B.J Habibie sebagai Menteri Riset dan Teknologi pada sebuah konferensi pers tahun 1987. Rob Bogaerts / Anefo

Mantan presiden B.J. Habibie adalah menteri riset dan teknologi terbaik yang pernah dimiliki Indonesia

Mantan presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie, yang wafat pada Rabu di Jakarta pada usia 83, menghadirkan reformasi demokratis dalam periode singkatnya sebagai presiden. Namun perannya yang terlama adalah sebagai menteri riset dan teknologi. Tidak ada keraguan bahwa insinyur pesawat terbang yang brilian itu adalah menteri riset terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Diangkat sebagai menteri riset dan teknologi pada tahun 1978, Habibie memiliki strategi yang jelas tentang bagaimana Indonesia harus memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun bangsa. Selama 20 tahun menjabat sebagai menteri, ia mengembangkan industri teknologi tinggi, seperti pembuatan pesawat terbang, mendukung penelitian bioteknologi yang digerakkan oleh sains (bidang pekerjaan saya), mensponsori beasiswa ribuan anak muda untuk meraih ilmu pengetahuan di luar negeri, serta menggunakan kekuasaannya untuk memangkas birokrasi yang menghambat penelitian ilmiah.

Dia telah menginspirasi orang Indonesia dari generasi ke generasi. Melalui karyanya, ia telah mengubah banyak kehidupan, termasuk kehidupan saya.

Bioteknologi sebagai prioritas nasional

Pada 1990, saya mengepalai sebuah laboratorium penelitian biologi molekuler di Monash University di Melbourne, Australia, ketika saya menerima sebuah faks dengan kop surat lambang Indonesia, burung Garuda. Faks itu datang dari Habibie. Dia meminta saya untuk pulang untuk membantu mengembangkan riset di bidang bioteknologi.

Pada masa itu orang mulai memahami bahwa bioteknologi, dengan kemajuan bidang biologi molekuler seperti pengembangan pengurutan dan kloning DNA, akan menjadi dasar bagi revolusi industri di bidang kedokteran, pertanian dan banyak hal lain.

Habibie, yang mengembangkan industri pesawat terbang Indonesia pada saat itu, memperhatikan revolusi ilmiah penting yang tengah terjadi di bidang biologi molekuler, yang jauh dari bidang keahliannya. Ini adalah bukti pemikiran visionernya sebagai menteri riset dan teknologi.


Read more: B.J. Habibie: mantan presiden dan insinyur hebat yang membangun industri pesawat nasional dengan renjana


Bukan keputusan yang mudah untuk kembali ke Indonesia. Saya telah mapan melakukan penelitian di Australia selama 20 tahun, menghasilkan temuan terobosan tentang mutasi DNA mitokondria yang terkait dengan penyakit dan penuaan. Saya membimbing beberapa mahasiswa doktoral Indonesia yang bekerja di laboratorium saya di Melbourne, dan saya yakin saya dapat mengabdi lebih baik pada negara melalui pekerjaan saya di sana.

Duduk di kantor menteri di Jakarta dengan meja yang dipenuhi semua model pesawat terbang, Habibie tidak memerlukan saya untuk memberitahunya bahwa bioteknologi adalah masa depan. Pemahaman dia sama baiknya seperti saya.

Saya mengingatkannya bahwa tahun itu tepat 100 tahun Laboratorium Penelitian untuk Patologi dan Bakteriologi di Batavia (Jakarta), tempat Christiaan Eijkman, bekerja di melaporkan temuan pemenang Hadiah Nobelnya tentang hubungan antara kekurangan vitamin B1 dan beri-beri.

Saya belum menyelesaikan kalimat saya memimpikan dibukanya kembali lembaga tempat Eijkman pernah bekerja yang sudah lama ditutup, ketika dia mengetuk meja dan berseru: “Begitulah caranya. Kita harus menghidupkan kembali lembaga itu!”

Persamaan spontan yang kami miliki dan tantangan untuk membuka kembali sebuah lembaga penelitian yang memiliki warisan sejarah yang panjang meyakinkan saya untuk kembali ke Indonesia. Saya memimpin lembaga ini selama 22 tahun hingga 2014, dan telah berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang genetika manusia, penyakit menular, dan keanekaragaman hayati genetik.

Lembaga Eijkman hanya satu dari tiga pusat penelitian bioteknologi yang ia dirikan. Satu yang berfokus pada pertanian ditempatkan di bawah pusat penelitian di Kementerian Pertanian, dan satu yang terkait langsung dengan industri didirikan di Pusat Penelitian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek).

Dukungan Habibie untuk penelitian bioteknologi mendorong pembukaan program studi terkait bioteknologi di universitas-universitas Indonesia.

Dia juga mendirikan Pusat Penelitian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), taman sains yang berfungsi sebagai pusat penelitian ilmiah. Inisiatif visioner ini menginspirasi negara-negara seperti Thailand dan Malaysia untuk melakukan hal yang sama, berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di kawasan ini.

Pemikiran jauh kedepan

Habibie sering disalahpahami, tetapi itu karena dia terlalu jauh ke depan dalam hal visinya dibandingkan dengan orang-orang lain di Indonesia.

Dia dikritik ketika dia mengirim anak muda Indonesia, dari lulusan sekolah menengah sampai ke peneliti pasca-doktoral, mengikuti program pendidikan ilmiah di luar negeri. Sekarang, sudah umum dipahami bahwa paparan terhadap penelitian internasional akan memperkaya bangsa. Tetapi pada saat itu, orang mempertanyakan program ini.

Ketika kami menghidupkan kembali Lembaga Eijkman, juga banyak yang mengkritik penamaan pusat penelitian tersebut berdasarkan nama seorang ilmuwan Belanda. Tetapi dia mengerti bahwa nama seorang ilmuwan pemenang Hadiah Nobel itu penting untuk mengirim sinyal kepada dunia bahwa Indonesia bertekad untuk membangun di atas warisan karya penting Eijkman.

Penulis (kanan) dengan mantan presiden B.J Habibie (tengah) dan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Satryo Soemantro Brodjonegoro. Author provided

Habibie mengatasi para pencela kebijakannya dengan bekerja secara konsisten dalam memajukan sektor penelitian dan teknologi Indonesia. Dia tidak takut memotong birokrasi untuk memungkinkan lembaga penelitian yang dia dirikan berkembang tanpa rintangan birokrasi yang harus dilalui oleh banyak lembaga pemerintah.

Inspirasi bagi generasi ilmuwan muda

Ketika Indonesia menerima berita kematian Habibie, penghormatan untuk mantan presiden tercinta telah membanjiri jadwal media sosial kita. Saya menerima satu dari Sudirman Nasir, seorang peneliti kesehatan masyarakat berbakat dari Sulawesi Selatan, di mana Habibie juga berasal. Dalam pesannya, Sudirman berbagi bahwa sebagai seorang anak setiap kali sebuah pesawat terbang melintasi kota kecilnya, ia dan teman-temannya akan berlari dan menunjuk ke pesawat itu sambil berteriak bahwa itu adalah pesawat Habibie.

Sudirman menjadi salah satu penulis buku Sains45: Agenda Sains Indonesia Menuju Abad Kemerdekaan, yang diproduksi oleh Akademi Ilmuwan Muda Indonesia. Habibie menjadi tuan rumah peluncuran buku itu di rumahnya pada tahun 2015. Sudirman menulis bahwa, pada saat itu, dia tidak percaya telah menyaksikan langsung idolanya di hadapannya. Begitulah hebatnya inspirasi yang dihasilkan Habibie pada orang lain.

Dengan sumber daya terbatas tetapi visi yang jelas, Habibie berani bermimpi besar dan memperkenalkan pendekatan inovatif untuk mendukung sektor penelitian. Kini, ada pada kita kewajiban untuk menjaga warisannya agar tetap hidup.


Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris


Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia mendukung The Conversation Indonesia sebagai mitra tuan rumah.



_Catatan Editor: Koreksi telah dilakukan untuk membetulkan versi artikel sebelumnya yang menyebutkan bahwa penulis mengingatkan Habibie soal 100 tahun penemuan ilmuwan Christiaan Eijkman.

This article was originally published in English