Indonesia mengumumkan ‘perang melawan sampah plastik di laut’ pada tahun 2016 setelah penelitian baru-baru ini menjuluki negara tersebut sebagai produsen limbah terbesar kedua di dunia. www.shutterstock.com

Indonesia perlu lebih banyak penelitian dampak sampah plastik di laut

Perairan Indonesia, salah satu yang kaya akan keanekaragamaan hayati, kini mulai menjadi tempat sampah.

Berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, Indonesia merupakan negara terbesar kedua dalam pencemaran laut dengan plastik. Namun, kita tidak tahu banyak bagaimana limbah plastik berdampak pada kehidupan laut di perairan Indonesia.

Saya menjadi salah satu peneliti di Marine Research Laboratory (MEAL), Universitas Padjajaran di Bandung melakukan kolaborasi penelitian dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, Universitas Maritim Raja Ali Haji di Kepulauan Riau, dan Mantawatch International yang berbasis di London.

Kami melakukan tinjauan sistematis terkait penelitian tentang limbah plastik di laut yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian, yaitu Marine Pollution Journal. Kami menemukan tidak banyak penelitian terkait dengan isu sampah plastik laut, terutama untuk Indonesia bagian timur.

Mengapa kita perlu penelitian tentang dampak sampah plastik di laut?

Penelitian tentang dampak sampah laut bagi ekosistem di perairan Indonesia sangat penting sebagai bahan untuk membuat kebijakan dan aturan perusahaan, stakeholder, dan pemerintah akan urgensi untuk membebaskan laut dari sampah plastik dan turunannya.

Saat ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia masih menjual kebutuhan sehari-hari, dari shampo, sabun, kemasan lainnya, hingga makanan, dalam kemasan plastik. Sementara itu, pemerintah belum dapat sepenuhnya mengelola limbah secara efektif di darat dan memastikan tidak dibuang ke laut.

Selain itu, kebanyakan orang tidak menyadari risiko kesehatan bagi manusia akibat pembuangan sampah plastik ke laut. Sampah plastik yang dibuang ke laut bisa kembali hadir di atas piring kita apabila makanan laut yang dihidangkan terkontaminasi oleh serpihan plastik.

Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar hewan di laut sebenarnya buta warna dan tidak dapat membedakan sampah dan makanan. Mereka lebih menggunakan sensor perasaan dibandingkan sensor visual seperti manusia.

Berbagai penelitian di dunia mengungkapkan bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi plastik menimbulkan potensi risiko kesehatan.

Status penelitian kelautan Indonesia

Kami memetakan penelitian penelitian tentang sampah plastik di laut terutama di Indonesia dan menemukan adanya peningkatan yang signifikan dalam 40 tahun terakhir.

Awalnya, penelitian tentang limbah plastik di laut terdapat pada tahun 1950 hingga tahun 1978 dengan jumlah yang sedikit. Namun, pada tahun 2018, terdapat sekitar 579 penelitian yang dipublikasikan.

Peningkatan ini terjadi setelah Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan di Brazil pada tahun 2012. Konferensi ini menyimpulkan bahwa limbah plastik di laut adalah masalah utama dalam kesehatan laut.

Kami juga menganalisis publikasi berdasarkan negara dan menemukan bahwa Cina, yang merupakan negara produsen sampah plastik terbesar di dunia, justru menyumbang penelitian secara signifikan ketimbang negara produsen sampah plastik besar lainnya, termasuk Indonesia.

Kami menemukan bahwa tidak lebih dari 50 artikel tentang sampah laut, khususnya plastik di laut, yang telah terbit di Indonesia sejak 1986.

Ditambah lagi, penelitian dengan topik limbah laut sangat spesifik. Contohnya, penelitian yang kami temukan hanya mempelajari reaksi kimia dari sampah plastik di laut, dampak terhadap ekosistem, distribusi, hingga pembersihan pantai. Penelitian ini masih belum memadai untuk digunakan sebagai dasar kebijakan pemerintah.

Perlu penelitian kelautan di perairan Indonesia bagian timur

Penelitian tentang sampah plastik laut di Indonesia hanya fokus kepada Indonesia bagian barat, terkonsentrasi pada pulau-pulau padat penduduk di Jawa dan Bali.

Sekitar 80% dari penelitian dilakukan di daerah pesisir pantai dan ekosistem laut, sementara 20% lainnya meneliti kolom air. Sebagian besar dari penelitian ini berfokus pada ilmu lingkungan dan manajemen sumber daya alam.

Hanya sedikit penelitian yang fokus pada kesehatan, sosio-ekonomi, teknik, atau kebijakan. Sangat sulit untuk menemukan penelitian yang mempelajari dampak sampah plastik pada manusia. Kami menemukan beberapa makalah penelitian tentang limbah plastik di dalam perut ikan.

Untuk penelitian di Indonesia bagian timur, kami hanya menemukan lima penelitian yang berfokus pada kondisi limbah laut, dan dua diantaranya telah terbit sekitar 20 tahun yang lalu.

Lebih lanjut, belum ada publikasi yang secara komprehensif membahas akumulasi mikroplastik dalam organisme laut. Untuk melakukan penelitian semacam ini, dibutuhkan laboratorium khusus untuk mempelajari sampah laut terutama untuk yang berukuran nano.

Penelitian terkait sampah laut masih merupakan bidang yang berkembang di Indonesia. Di Universitas Padjajaran, kami secara teratur mengumpulkan sampah-sampah di banyak pantai untuk memonitor data sampah diseluruh Indonesia sehingga nantinya dapat digunakan sebagai landasan kebijakan.

Kami mengusulkan penelitian yang lebih komprehensif tentang dampak sampah laut terhadap ekosistem. Kita perlu mengetahui dampak sampah plastik pada organisme di kolom air, bagaimana mereka mengubah distribusi kehidupan laut, bagaimana mereka memengaruhi kesehatan manusia, dan bagaimana ini pada akhirnya memengaruhi ekonomi lokal dan nasional.

Jika kita memiliki data yang baik dan kontinu, semua penelitian ini dapat menjadi landasan bagi kebijakan nasional atau regional untuk mengurangi sampah plastik.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English