File 20170915 6512 j3nrlb.jpg?ixlib=rb 1.1

Jakarta City Philharmonic: merayakan perbedaan melalui orkestra

Kondisi mental bukan hambatan kreativitas sehingga kita perlu mengevaluasi kembali kategorisasi “normal” dan “abnormal” Eva Tobing/DKJ

Jakarta City Philharmonic: merayakan perbedaan melalui orkestra

Orkestra Jakarta City Philharmonic (JCP) besok malam, 19 September 2017 akan menampilkan konserto piano yang digubah untuk seorang pianis difabel.

Pada malam yang sama, untuk pertama kalinya musik dangdut akan ditampilkan oleh sebuah orkestra berskala besar.

Salah satu nomor yang akan dipentaskan JCP Selama malam adalah Konserto Piano untuk Tangan Kiri karya Maurice Ravel, sebuah karya pesanan pianis Paul Wittgenstein (kakak filsuf Ludwig Wittgenstein) yang kehilangan tangan kanannya pada saat Perang Dunia I. Selain Ravel, Wittgenstein memesan sekitar 17 konserto dari para komposer untuk dapat ia mainkan dengan tangan kirinya.

Selain itu, JCP akan mengangkat Potret Dangdut karya Dadang Saputra, seorang komponis muda berpendidikan musik klasik Barat yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah perkampungan Madiun yang lekat dengan musik dangdut, campursari, dan qasidah. Dalam catatan karyanya, Saputra ingin membuktikan bahwa dangdut adalah bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, merupakan arena perpaduan materialitas berbagai budaya, terlepas dari sekat-sekat sosial-ekonomi pendengarnya ataupun media pementasannya (musisi lokal versus orkestra ala Barat).

Konser Selasa malam adalah konser JCP ke-7 sejak November 2016. Tema konser Edisi 7 adalah “Perancis & Prix de Rome”.

Musik untuk perdamaian

JCP diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Hampir setahun JCP hadir di Jakarta sebagai upaya menyebarluaskan kesenian bernas ke masyarakat luas, bukan hanya melalui tiket gratis tetapi juga melalui tema-tema yang menyentuh masalah sosial-budaya di Indonesia.

JCP mengadakan pertunjukan secara reguler setiap bulan, di Gedung Kesenian Jakarta di Jakarta Pusat.

Musisi Eric Awuy (kiri) dalam orkestra Jakarta City Philharmonic (JCP). JCP hadir setiap bulan di Gedung Kesenian Jakarta, bebas biaya. Eva Tobing/DKJ

JCP mengutamakan karya musik simfonik anak bangsa untuk ditampilkan pada setiap edisi pementasan. JCP juga bertujuan menjadi sarana dialog kultural untuk masyarakat. JCP juga ingin berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia melalui musik.

Musik sebagai obor perubahan sosial

Praktik-praktik diskriminasi terhadap kaum difabel terselip dalam sejarah musik dan perkembangan masyarakat, seperti yang terjadi di Eropa pra dan pasca Abad Pencerahan, yang keduanya perlu dipandang secara kontekstual.

Musikolog Joseph Straus, dalam bukunya Extraordinary Measures: Disability in Music, mengategorikan disabilitas dalam dua pengertian, yaitu sebagai kenyataan material dan yang berdasarkan konstruksi sosial dan budaya. Di sini, ia mendefinisikan disabilitas sebagai “perbedaan kondisi ketubuhan yang diberi stigma secara kultural”.

Dalam definisi yang dikonstruksi secara sosial, disabilitas seringkali menjadi hal yang tabu untuk diangkat ke permukaan. Misalnya, psikosis Robert Schumann, komposer Jerman, dianggap “mencemari” karya-karya terakhirnya.

Pada konser Edisi 5 JCP menawarkan alternatif bagi narasi tersebut. Konser berjudul “Sch/jumanniana” (12 Juli 2017) menampilkan rangkaian karya orkestra Schumann dan Aksan Sjuman dan menggarisbawahi kesamaan perjalanan hidup Schumann dan Sjuman.

Tak hanya pelafalan nama keduanya yang homofon tetapi juga kesamaan kondisi. Kondisi mental Schumann dan skizofrenia Sjuman tidak menghambat kreativitas keduanya. Kita perlu mengevaluasi kembali apakah kategorisasi seperti “normal” atau “abnormal” tetap relevan untuk mendefinisikan pengalaman ketubuhan manusia. Konser tersebut mendapat sambutan yang hangat, baik seusai pementasan maupun di media.

Under Umbrella for “M” karya Aksan Sjuman. Pengaba Budi Utomo Prabowo.

Dalam pandangan Straus, stigma bahwa disabilitas merupakan antitesis dari kreativitas dapat diubah melalui cara pandang seniman terhadap proses berkarya mereka sendiri. Para seniman difabel dapat membingkai pertunjukan seni mereka sebagai “seniman yang menampilkan disabilitas”.

Sebagai contoh, pianis Glenn Gould dengan sengaja menampilkan autismenya melalui isolasi diri total ibarat kesurupan ketika bermain piano.

Cara lain adalah mengikutsertakan disabilitas dalam ranah praksis, sebagaimana JCP merayakan karakter eksentrik Schumann dan Sjuman sebagai cara memahami esensi manusia dengan segala spektrum dan pencapaiannya.

Penyertaan karya Maurice Ravel untuk Paul Wittgenstein dan Dadang Saputra dalam konser besok malam sekaligus menegaskan posisi JCP yang mendukung keberagaman; idealisme akan kemanusiaan yang bebas dari penindasan, egaliter, dan menembus batasan-batasan yang seringkali diciptakan oleh manusia sendiri.

Musik sebagai kritik sosial

Rancangan program JCP selama hampir setahun ini dikerangkai pemikiran sosiolog Inggris, Gillian Rose. Rose mengatakan seni bukanlah imitasi atau pantulan dari kenyataan tetapi ia merupakan perenungan yang melampaui kenyataan objektif. JCP juga diilhami filsuf Jerman Theodor Adorno yang berpendapat bahwa karya seni mengejawantahkan kebebasan berpikir dan kekritisan.

Edisi-edisi yang lalu mengangkat tentang diskriminasi yang mengancam kebinekaan serta memicu polarisasi identitas dalam masyarakat. Disadari atau tidak, benih-benih diskriminasi telah disemai secara ideologis, antara lain oleh peraturan daerah yang memberi ruang bagi tumbuh-suburnya ketidakadilan bagi kemanusiaan itu sendiri.

Secara umum, kebijakan-kebijakan pemerintah yang bersifat diskriminatif ditujukan kepada individu atau kelompok yang dianggap “berbeda”, seperti para penyandang disabilitas, kelompok minoritas agama, atau individu yang memiliki identitas gender tertentu.

Kebijakan pemerintah sebagai fondasi normatif bernegara dan bermasyarakat pada akhirnya bersifat dikotomis atau “hitam dan putih”, melabelkan manusia hanya sebatas kategori “normal” dan “abnormal”, atau “saya” dengan “liyan”.

Hal ini tercermin dalam kehidupan bermasyarakat; kekerasan terhadap “mereka yang berbeda” kerap kali terjadi, seperti praktik pemasungan penderita disabilitas mental yang masih marak terjadi di Indonesia.

Kritis lewat musik?

Apakah pemilihan program JCP dapat memicu daya kritis dan perubahan sosial? Kita masih harus terus melihat perkembangannya. Sepak terjang lembaga JCP sendiri belum genap setahun.

Yang pasti, JCP menyediakan ruang perenungan dan ruang kritis sebagai tanggapan atas isu-isu sosial dan kemanusiaan terkini, dan itu patut diapresiasi. Di masa depan, konsistensi JCP dalam menciptakan dialog kultural dan perdamaian dunia—sebagaimana visinya—akan senantiasa diuji.


Informasi mengenai konser Edisi ke 7 dan yang berikutnya bisa dilihat di situs Dewan Kesenian Jakarta.