Laju kepunahan tanaman 350 kali lebih cepat akibat kerusakan habitat saat ini

Jumlah kelangkaan tumbuhan terus meningkat, seiring dengan pembukaan lahan dan perubahan iklim. Graphic Node/Unsplash, CC BY-SA

Bumi kehilangan jumlah spesies dengan cepat, begitu cepat bahkan beberapa ahli ekologi menyebutnya sebagai Kepunahan Massal ke-6.

Laporan PBB yang dikeluarkan pada bulan Mei memperingatkan bahwa satu juta spesies terancam punah. Berita ini dilanjutkan dengan penemuan baru-baru ini bahwa 571 spesies tumbuhan telah dinyatakan punah.

Kepunahan lazim terjadi selama adanya kehidupan di Bumi. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah laju kepunahan spesies telah meningkat?

Penelitian kami, yang diterbitkan di Current Biology, menemukan laju kepunahan untuk beberapa tanaman 350 kali lebih cepat daripada rata-rata secara historis. Hal ini juga akan menimbulkan dampak bagi spesies unik.


Read more: Earth's sixth mass extinction has begun, new study confirms


Mengukur tingkat kepunahan

“Berapa banyak spesies yang akan punah” bukan pertanyaan mudah untuk dijawab. Hal ini karena masih kurangnya data kepunahan kontemporer yang akurat di seluruh dunia dan persebaran spesies tidak merata di Bumi.

Misalnya, Madagaskar memiliki sekitar 12.000 spesies tumbuhan, 80% dari jumlah tersebut adalah tanaman endemik (tidak dapat ditemukan di tempat lain).

Sementara itu, Inggris hanya mempunyai 1.859 spesies tumbuhan dan hanya 75 (atau 4% dari total tumbuhan) merupakan endemik.

Daerah seperti Madagaskar, yang memiliki keanekaragaman hayati luar biasa yang saat ini berada dalam kondisi kritis akibat kerusakan manusia, disebut dengan daerah “hotspot”.

Hanya berdasarkan pada angka, daerah hotspot keanekaragaman hayati diperkirakan akan kehilangan banyak spesies karena kepunahan dibanding daerah yang keanekaragaman hayati yang rendah (coldspots) seperti Inggris.

Tetapi, itu tidak berarti daerah coldspots tidak layak untuk dilestarikan karena daerah-daerah tersebut justru memiliki tanaman yang benar-benar unik.

Tim kami merupakan bagian dari tim internasional yang baru-baru ini menganalisis 291 kepunahan tumbuhan modern antara daerah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan rendah.

Kami melihat garis besar dari penyebab kepunahan, waktu terjadi kepunahan, dan seberapa unik spesies tersebut. Berbekal informasi ini, kami menganalisa bagaimana kepunahan antara hotspot dan coldspot bisa berbeda.

Hasilnya tidak mengejutkan, kami menemukan bahwa daerah hotspot akan kehilangan lebih banyak spesies, lebih cepat, daripada coldspot.

Pertanian dan urbanisasi menjadi pendorong utama kepunahan tanaman baik di daerah hotspot maupun coldspot, menegaskan pandangan umum bahwa kerusakan habitat adalah penyebab utama sebagian besar kepunahan spesies tanaman.

Secara keseluruhan, tanaman menahun (tanaman yang hidup lebih dari dua tahun), seperti rumput sangat rentan terhadap kepunahan.

Namun, coldspot cenderung kehilangan lebih banyak spesies unik daripada hotspot.

Sebagai contoh, tujuh kepunahan coldspot menyebabkan hilangnya tujuh genus bahkan seluruh famili tumbuhan. Jelas bahwa coldspot juga mewakili daerah dengan keanekaragaman hayati unik yang penting bagi konservasi.

Kami juga menunjukkan bahwa tingkat kepunahan baru-baru ini berada pada puncaknya, yaitu 350 kali lebih tinggi daripada tingkat kepunahan secara historis.

Para ilmuwan sebelumnya telah berspekulasi bahwa kepunahan tanaman modern akan melampaui tingkat historis hingga beberapa ribu kali selama 80 tahun ke depan.

Jadi, mengapa prediksi kami tentang kepunahan tanaman sangat rendah?

Pertama, kurangnya data komprehensif yang membatasi kesimpulan yang dapat dibuat tentang kepunahan modern.

Kedua, tanaman memiliki keunikan - beberapa di antaranya hidup dalam waktu yang sangat lama, dan banyak yang dapat bertahan dalam kepadatan rendah karena adaptasi yang unik, seperti mampu bereproduksi tanpa adanya pasangan.

Coba kita andaikan kita hanya memiliki lima individu baobab Grandidier (Adansonia grandidieri) yang tersisa di alam liar. Pohon ikonik Madagaskar ini adalah satu dari sembilan spesies dari genusnya yang dapat hidup selama ratusan tahun.

Oleh karena itu, sejumlah kecil pohon individu ini mungkin dapat “bertahan” (situasi yang biasa disebut “utang kepunahan”) tetapi pasti akan punah di masa depan.

Pada akhirnya, memastikan bahwa tumbuhan sudah punah sangat sulit, karena mereka sering sangat sulit dikenali, dan kami tidak yakin apakah yang kami temukan adalah yang individu terakhir dalam jenisnya.

Memang, sebuah laporan baru-baru ini menemukan 431 spesies tanaman yang sebelumnya dianggap punah telah ditemukan kembali. Jadi, tingkat kepunahan tanaman nyata dan kepunahan di masa depan cenderung jauh melebihi perkiraan saat ini.

Tidak diragukan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim merupakan beberapa tantangan terbesar yang dihadapi manusia.

Ditambah dengan perusakan habitat oleh manusia, maka dampak perubahan iklim diperkirakan akan sangat parah bagi keanekaragaman hayati tanaman. Perkiraan saat ini tentang kepunahan tanaman, tanpa diragukan, adalah perkiraan yang terlalu rendah.


Read more: Despite thoughts of death, atheists’ convictions grow stronger


Meski demikian, tanda-tandanya sangat jelas. Jika kita memampatkan seluruh sejarah Bumi yang berumur 4,5 miliar tahun menjadi satu tahun kalender, maka kehidupan baru mulai berevolusi di suatu waktu di bulan Juni, dinosaurus muncul di sekitar Natal, dan era manusia dimulai hanya beberapa milidetik menjelang Malam Tahun Baru.

Tingkat kepunahan tanaman modern yang melebihi tingkat historis ratusan kali lebih cepat selama periode yang singkat akan menyebabkan bencana bagi masa depan planet kita.

Fahri Nur Muharom menerjemahkan artikel ini dari Bahasa inggris.

This article was originally published in English