Jika lutut sakit, tetaplah berolahraga. Mengapa?

Jika lutut sakit, tetaplah berolahraga. Mengapa?

Bila Anda berolahraga pada usia tua, sebagai pengobatan untuk nyeri persendian atau pinggul, Anda akan merasakan rasa sakit sedikit yang sifatnya sementara dan semakin lama semakin bertambah. Tapi jika Anda terus melanjutkan, Anda akan mendapatkan rasa sakit tersebut hilang yang efeknya serupa dengan sebuah obat anti-inflamasi non-steroid seperti ibuprofen, dan dua kali lipat dari pembunuh rasa sakit tanpa resep seperti parasetamol.

Kenyataannya, pereda sakit karena berolahraga cukup besar sehingga banyak orang menunda operasi lutut atau pinggul mereka.

Aktivitas fisik penting untuk kesehatan yang baik dan diresepkan oleh dokter untuk mengobati sejumlah penyakit, termasuk diabetes dan penyakit kardiovaskuler. Tapi banyak orang tidak mengikuti saran ini karena nyeri sendi dan takut bahwa olahraga mungkin membahayakan persendian.

Secara paradoks, riset dalam dua puluh tahun terakhir telah menemukan bahwa olahraga adalah hal bagus untuk pereda nyeri. Kini, olahraga direkomendasikan di seluruh dunia sebagai pengobatan untuk sendi yang sakit pada usia setengah baya dan orang lebih tua lagi. Namun, jika memberikan rekomendasi adalah satu hal. Maka mempraktikkan rekomendasi ini adalah hal lain yang sama sekali berbeda.

Kebanyakan orang mengalami peningkatan nyeri 100% ketika mereka mulai berolahraga - beberapa mengalami lebih banyak, yang lain lebih sedikit. Ini bukan tanda peringatan tapi tubuh menandakan bahwa Anda melakukan sesuatu yang tidak biasa Anda lakukan. Tubuh kita, termasuk tulang, otot, dan tulang rawan sangat bagus dalam beradaptasi dan kualitas mereka meningkat ketika kita berolahraga.

Berapa banyak pereda sakit yang akan Anda dapat tergantung pada seberapa banyak olahraga yang Anda lakukan. Dalam studi kami dari 10.000 orang yang mengalami osteoarthritis lutut dan pinggul, kami menemukan bahwa orang-orang yang berolahraga dua kali sepekan selama tujuh minggu mengalami rata-rata 25% pereda sakit.

Riset sebelumnya juga menunjukkan bahwa orang-orang yang berolahraga dalam kelompok-kelompok, yang disupervisi oleh seorang fisioterapis, mengalami pereda sakit lebih besar dibanding orang yang berolahraga di rumah dan tanpa supervisi. Alasan untuk perbedaan ini mungkin karena kita bekerja lebih keras dan berani melakukan lebih karena dibimbing oleh fisioterapis dengan pengetahuan spesialis.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari olahraga, Anda harus merasa sesak nafas atau berkeringat sedikit dan meningkatkan level kesulitan olahraga saat tubuh Anda semakin kuat.

Partisipan olahraga dalam riset GLAD Denmark. Author provided

Dua aturan simpel

Anda dapat berolaharga secara aman dengan mengikuti dua peraturan nyeri sederhana. Pertama, nyeri yang Anda alami setelah olahraga harus pada level yang dapat ditoleransi. Dan kedua, Anda tidak harus mengalami peningkatan sakit dari hari ke hari.

Rasa sakit harus dinilai setiap hari setelah olahraga dengan skala 0-10. Pada skala ini, 0-2 dinilai “aman”, 2-5 “dapat diterima”, dan 5-10 “hindari”.

Katankanlah rasa sakit yang biasa alami adalah tiga dan setelah olahraga levelnya lima. Itu tidak masalah. Jika rasa sakit Anda biasanya tiga dan setelah olahraga meningkat jadi tujuh, Anda telah melakukan terlalu banyak dan harus mengurangi waktu olahraga berikutnya.

Jika rasa sakit meningkat menjadi lima setelah olahraga, tapi pekan berikutnya kembali ke tiga – rasa sakit pagi yang biasa Anda alami — itu baik-baik saja. Jika rasa sakit meningkat sampai lima setelah olahraga dan masih empat atau lima pagi berikutnya (ini lebih banyak dibanding rasa sakit pagi yang biasa Anda rasakan), Anda telah melakukan terlalu banyak dan harus menguranginya. Tetaplah berolahraga, tapi dengan rasa sakit pada level yang lebih rendah.

Olahraga dengan radang sendi

Menariknya, riset kami menunjukkan bahwa cukup aman bagi penderita radang sendi parah untuk berolaharga. Ketika orang yang menderita radang sendi parah atau penyempitan ruang sendi mengikuti dua aturan di atas, maka hasilnya 95% dari seluruh sesi olahraga dilakukan dengan rasa sakit yang dapat diterima dan rasa sakit jadi lega setelah beberapa minggu.

Dalam sebuah studi terbaru, kami mendaftarkan orang-orang yang kebanyakan menderita peradangan sendi parah yang memenuhi semua kriteria untuk menjalani operasi pergantian lutut. Semua partisipian menerima informasi tentang radang sendi dan pengobatannya, termasuk pertolongan dari diri sendiri. Mereka juga ambil bagian dalam sesi olahraga yang disupervisi dua kali sepekan selama delapan minggu dan mengunjungi ahli diet jika mereka kelebihan berat badan.

Separuh dari partisipan diacak untuk diganti lututnya. Di antara mereka yang memutuskan agar sendi mereka tidak perlu diganti secara mendadak, hanya seperempatnya yang memilih mengganti sendi mereka dalam setahun. Dengan kata lain, perada rasa sakit yang orang-orang rasakan sebagai hasil dari olah raga cukup bagi tiga per empat dari jumlah partisipan untuk menunda operasi setidaknya setahun.

Olahraga, terutama yang tersupervisi, memberikan pereda rasa sakit yang efektif, tapi membutuhkan upaya fisik dan keringat. Pengobatan pasif, seperti terapi manual, pijat jaringan dalam dan peregangan otot, yang diberikan oleh fisioterapis, tampaknya tidak bekerja untuk orang-orang yang pinggul dan lututnya nyeri.

This article was originally published in English