Lewat propaganda berisi fantasi ISIS merekrut anggota

ISIS telah menggunakan propaganda penuh fantasi yang menggambarkan Negara Islam tersebut sebagai sebuah wilayah yang penuh kebahagiaan melalui media sosial untuk mendapatkan pendukung. www.shutterstock.com

Negara Islam, yang lebih dikenal sebagai ISIS, saat ini telah kehilangan banyak wilayah yang dulunya mereka kuasai, termasuk kota yang dulunya adalah ibu kota Negara Islam tersebut, Raqqa. Beberapa warga Indonesia yang telah pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS berhasil terbang keluar dari Raqqa ketika kota tersebut sedang diserang oleh milisi anti-ISIS.

Pada bulan September, polisi Indonesia melaporkan ada 600 orang Indonesia telah bergabung dengan ISIS. Apa yang menyebabkan mereka mau mengorbankan nyawanya dan bergabung dengan ISIS?

Kisah dari dua wanita Indonesia, Leefa dan Nur, yang pulang setelah bergabung dengan IS dapat memberikan beberapa petunjuk.

Keduanya mengatakan mereka terbang ke Raqqa setelah melihat foto dan video Negara Islam tersebut di internet. Leefa mengatakan bahwa dari video itu ia membayangkan ISIS sebagai tempat yang lebih layak untuk ditinggali.

ISIS telah menggunakan propaganda penuh fantasi yang menggambarkan Negara Islam tersebut sebagai sebuah wilayah yang penuh kebahagiaan melalui media sosial untuk mendapatkan pendukung.

Utopia Islamiah

Charlie Winter, peneliti senior di International Centre for the Study of Radicalisation and Political Violence (ICSR), dalam laporannya Documenting the Virtual “Caliphate” (2015) menulis bahwa ISIS memiliki enam instrumen untuk meningkatkan keberadaan dan tujuan strategisnya. Salah satunya adalah utopia Islamiah. Hal lainnya meliputi kekejian, belas kasihan, korban, perang, dan kepemilikan.

Utopia Islamiah adalah dasar propaganda penuh fantasi milik ISIS. Menurut Winter, utopia Islamiah adalah instrumen terpenting ISIS. Mereka mengembangkan cerita tentang bagaimana Muslim akan hidup dengan penuh sukacita dan kebahagiaan di bawah kekhalifahan dan hukum Islam ISIS.

ISIS mengembangkan khayalan tentang negara Islam melalui tujuh tema, yaitu agama, kegiatan perekonomian, pemerintahan, keadilan, kehidupan sosial, perluasan, dan alam. Di antara hal-hal tersebut, pemerintahan, agama, dan ekonomi adalah tiga tema paling utama.

ISIS membangun narasi bahwa negara Islam mereka memiliki sistem pemerintahan efektif yang dilengkapi dengan fasilitas sosial yang baik dan perekonomian yang maju. ISIS juga menyatakan bahwa “negara” mereka merupakan satu-satunya pelaksana agama Islam sejati. Mereka menggambarkan narasi ini melalui video yang menunjukkan gambar orang bersama-sama melakukan kegiatan keagamaan, seperti berdoa dan berbuka puasa.

Aaron Zelin, Peneliti dari Washington Institute for Near East Policy, melihat rilis media dari tanggal 18 April dan 24 April 2015. Ia menemukan 32 rilis media yang menggambarkan gagasan penuh fantasi di sekitar pemerintah, hisba (pengawasan moral), dan penyebaran kekhalifahan. Dalam rilis-rilis tersebut ISIS menggambarkan negara Islamnya sebagai sebuah kekhalifahan yang indah secara alamiah dengan kualitas pelayanan sosial yang tinggi dan penghormatan pada keadilan.

Fantasi

Fantasi, bayangan menyenangkan yang tidak berdasarkan kenyataan, adalah unsur penting dari pikiran manusia. Sebagai manusia, kita tidak hanya mengerti dunia kita berdasarkan pada apa yang kita lihat dan rasakan, tetapi juga berdasarkan pada apa yang kita pikirkan dan bayangkan. Seorang pribadi atau sebuah kelompok orang dapat menciptakan fantasi atau khayalan untuk kepentingan politik dan tujuan strategisnya.

Calon sasaran ISIS biasanya adalah pribadi yang memiliki pandangan hitam-putih terhadap dunia. Mereka cenderung berpikir dalam terminologi kategoris, seperti baik dan buruk atau benar dan salah. Mereka juga biasanya menyimpan dalam hati perasaan “kekurangan, tidak dihormati, penuh dengan hasrat yang tidak terpenuhi, marah kepada ketidakadilan yang nyata atau yang dirasakan, dan mereka yang menyalahkan orang atau lembaga lain atas kesengsaraan mereka”.

Beberapa lainnya bermimpi untuk memiliki pengalaman keagamaan yang lebih baik. Dengan memanfaatkan kesedihan dan mentalitas hitam-putih mereka, ISIS potential mengubah orang-orang seperti ini menjadi pendukung mereka.


Baca juga: Sejarah persekusi Rohingya di Myanmar


Menarik minat orang Indonesia

Untuk menarik minat audiens Indonesia, ISIS mengeluarkan video daring yang diperankan oleh anggota ISIS dari Indonesia untuk mengundang masyarakat Indonesia bergabung dengan mereka.

Leefa mengatakan ia kemudian menyesalkan keputusannya bergabung dengan ISIS. Leefa menjelaskan bahwa ia pergi ke Raqqa karena ia membayangkan wilayah ISIS sebagai tempat yang lebih layak ditinggali dan untuk menjadi penganut Muslim sejati. Ia berharap untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik di negara Islam tersebut dan menjalani operasi untuk penyakit lehernya.

Leefa mengatakan ia telah berbicara dengan anggota ISIS sebelum memutuskan untuk pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Obrolan langsung dengan calon anggota adalah bagian dari siasat pengerahan ISIS karena ISIS mengerti bahwa pesan pribadi lebih ampuh dalam meyakinkan orang.

Anggota ISIS juga mengadakan pertemuan keagamaan di masjid untuk menyebarkan propaganda penuh fantasi mereka.

Mereka berjanji kepada setiap orang yang pergi ke wilayah Negara Islam akan mendapatkan hidup yang lebih baik dan disediakan pelayanan publik gratis, seperti air, listrik, dan rumah. Mereka bahkan menjanjikan semua orang akan mendapatkan tunjangan bulanan berikut makanan gratis dan pelayanan kesehatan.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Leefa dan Nur menyatakan ketika mereka tiba di wilayah ISIS mereka menemukan bahwa informasi tentang Negara Islam dalam bayangan mereka berbeda total dari kenyataan.

Leefa, Nur, dan masyarakat Indonesia lainnya hanya mendengar cerita dari satu sisi, sisi milik ISIS. Mereka kekurangan informasi tentang ISIS karena dua alasan.

Di masa pasca-kebenaran saat ini, fakta telah menjadi kurang penting bila dibandingkan dengan kepercayaan pribadi. Orang-orang cenderung hanya ingin mendengarkan informasi yang sejalan dengan kepercayaan mereka. Pilih-pilih informasi dan membaca berita secara selektif sangatlah biasa di masyarakat seperti ini. Oleh karena itu, orang-orang hanya mendapat satu sisi cerita.

Jarak antara Indonesia dan wilayah ISIS di Timur Tengah juga mempersulit masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi langsung dan tepat tentang ISIS dan keadaan sebenarnya di wilayah yang mereka kendalikan.

ISIS mungkin telah kehilangan sebagian besar dari wilayah mereka, tetapi ada informasi tetapi kesadaran bahwa ISIS masih dapat memanfaatkan internet dan media sosial untuk mengerahkan orang dan menyebarkan propaganda penuh fantasi mereka sangatlah penting.

Metode rekrutmen ini telah terbukti ampuh dalam memikat banyak orang untuk bergabung dengan ISIS. Jadi, inilah saatnya bagi kita untuk menemukan cara untuk menentang propaganda serupa sekaligus melindungi orang-orang darinya.

This article was originally published in English

Found this article useful? A tax-deductible gift of $30/month helps deliver knowledge-based, ethical journalism.