Kata-kata menjelaskan dunia kita. Curioso via Shutterstock

Kuasa bahasa: Kata-kata menerjemahkan pikiran dan pengaruhi cara berpikir

Pernahkah pada masa sekolah atau di kemudian hari Anda mengkhawatirkan bahwa waktu Anda untuk mencapai semua cita-cita Anda akan habis? Jika demikian, apakah akan lebih mudah menyampaikan perasaan ini kepada orang lain jika ada kata yang memiliki makna itu? Dalam bahasa Jerman, ada. Perasaan panik yang terkait dengan peluang seseorang yang tampaknya akan habis disebut Torschlusspanik.

Bahasa Jerman memiliki banyak koleksi istilah seperti itu, terdiri dari dua, tiga atau lebih kata yang tersambung untuk membentuk satu kata super atau kata majemuk. Kata majemuk sangat kuat karena mereka bermakna lebih dari bagian-bagian pembentuk kata tersebut. Torschlusspanik, misalnya, secara harfiah tersusun dari “gerbang” - “menutup” - “panik”.

Jika Anda tiba di stasiun kereta sedikit terlambat dan melihat pintu kereta Anda masih terbuka, Anda mungkin pernah mengalami satu bentuk konkret Torschlusspanik, didorong oleh bunyi beep khas saat pintu kereta hendak ditutup. Tapi kata majemuk dari Jerman ini memiliki asosiasi yang lebih kaya dari sekadar makna literal. Kata ini membangkitkan sesuatu yang lebih abstrak, merujuk pada perasaan bahwa kehidupan semakin menutup pintu peluang seiring berjalannya waktu.

Bahasa Inggris juga mempunyai banyak kata majemuk. Beberapa menggabungkan kata-kata yang konkret seperti “seahorse” (kuda laut), “butterfly” (kupu-kupu), atau “turtleneck” (sweater yang kerahnya menutupi leher). Lainnya lebih abstrak, seperti “backwards” (mundur) atau “whatsoever” (apa pun). Dan tentu saja seperti dalam bahasa Jerman atau bahasa Prancis, dalam bahasa Inggris kata majemuk juga termasuk kata-kata super, karena maknanya sering berbeda dari arti kata per kata. Seekor kuda laut (seahorse) bukan kuda (horse), seekor kupu-kupu (butterfly) bukan seekor lalat (fly), penyu (turtles) tidak memakai sweater dengan kerahnya menutupi leher (turtleneck), dan lainnya.

Salah satu ciri luar biasa dari kata majemuk adalah ketika diterjemahkan ke dalam bahasa lain hasilnya tidak pas, paling tidak ketika kata itu diterjemahkan secara harfiah per bagian. Siapa yang menyangka bahwa “lembaran-bawa(carry-sheets)” adalah dompet (wallet) - porte-feuille -, atau bahwa “dukung-tenggorokan (support-throat)” adalah BH - soutien-gorge - dalam bahasa Prancis?

Ini menimbulkan pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika kita sulit menemukan padanan sebuah kata dalam bahasa lain. Misalnya, apa yang terjadi ketika seorang penutur asli bahasa Jerman mencoba menyampaikan dalam bahasa Inggris bahwa mereka baru saja berlari cepat karena Torschlusspanik? Secara alami, mereka akan memparafrase, yaitu, mereka akan membuat narasi dengan contoh-contoh untuk membuat lawan bicara mereka memahami apa yang mereka coba katakan.

Tapi kemudian, ini menimbulkan pertanyaan lain yang lebih besar: Apakah orang-orang yang memiliki kata-kata yang tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa lain memiliki akses ke konsep yang berbeda? Ambil contoh hiraeth misalnya, kata yang indah dari bahasa Welsh yang terkenal karena tidak dapat diterjemahkan. Hiraeth dimaksudkan untuk menyampaikan perasaan yang terkait dengan ingatan pahit tentang kehilangan sesuatu atau seseorang, sambil bersyukur atas keberadaan mereka.

Hiraeth bukan nostalgia, itu bukan penderitaan, atau frustrasi, atau melankolis, atau penyesalan. Hiraeth juga menyampaikan perasaan yang dialami seseorang ketika mereka meminta seseorang untuk menikahi mereka dan mereka ditolak.

Kata yang berbeda, pikiran yang berbeda?

Keberadaan sebuah kata dalam bahasa Welsh untuk menyampaikan perasaan khusus ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang hubungan pemikiran-bahasa. Filsuf seperti Herodotus (450 SM) menanyakan hal ini pada masa Yunani kuno. Pertanyaan ini muncul kembali pada pertengahan abad terakhir, di bawah dorongan Edward Sapir dan mahasiswanya Benjamin Lee Whorf. Pertanyaan ini telah berkembang menjadi yang dikenal sebagai hipotesis relativitas linguistik.

Relativitas linguistik adalah gagasan bahwa bahasa, yang mayoritas orang setuju berasal dari dan mengekspresikan pemikiran manusia, dapat memberi umpan balik pada pemikiran, mempengaruhi pemikiran sebagai balasannya. Jadi, dapatkah kata-kata yang berbeda atau konstruksi tata bahasa yang berbeda “membentuk” cara berpikir secara berbeda dalam penutur bahasa yang berbeda? Ide ini mulai dilirik produsen budaya populer, dan muncul dalam film fiksi sains Arrival.

Meski ide ini intuitif bagi sebagian orang, terdapat klaim berlebihan tentang tingkat keragaman kosakata di beberapa bahasa. Klaim semacam ini mendorong ahli bahasa terkenal untuk menulis esai satir seperti “hoax kosakata Eskimo yang begitu banyak”, saat Geoff Pullum mencela fantasi tentang jumlah kata yang digunakan oleh orang Eskimo untuk merujuk pada salju. Namun, berapa pun jumlah kata sebenarnya untuk salju di Eskimo, Pullum gagal menjawab pertanyaan penting: apa yang sebenarnya kita ketahui tentang persepsi orang Eskimo tentang salju?

Meski banyak kritik terhadap hipotesis relativitas linguistik, penelitian eksperimental untuk mencari bukti ilmiah adanya perbedaan antara penutur bahasa yang berbeda semakin banyak. Contohnya, Panos Athanasopoulos di Lancaster University, telah membuat pengamatan yang mengejutkan bahwa adanya kata-kata khusus untuk membedakan kategori warna beriringan dengan kemampuan apresiasi kontras warna.

Jadi, ia menunjukkan, penutur asli bahasa Yunani, yang memiliki istilah khusus untuk biru terang dan biru tua (masing-masing ghalazio dan ble) cenderung menganggap berbagai macam warna biru berbeda satu sama lain ketimbang penutur asli bahasa Inggris, yang menggunakan istilah yang sama “blue” untuk menggambarkannya.

Tapi para pemikir termasuk Steven Pinker di Harvard tidak terkesan, dengan alasan bahwa efek seperti itu sepele dan tidak menarik, karena individu yang terlibat dalam eksperimen cenderung menggunakan bahasa di kepala mereka ketika membuat penilaian tentang warna–sehingga perilaku mereka secara dangkal dipengaruhi oleh bahasa, sementara semua orang melihat dunia dengan cara yang sama.

Agar perdebatan ini lebih berkembang, saya percaya kita perlu mempelajari otak manusia, dengan mengukur persepsi secara lebih langsung, terutama dalam waktu yang singkat sebelum akses mental ke bahasa. Hal ini mungkin terjadi saat ini, berkat metode neurosains dan - secara luar biasa - hasil awal condong mendukung intuisi Sapir dan Whorf.

Jadi, ya, suka atau tidak, mungkin saja memiliki kata-kata yang berbeda berarti memiliki pikiran yang terstruktur berbeda.

This article was originally published in English