File 20170829 23760 13ycrux.jpg?ixlib=rb 1.1

Makin banyak orang melajang—dan ini kabar baik untuk kita

Nathan Boadle/Unsplash

Makin banyak orang melajang—dan ini kabar baik untuk kita

Abad ke-21 adalah abadnya hidup melajang.

Hari ini, jumlah orang dewasa yang melajang di Amerika Serikat—dan banyak negara lain di dunia—meningkat jauh dari sebelumnya. Angka ini tak hanya menunjukkan orang melajang lebih lama sebelum mereka mengikatkan diri dalam pernikahan. Makin banyak orang dewasa yang melajang selamanya. Pada 2014, laporan Pew Report memperkirakan bahwa kelak saat orang muda sekarang ini menginjak usia 50, akan ada satu dari empat orang yang tidak menikah sama sekali.

Meningkatnya gaya hidup lajang membuat panik beberapa pihak. US News & World Report, misalnya, memperingatkan bahwa warga Amerika menganggap nilai-nilai moral negara mereka jelek dan memburuk, dan salah satu penyebab utama kekhawatiran mereka itu adalah banyaknya orang yang melajang.

Namun daripada beresah-resah, mungkin kita seharusnya merayakan fakta ini.

Saya seorang ilmuwan sosial yang selama 20 tahun terakhir meneliti dan menulis tentang para lajang. Yang saya temukan, meningkatnya jumlah orang lajang justru bermanfaat bagi kota-kota dan komunitas-komunitas kita, juga bagi saudara, teman, dan tetangga. Tren ini berpeluang mendefinisikan ulang pengertian dan batasan tradisional tentang rumah, keluarga, dan komunitas.

Hubungan yang mengikat

Selama bertahun-tahun, masyarakat tersusun oleh kumpulan-kumpulan keluarga inti yang tinggal di perumahan-perumahan suburban. Namun mulai ada tanda-tanda susunan seperti ini tak berjalan mulus.

Rumah-rumah seperti ini kerap kali terlalu terisolasi—terlalu jauh dari kantor dan dari rumah lain. Menurut sebuah survei yang berlangsung sejak 1974, orang Amerika berada di titik terendah untuk berbaur dengan tetangga mereka, apalagi mereka yang berada di pinggiran kota (suburban).

Namun studi menunjukkan, orang lajang melawan tren itu. Mereka justru lebih suka bersosialisasi dan menolong teman dan tetangga dibanding pasangan yang sudah menikah. Mereka juga lebih sering mengunjungi, menolong, memberi nasihat, dan tetap berkomunikasi dengan orang tua dan saudara.

Faktanya, orang yang tinggal sendirian justru menjadi nadi kehidupan perkotaan. Dibanding orang yang menikah mereka cenderung lebih aktif berpartisipasi dalam kelompok-kelompok masyarakat dan kegiatan publik, bergabung di kelas musik dan seni, serta pergi makan ke luar. Kaum lajang, terlepas apakah mereka tinggal sendirian atau bersama orang lain, juga lebih banyak menjadi relawan kegiatan organisasi sosial, kelompok pendidikan, rumah sakit, dan organisasi yang bergerak di bidang seni.

Sebaliknya, ketika pasangan memutuskan hidup bersama atau menikah, mereka cenderung tidak memikirkan dunia luar, bahkan ketika mereka belum memiliki anak.

Membangun kekuatan dan ketahanan

Sayangnya, kehidupan para lajang terus saja mendapat stigma, dan mereka kerap dicap kurang percaya diri dan lebih egois ketimbang orang yang menikah. Para lajang disebut-sebut bakal meninggal lebih dulu, sendirian dan sedih.

Padahal beberapa studi tentang orang yang hidup sendiri menunjukkan, pada umumnya mereka baik-baik saja; mereka tidak merasa terkucilkan, atau pun sedih dan kesepian.

Laporan mengenai “orang lajang meninggal lebih dulu” juga terlalu dibesar-besarkan, sebagaimana klaim bahwa pernikahan mengubah kehidupan seorang lajang yang menyedihkan menjadi bahagia.

Dalam beberapa hal, justru orang lajanglah yang bahagia dan sejahtera.

Sebagai contoh, orang-orang yang memiliki jenis hubungan yang beragam cenderung merasa lebih puas dengan kehidupan mereka. Di sisi lain, pasangan yang menikah atau tinggal bersama (dan lebih memikirkan kehidupan mereka sendiri) justru membuat mereka rentan terhadap kesehatan mental yang lebih buruk.

Beberapa studi menunjukkan, orang yang tetap melajang memiliki kepercayaan diri yang lebih dalam soal pendapat pribadi mereka, serta mengalami pengembangan diri yang lebih dibanding mereka yang menikah. Sebagai contoh, mereka lebih menghargai pekerjaan yang berarti daripada pasangan menikah. Mereka juga punya lebih banyak kesempatan untuk menikmati kesendirian.

Mendefinisikan ulang keluarga dan rumah

Orang yang menikah sering menempatkan pasangannya (dan anak-anak) sebagai pusat kehidupan. Selain karena mereka diharapkan berlaku demikian, memang itulah yang mereka inginkan.

Namun tidak demikian dengan orang lajang. Mereka memperluas batasan tradisional akan keluarga. Mereka masih menempatkan keluarga (dalam pengertian tradisional) sebagai prioritas. Tetapi mereka juga memasukkan teman, mantan rekan kerja, dan mentor. Definisi keluarga dan orang-orang yang penting menjadi lebih luas.

Banyak orang lajang merasa, perumahan di pinggir kota (yang cocok untuk keluarga tunggal) tidak mampu menawarkan keseimbangan antara kehidupan sosial dan kesendirian yang mereka inginkan. Mereka pun mencari atau menciptakan variasi tempat tinggal sendiri.

Terkadang kita bisa lihat pengaturan tempat tinggal tradisional versi abad 21, seperti rumah tangga multi-generasi yang mengizinkan adanya privasi dan kemandirian serta interaksi sosial. Yang lain-dan tidak hanya orang muda-ada yang hidup bersama teman atau keluarga lain atas pilihan mereka.

Mereka yang menyukai kesendirian akan lebih memilih tinggal sendiri. Beberapa mungkin ada yang menjalin hubungan asmara, tetapi tetap memilih tinggal terpisah. Gaya hidup ini disebut “hidup terpisah bersama.”

Beberapa inovasi tempat tinggal yang menakjubkan datang dari orang-orang yang menginginkan kesendirian dan kemudahan bersosialisasi sekaligus. Mereka bisa saja menyewa apartemen sendiri, tetapi yang lokasinya masih dekat teman atau keluarga. Atau mereka membeli apartemen bersama teman dekat, dan mencoba hidup di komunitas cohousing, yakni komunitas rumah-rumah kecil yang dikelilingi taman atau kebun bersama.

Orang tua tunggal juga berinovasi. Ibu tunggal, misalnya, dapat mengakses CoAbode untuk mencari ibu tunggal lain yang bisa diajak berbagi rumah dan kehidupan. Atau, jika orang tua tunggal menginginkan bantuan dari orang tua lain dalam mengasuh anak, di situs-situs seperti Family by Design dan Modamily mereka bisa mencari rekan pengasuhan (parenting partner) tanpa ada keterlibatan asmara atau pernikahan.

Seiring dengan terbukanya kemungkinan menjalani kehidupan lajang yang membahagiakan, pilihan hidup melajang pun bakal diambil dengan lebih tulus. Demikian pula dengan pilihan menikah. Akan semakin sedikit orang yang menikah hanya karena desakan keluarga atau karena bosan melajang. Mereka memilih menikah karena memang mau.

Jika tren seperti ini terus berlanjut, alih-alih menerima jalan hidup yang digariskan, generasi mendatang untuk pertama kalinya akan punya kesempatan mengejar kehidupan yang paling cocok untuk mereka.

This article was originally published in English