File 20171018 32378 13diepb.jpg?ixlib=rb 1.1

Industri kopi hampir dipanggang perubahan iklim

Pada 2100, lebih dari separuh tanah yang sekarang ditanami kopi akan tak lagi subur. Jeremy Ricketts/Unsplash, FAL

Industri kopi hampir dipanggang perubahan iklim

Musim gugur selalu merupakan saat yang tepat untuk menciptakan kebiasaan baru, dan jaringan kopi tahu itu.

Hari-hari ini, mereka mati-matian berusaha menemukan dalih apa saja agar Anda minum java mereka.

Banyak jaringan menggunakan Hari Kopi Nasional atau Internasional,,yang baru berlalu, sebagai alasan untuk menawarkan kopi mereka dengan harga diskon, atau malah gratis—ketentuan dan syarat berlaku, tentu saja.

Bagi pemilik restoran, tidak ada pancingan yang lebih baik daripada kopi agar pelanggan datang lagi. Trik bagus yang tampaknya manjur bagi sementara orang. Mengingat apa yang mengintai di cakrawala, bagaimanapun juga, menawarkan kopi gratis mungkin bukan lagi opsi bagi bisnis.

Permintaan kopi di seluruh dunia sedang bergeser. Eropa masih menyerap hampir sepertiga kopi yang dikonsumsi di seluruh dunia, tetapi Cina melipatgandakan konsumsinya hanya dalam lima tahun terakhir.

Sedangkan Kanada, angkanya tetap besar karena lebih dari 90 persen orang dewasa Kanada minum kopi. Beberapa studi mutakhir menunjukkan kopi sebagai pilihan yang sehat, mungkin itulah salah satu faktor meningkatnya jumlah peminum kopi.

Apa pun, permintaan sangat besar di kebanyakan negara Barat, dan itu memberi tekanan semakin berat bagi negara-negara produsen kopi. Namun, ketika perubahan iklim mengintai, ada ancaman nyata bagi kisah sukses global kopi.

Kopi ditanam di lebih dari 60 negara

Kopi adalah komoditas yang paling banyak diperdagangkan di dunia setelah minyak.

Biji kopi ditanam di lebih dari 60 negara dan menyediakan mata pencaharian bagi 25 juta keluarga di seluruh dunia. Produsen kopi terbesar sejauh ini adalah Brasil, disusul Vietnam dan Kolombia.

Secara global, 2017 bisa menjadi tahun rekor, ketika kemungkinan besar dunia akan memproduksi lebih dari 153 juta karung goni 60 kilogram kopi. Harga berjangka kopi turun karena itu, tetapi kita masih belum melihat sama sekali sebuah panen raya.

Produksi sedikit bergeser selama beberapa tahun terakhir. Dengan curah hujan yang bagus di Brasil dan pola cuaca yang menguntungkan di daerah-daerah lain di dunia, sejauh ini alam bermurah hati kepada pembudi daya kopi, tetapi keberuntungan mereka mungkin akan habis.

Walaupun bukan kebutuhan pokok pangan, kopi adalah bisnis besar. Di tingkat petani, kopi bernilai lebih dari AS$100 miliar. Di sektor ritel, industri kopi bernilai AS$10 miliar.

Tetapi terdapat konsensus yang semakin meluas di kalangan ahli bahwa perubahan iklim akan berpengaruh sangat buruk pada produksi selama 80 tahun ke depan. Pada tahun 2100, lebih dari 50 persen lahan yang dimanfaatkan untuk menanam kopi sudah tidak bisa ditanami lagi.

Ethiopia bisa terkena dampak serius

Sebuah kombinasi berbagai efek, karena suhu lebih tinggi dan pergeseran pola hujan, akan membuat tanah di mana kopi saat ini ditanam menjadi tidak cocok untuk produksinya.

Menurut National Academy of Science, di Amerika Latin saja, lebih dari 90 persen lahan yang digunakan untuk produksi bisa mengalami nasib ini. Diperkirakan bahwa Ethiopia, produsen terbesar keenam di dunia, bisa kehilangan lebih dari 60 persen produksinya pada tahun 2050. Dan itu hanya satu generasi dari sekarang.

Ketika kondisi iklim menjadi kritis, penghidupan jutaan petani dipertaruhkan dan kapasitas produksi terancam bahaya. Kontributor potensial lain dari kejatuhan yang diprediksi ini adalah hama dan penyakit.

Seiring perubahan iklim, penanganan hama dan kontrol penyakit menjadi masalah serius bagi para petani yang tidak sanggup melindungi tanaman mereka. Lebih dari 80% pembudi daya kopi adalah petani gurem.

Petani kopi di Bali. Penghidupan jutaan petani kopi di dunia terancam krisis iklim. Shutterstock

Hama dan penyakit akan berpindah ke daerah-daerah dengan suhu yang cocok demi kelangsungan hidup, dan sebagian besar petani tidak akan siap. Banyak yang akan memilih banting setir menanam hasil bumi lain yang tidak begitu rentan terhadap perubahan iklim. Yang lainnya lagi mungkin berusaha meningkatkan produksi kopi mereka, tetapi dengan kualitas yang jelas rusak.

Kualitas kopi akan merana

Suhu yang lebih tinggi akan mempengaruhi kualitas kopi. Kopi bermutu tinggi ditanam di daerah-daerah tertentu di dunia dengan iklim yang memungkinkan biji kopi masak pada saat yang tepat. Kopi Arabika, misalnya, yang menguasai 75 persen produksi kopi dunia, akan menjadi produk di bawah rata-rata jika suhu naik beberapa derajat lagi.

Tak pelak ini akan mempengaruhi harga dan kualitas kopi bagi kita semua. Berkat apa yang disebut Efek Starbucks, kualitas kopi yang kini kita nikmati jauh lebih unggul dari kualitas satu dekade silam. Biji-biji kopi bagus mungkin menjadi lebih sulit diproduksi di masa mendatang.

Saat ini, harga berjangka kopi senilai AS$1,28 per pon dan menghadapi tekanan turun. Jika situasinya terus begini, harga tercatat AS$3,39 per pon, yang ditetapkan pada tahun 1977, bisa kembali lagi hanya dalam beberapa tahun.

Perang kopi yang sedang kita saksikan bukan cuma soal mendapatkan pangsa pasar dan memancing konsumen dengan secangkir kopi. Perang itu juga soal bagaimana kita terkait dengan satu hasil bumi yang sedang dikepung perubahan iklim.

Tidak cukup gencar memerangi perubahan iklim, boleh jadi kita dipaksa mengubah hubungan kita dengan kopi. Ketika negara-negara produsen kopi saat ini berusaha mengembangkan metode-metode ramah lingkungan dan menerapkan praktik-praktik berkelanjutan, Kanada bisa menjadi negara berikutnya di mana kopi benar-benar ditanam, bukan cuma dipanggang.

Pada dekade mendatang, dengan perubahan iklim dan teknologi-teknologi baru, mungkin memproduksi biji kopi akan lebih masuk akal dilakukan di Kanada. Lagi pula, jika Elon Musk beranggapan kita bisa mulai mengolonisasi Mars pada tahun 2022, mengapa kita tidak bisa menanam kopi di Kanada?

Jadi, apabila sebuah jaringan kopi menawarkan kopi gratis, terima saja. Tak lama lagi kopi bisa menjadi barang mewah.

This article was originally published in English