Mamogram rutin bisa menyelamatkan nyawa, sains menjelaskan

shutterstock.

Sebuah artikel terbaru yang dimuat The Conversation menyatakan mamografi rutin tidak menyelamatkan nyawa—dan bahwa bahaya pemeriksaan rutin lebih besar daripada manfaatnya.

Sebagai peneliti yang bekerja di bidang deteksi kanker payudara selama beberapa dekade, kami tahu bahwa persis sebaliknya yang benar—terdapat bukti berlimpah bahwa deteksi dini kanker payudara dengan pemeriksaan mamografi, ditambah terapi modern, mengurangi secara sangat signifikan kematian karena kanker payudara.

Kami yakin bahwa perempuan harus memutuskan sendiri apakah akan menjalani pemeriksaan atau tidak setelah mereka mendapatkan semua fakta.

Pemeriksaan mamogram membantu menyelamatkan nyawa dengan mendeteksi kanker-kanker kecil payudara ketika belum menjalar ke seluruh tubuh (metastasis). Metastasis inilah yang membuat kanker payudara menjadi penyakit mematikan. Manfaat tambahan deteksi dini adalah ia kerap memperbesar peluang pasien mendapatkan terapi yang lebih lunak dan tidak begitu beracun: pembedahan yang tidak begitu ekstensif dan penggunaan obat dengan efek samping lebih sedikit dan tidak begitu keras ketimbang kemoterapi.

Pemeriksaan mamogram membantu menyelamatkan nyawa

Perdebatan tentang manfaat, dan usia terbaik untuk mulai, pemeriksaan mamografi rutin berlangsung sengit dalam literatur medis maupun media selama bertahun-tahun. Oleh karena itu menjadi penting bahwa rekomendasi dan bimbingan bagi perempuan didasarkan pada tinjauan menyeluruh dan presentasi bukti terbaik yang ada.

Studi yang dirujuk dalam artikel yang tidak menyarankan mamogram rutin didasarkan pada pemeriksaan yang dilakukan pada awal 1980-an menggunakan teknologi yang ketinggalan zaman. Studi itu mengundang banyak kritik dari berbagai pengamat karena buruknya kualitas gambar dan kelemahan-kelemahan lain dalam cara studi itu dilakukan. Inilah satu-satunya studi yang gagal memperlihatkan manfaat pemeriksaan.

Berbagai tinjauan atas semua uji coba acak terhadap pemeriksaan kanker payudara di lain pihak—termasuk yang belum lama ini dilakukan oleh The International Agency for Research on Cancer, juga yang dilakukan oleh sebuah tim riset di Amerika Serikat dan satu lagi yang dilakukan untuk American Cancer Society—menunjukkan penurunan dalam kematian karena kanker payudara sekitar 20%. Cara uji coba acak itu dianalisis cenderung memandang rendah manfaat, sehingga manfaat riil bagi perempuan yang diperiksa kemungkinannya lebih tinggi dari itu.

Sebuah studi Kanada mutakhir, diterbitkan pada tahun 2014, mendukung temuan-temuan itu. Para peneliti membandingkan kematian karena kanker payudara dalam seluruh program pemeriksaan di tujuh provinsi Kanada dan mengamati sekitar 40% lebih sedikit kematian pada perempuan yang diperiksa, dengan manfaat meluas untuk pemeriksaan antara usia 40 dan 79 tahun. Untuk perempuan dalam usia 40-an, penurunan dalam kematian karena kanker mencapai 44%.

Pengamatan serupa dicatat di British Columbia, di Norwegia, Florence dan lima daerah di Italia dan di seluruh Eropa—perempuan yang menjalani pemeriksaan mamografi lebih kecil kemungkinannya mengalami kematian karena kanker payudara daripada mereka yang tidak.

Mamogram mendeteksi kanker-kanker potensial

Penting bagi perempuan untuk mengetahui bahwa pemeriksaan mamografi tidak mendiagnosis kanker. Gambar dari sebuah mamogram hanya memungkinkan seorang radiolog mendeteksi area mencurigakan di payudara di mana kanker bisa muncul.

Sehingga, sebagian kanker ikut terdeteksi oleh mamografi—artinya jika tidak ditemukan kanker-kanker itu mungkin tidak akan menimbulkan bahaya. Ini bisa terjadi jika suatu kanker yang tumbuh perlahan-lahan terdeteksi, tetapi pasien meninggal karena sebab-sebab lain sebelum kanker menjadi mematikan. Misalnya, jika seorang perempuan meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, atau karena serangan jantung sebelum kanker merenggut nyawanya.

Inilah sebuah contoh berdasarkan data riil dari Program Pemeriksaan British Columbia. Di antara 1.000 perempuan berusia 55 tahun yang menjalani pemeriksaan, 929 (atau 93%) dari mereka menunjukkan hasil normal. Mereka diminta datang lagi satu atau dua tahun kemudian untuk pemeriksaan selanjutnya. Tujuh puluh satu perempuan yang lain diminta kembali untuk pencitraan tambahan guna mengevaluasi area yang tidak normal. Pada titik ini, tingkat dugaan kanker masih sangat rendah. Setelah pencitraan, 59 dari para perempuan itu diberitahu bahwa tidak terbukti adanya kanker (ini bisa dianggap sebagai alarm palsu).

Pada 12 perempuan (1,2% dari mereka yang diperiksa), dugaan masih ada. Mereka akan menjalani biopsi, dengan pembekuan lokal, di mana sejumlah kecil jaringan akan diambil dengan jarum dan diperiksa di bawah mikroskop. Di sinilah diagnosis yang sesungguhnya dilakukan. Sekitar empat dari 1.000 perempuan itu kedapatan mengidap kanker payudara dan ditawari perawatan. Satu kanker luput dalam pemeriksaan.

Keempat kanker itu riil. Sebagian akan menjadi sangat agresif dan tumbuh dengan cepat sedangkan sebagian lainnya mungkin tumbuh lambat, barangkali bahkan tidak tumbuh sama sekali. Patolog memiliki peralatan untuk membedakan kedua situasi ini, dan penelitian terus berlanjut untuk meningkatkan uji coba tersebut. Tetapi ini bukan ilmu pasti.

Kebanyakan dokter dan kaum perempuan memilih perawatan agresif karena “lebih baik selamat daripada menyesal” dan dalam beberapa kasus hasilnya adalah perawatan berlebihan. Walaupun perkiraan yang tidak masuk akal tingginya tentang deteksi terhadap lesi kanker melalui pemeriksaan (over-detection) dikemukakan oleh beberapa peneliti, analisis yang lebih cermat menunjukkan bahwa angkanya berkisar antara satu hingga 10% kanker.

Sama sekali tidak masuk akal menyia-nyiakan nyawa yang diselamatkan oleh pemeriksaan—untuk menghindari perawatan berlebihan sejumlah kecil kanker. Sebuah cara yang menjanjikan untuk menghindari perawatan berlebihan adalah mengikuti jejak perawatan kanker prostat pria sambil menunggu uji patologi disempurnakan. Ini melibatkan sebuah diskusi antara pasien dan dokter mengenai perawatan lebih konservatif terhadap beberapa kanker. Berbagai uji klinis saat ini sedang berlangsung untuk menguji gagasan-gagasan ini.

Alarm palsu dan detektor asap

Peringatan (alarm palsu) dari pemeriksaan untuk uji coba tambahan bisa menimbulkan kecemasan. Karena itulah penting bagi perempuan untuk diberi tahu tentang kemungkinan adanya alarm palsu sebelum mereka memilih untuk diperiksa. Perempuan harus diberitahu bahwa persentase mereka yang mendapat peringatan kemudian didiagnosa menderita kanker hanya kecil saja.

Sebagian besar perempuan akan menerima risiko kecemasan sementara begitu mereka mengetahui potensi reduksi mortalitas dengan menjalani pemeriksaan. Dalam sebuah studi, perempuan yang menghadiri kelas-kelas pendidikan publik tentang pemeriksaan dikabarkan mengalami penurunan tingkat kecemasan. Para pasien dan dokter juga harus mendukung penelitian diagnostik lebih cepat untuk mengurangi waktu dalam menetapkan apakah ada kanker atau tidak.

Alarm palsu dari mamografi sangat mirip dengan alarm palsu dari detektor asap. Anda memasang detektor asap untuk menghindari kerusakan dan kerugian karena kebakaran. Bagi sebagian besar orang, tidak akan pernah ada kebakaran di rumah (hanya sekitar 12% perempuan yang mengidap kanker payudara), sehingga untuk orang yang tidak tertimpa kebakaran, Anda boleh bilang detektor asap membuang-buang uang saja.

Mungkin juga kebakaran mulai terjadi dan detektor tidak berbunyi karena suatu alasan (sensitivitas mamografi adalah sekitar 80%) atau kebakaran membesar sedemikian cepat hingga alarm tidak benar-benar menolong Anda (satu fraksi kanker terlalu agresif hingga pemeriksaan tidak berguna). Atau, api mungkin menyala di perapian, sehingga tidak jadi soal benar alarm tidak menyala karena api itu tidak bakal membahayakan Anda (beberapa kanker bersifat indolen; inilah lesi kanker yang diperiksa). Alarm mungkin berbunyi di tengah malam dan membangunkan Anda, tetapi tidak ada kebakaran (seperti ketika mamogram membunyikan alarm palsu).

Manfaatnya, tentu saja, alarm bisa membangunkan Anda tepat pada waktunya dan menyelamatkan nyawa Anda. Ia bahkan bisa membangunkan Anda begitu cepat hingga Anda bisa mematikan api sebelum kerusakan benar-benar menimpa rumah Anda. Hal-hal yang sama dengan situasi ini terjadi dalam pemeriksaan mamografi.

Radiolog memilih mamogram

Kita tahu bahwa dosis X-ray meningkatkan risiko kanker. Dan, walaupun tidak ada bukti langsung, masuk akal untuk bersikap hati-hati dan mengasumsikan bahwa dosis rendah X-ray dari mamogram bisa menyebabkan kanker. Namun, menghindari mamografi karena takut pada radiasi bukanlah taruhan yang layak dimenangkan.

Kami sudah menganalisis risiko dan manfaat pemeriksaan setiap dua tahun dari usia 50 hingga 69. Dalam sebuah sampel 1.000 perempuan, radiasi dari mamogram secara hipotetis dianggap bertanggung jawab atas 0,27 kanker dan 0,04 kematian karena kanker. Mamogram, di lain pihak, akan mencegah lima kematian (125 kali lebih besar dari yang meninggal) dan menyelamatkan 105 tahun kehidupan.

Itu sebabnya para radiolog payudara, yang paham betul dengan dosis radiasi dalam mamografi modern, banyak melakukan pemeriksaan tahunan mereka sendiri dan merekomendasikan hal yang sama bagi keluarga, teman-teman dan pasien mereka.

Kami mengakui manfaat pemeriksaan mamografi maupun keterbatasan dan risiko-risikonya. Sama sekali tidak sempurna memang. Tetapi pemeriksaan berpotensi mencegah 1.000 kematian karena kanker payudara di kalangan perempuan Kanada setiap tahunnya. Perempuan dan penyedia layanan kesehatan mereka membutuhkan sebuah gambaran akurat dan berimbang tentang keunggulan dan keterbatasan ini sehingga mereka bisa membuat keputusan matang untuk menjalani pemeriksaan.

This article was originally published in English