Kepunahan mamut berbulu dan megafauna lainnya menyebabkan hewan yang masih hidup berpisah. Wikimedia

Kepunahan besar pada zaman es kemungkinan membuat hewan yang tersisa terpisah-pisah

Saat dunia bergulat dengan krisis kepunahan, mamalia besarlah yang paling terancam. Spesies-spesies yang terancam ini - badak, panda, harimau, beruang kutub, dan sejenisnya - sangat berpengaruh dalam ekosistem mereka. Jadi apa yang akan terjadi pada hewan-hewan kecil yang ditinggalkan?

Kepunahan fauna yang begitu besar pada masa lalu bisa memberi kita petunjuk. Ribuan tahun yang lalu, banyak mamalia besar punah termasuk mamut, kucing bergigi saber, dan wombat raksasa Australia. Kepunahan terjadi pada waktu yang berbeda, tak lama setelah penguasaan oleh manusia terjadi di setiap benua.

Dalam sebuah studi yang saya pimpin, diterbitkan dalam jurnal Science, kami menemukan bahwa setelah megafauna punah, banyak spesies mamalia yang tersisa hidup sendiri-sendiri. Hal ini melemahkan koneksi antar spesies dan mungkin membuat ekosistem lebih rentan.

Ketika aktivitas manusia mendorong kepunahan megafauna modern, penelitian kami memberikan wawasan berharga tentang dampak potensial bagi spesies yang selamat yang lebih kecil.

Banyak mamalia besar seperti beruang kutub berisiko punah. Henry H. Holdsworth/Natural Habi

Hasil mengejutkan

Tim kami menganalisis catatan fosil berusia 21.000 tahun dari 93 spesies mamalia di ratusan lokasi di Amerika Utara, sebelum kepunahan terjadi.

Kami kemudian menentukan sejauh mana spesies tertentu hidup berdampingan dengan spesies lain untuk setiap lokasi. Kami menemukan bahwa setelah kepunahan mamalia besar, mamalia kecil kerap menjauhkan diri dari spesies dekatnya, dan hasilnya mereka jauh lebih jarang ditemukan bersama dari yang diduga.

Anehnya, pemisahan ini terjadi ketika mereka yang tersisa menduduki habitat baru setelah kepunahan itu - yang berarti meningkatnya ruang potensial untuk tinggal bersama.

Diagram di bawah ini menunjukkan kemungkinan bagaimana spesies hewan hidup berdampingan sebelum dan sesudah kepunahan megafauna. Pada diagram pertama, dua spesies menempati area yang sama (situs oranye). Pada diagram kedua, hewan menempati area yang sama tapi lebih terpisah (situs merah dan kuning).

Created by Anikó Tóth

Pemisahan tersebut menunjukkan adanya sebuah perubahan interaksi antar spesies setelah peristiwa kepunahan. Spesies hewan yang selamat mungkin akan dengan cepat berkembang biak ketika mamalia besar menghilang, menyebabkan interaksi yang lebih kompetitif. Ini bisa mendorong mereka untuk saling mengasingkan dari tempat tinggal masing-masing.

Analisis kami menunjukkan dampak kepunahan megafauna yang masih dirasakan hingga saat ini - yang mengarah semakin terpisahnya spesies di seluruh benua, dan cara interaksi mereka yang lebih oportunistik.


Arahkan kursor ke siluet hewan untuk mempelajari lebih lanjut. Perhatikan perbedaan ukuran terbesar antara fauna di Amerika Utara 12.000 tahun yang lalu dan hari ini


Hewan-hewan saling membutuhkan

Hubungan antara spesies besar dan kecil adalah kunci dalam berjalannya ekosistem, membuatnya stabil dan tangguh. Mamalia besar saat ini relatif lebih kecil dibandingkan megafauna pada zaman es terakhir. Namun, mereka masih memainkan peran penting dalam membentuk ekosistem.

Sama seperti pada masa lalu, mamalia besar modern dapat mengendalikan hama, membantu penyebaran benih, dan menyebarkan nutrisi (dengan berjalan jauh dan membuang vegetasi yang dicerna). Ini bermanfaat bagi manusia dan spesies lainnya.


Read more: Why we need to protect the extinct woolly mammoth


Beberapa hewan besar juga membentuk dan membuat rumah untuk hewan lainnya. Sebagai contoh, gajah di Afrika mendorong pohon untuk menciptakan padang rumput terbuka, seperti sepupunya di era Pleistosen, mamut Kolombia. Hal ini memungkinkan spesies lain, seperti rusa dan zebra, untuk beradaptasi dengan padang rumput dan berbagi habitat.

Jika gajah punah dan tidak lagi mendorong pohon, padang rumput akan berubah dan hewan yang tersisa dapat mati atau mencari habitat baru. Dengan demikian, hilangnya interaksi antar spesies dapat membuat ekosistem kurang stabil dan lebih rentan.

Dan kepunahan hewan memiliki efek bola salju dalam hal interaksi spesies. Jika separuh spesies dalam suatu komunitas punah, maka paling tidak tiga perempat dari kemungkinan interaksi dalam sistem akan ikut mati.

Thylacoleo carnifex, singa berkantung yang telah punah. Image credit: Mauricio Antón

Pelajaran untuk konservasi di Australia

Meskipun penelitian kami terbatas di Amerika Utara, temuan di dalamnya memiliki potensi untuk menjadi acuan dalam upaya konservasi di Australia dan memberi pencerahan tentang masa lalu.

Catatan fosil dan catatan sejarah Australia mendokumentasikan banyak spesies mamalia besar yang telah punah. Sebagai contoh, lebih dari 40.000 tahun yang lalu manusia memusnahkan karnivora besar seperti singa berkantung, dan baru-baru ini, harimau Tasmania.

Orang-orang juga memperkenalkan karnivora berukuran sedang yang invasif, seperti rubah dan kucing liar, yang sudah bertahun-tahun ini penyebarannya tidak terkendali. Hal ini merusak rangkaian unik hewan berkantung Australia yang lebih kecil dan beragam.


Read more: An end to endings: how to stop more Australian species going extinct


Saat ini, pemusnahan kucing liar adalah masalah konservasi utama di Australia. Seandainya singa berkantung masih ada, kucing liar mungkin telah dibunuh dan disingkirkan oleh hewan-hewan yang lebih besar ini, memperlambat penyebaran mereka.

Ketika merencanakan konservasi dan pengelolaan hewan, mungkin sama pentingnya untuk melindungi interaksi antar hewan, seperti halnya menyelamatkan individu-individu spesies. Ketika memperkenalkan atau menghilangkan spesies sebagai bagian dari inisiatif lingkungan, sangat penting untuk mempertimbangkan semua interaksi yang perlu kita tambahkan.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English