarah, setidaknya mencapai Rp 3,1 triliun per tahun. Serangga kecil ini adalah ancaman buat…

1 Pembawa Acara : Adi Utarini

Sains Sekitar Kita: Mengapa narasi politik identitas menguat menjelang pemilu?

Perlu menafsir ulang nasionalisme.

Setiap pemilihan umum, kebanyakan politikus Indonesia masih menggunakan isu agama dan kesukuan sebagai jurus utama. Mengantisipasi untuk pemilu serentak tahun depan, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sampai harus mewanti-wanti adanya potensi kerawanan sosial. Dikhawatrikan, para kandidat saling lempar retorika politik identitas demi meraih suara pemilih. Peneliti senior demografi politik dari Lembaga…

1 Pembawa Acara : Riwanto Tirtosudarmo