Membawa ransel tidak sebabkan sakit punggung pada anak-anak dan remaja

Penyebab sakit punggung pada anak-anak dan remaja belum jelas. Nukul Chanada/Shutterstock

Membawa ransel tidak sebabkan sakit punggung pada anak-anak dan remaja

Anak-anak dan remaja yang membawa beban di tas punggung tidak memiliki risiko lebih tinggi mengalami nyeri punggung, menurut riset yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine (BJSM). Para peneliti menemukan tidak ada bukti yang menunjukkan hubungan antara membawa beban berat di punggung dan sakit punggung pada usia kelompok tersebut.

Dengan adanya temuan ini maka kepercayaan masyarakat mengenai dampak buruk tas punggung serta rekomendasi sejumlah organisasi untuk membatasi berat beban di punggung untuk anak-anak patut dipertanyakan. Secara global, tak ada kesepakatan mengenai batasan beban tas punggung. Panduan-panduan bervariasi, dengan batasan di manapun antara 5-20% dari berat badan.

Anak-anak dan remaja sering mengeluh sakit punggung. Riset menunjukkan hingga anak mencapai akhir masa remaja prevalensi komplain mereka hampir setara dengan orang dewasa. Ada juga bukti bahwa mempunyai sakit punggung pada remaja diprediksi menderita sakit punggung pada masa dewasa.

Saat ini, penyebab sakit punggung pada anak-anak dan remaja tidak jelas. Tidak ada riset longitudinal yang kuat (yang mengikuti orang-orang dalam jangka panjang) yang menelusuri seluruh kemungkinan faktor risiko.

Riset soal postur tubuh

Beberapa riset telah menelaah hubungan antara postur atau posisi tubuh dan membawa sebuah tas punggung. Riset-riset ini didasarkan pada anggapan bahwa postur yang buruk berhubungan dengan ketidaknyamanan, yang mungkin menyebabkan sakit punggung. Riset-riset telah menemukan bahwa, contohnya, membawa sebuah sebuah ransel menyebabkan perubahan postur kepala dan perubahan dalam distribusi berat di telapak kaki.

Beberapa peneliti telah mencari tahu jika membawa tas punggung itu dapat menyebabkan perubahan pada lengkungan tulang punggung. Satu studi menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan pada lengkungan tulang belakang ketika membawa sebuah tas di atas satu pundak dibanding di atas dua pundak. Tapi riset ini melaporkan tren yang menunjukkan lengkungan punggung berubah karena penggunaan tas yang dapat mengganggu tulang punggung.

Namun mengukur lengkungan tulang belakang secara akurat tidak mudah. Ini karena pengukuran yang sangat akurat seperti menggunakan sinar X adalah tidak etis untuk penggunaan riset dengan basis populasi besar.

Riset lainnya menunjukkan tipe ransel juga berpengaruh pada fungsi pernafasan anak. Sebuah tas punggung satu tali menyebabkan berkurangnya volume udara maksimum yang dapat dihembuskan secara paksa atau forced vital capacity (ukuran kinerja pernapasan seseorang atau fungsi paru-paru).

Namun, tidak ada studi-studi yang menelusuri hubungan antara membawa ransel dan rasa sakit.

Sebuah riset menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada lengkungan tulang punggung antara membawa tas satu tali dan tas dua tali. from shutterstock.com

Bagaimana dengan riset saat ini?

Riset terbaru BJSM adalah sebuah peninjauan sistematis, di mana para peneliti mengumpulkan bukti dari sejumlah riset yang berbeda. Dalam hal ini termasuk lima prospective studies atau riset dalam jangka lama (yang mengikuti 1.799 anak dan remaja dalam jangka panjang) dan 63 riset cross-sectional dalam jangka waktu tertentu.

Kebanyakan bukti adanya hubungan atara sakit punggung dan tas punggung berasal dari riset cross sectional dalam jangka waktu tertentu. Riset jenis ini mengumpulkan hasil pengukuran pada sebuah periode waktu tertentu dan menggunakan hasil pengukuran tersebut untuk membandingkan karakteristik kelompok-kelompok tertentu. Riset jenis ini dianggap lebih lemah dibanding riset dalam jangka lama (prospective studies), yang mengikuti individu-individu dalam jangka lama.

Dari 63 riset cross sectional, empat di antaranya menemukan bahwa sebuah tas punggung yang lebih berat dihubungkan dengan laporan sakit punggung, tiga menunjukkan metode membawa tas berhubungan dengan rasa sakit, dan tiga riset menyatakan membawa tas dalam waktu yang lama dihubungkan dengan mengalami rasa sakit. Satu studi menemukan bahwa 75% dari para siswa yang menderita sakit punggung melaporkan bahwa membawa tas membuat sakit mereka semakin parah.

Pemahaman umum dan rekomendasi soal penggunaan tas sekolah yang ada saat ini sepertinya didasarkan pada data ini atau riset-riset cross-sectional yang serupa.

Dari lima riset prospective, hanya dua yang secara aktual mengukur berat tas punggung dan keduanya menemukan bahwa itu tidak berhubungan dengan laporan sakit punggung. Dua studi menemukan bahwa berat yang dirasakan atau laporan adanya kesulitan membawa tas berhubungan dengan sakit punggung untuk anak-anak berusia 9-14 tahun.

Riset kelima tidak melaporkan variabel apapun tentang tas punggung. Tapi pertanyaan soal apa yang memperburuk sakit punggung yang diberikan pada anak-anak (rata-rata usia 15 tahun) dengan nyeri di punggun, mereka tidak menjawab membawa ransel.

Tas punggung mungkin memperparah sakit (punggung) yang sebelumnya telah terjadi. from shutterstock.com

Membawa pulang pesan

Review tersebut menunjukkan bahwa karakteristik ransel tidak menyebabkan sakit punggung. Bagi seseorang dengan sakit punggung, mungkin membawa tas berat atau membawa tas di atas pundak dirasakan memperburuk rasa sakit, tapi tas ransel bukan penyebab awal sakit.

Asosiasi Fisioterapi Australia juga selaras dengan review ini. Mereka merekomendasikan bahwa ransel dengan beban sedang tidak merugikan kesehatan punggung.

Penulis-penulis riset ini mengindikasikan penemuan-penemuan dari studi prospective terbatas. Hal ini karena pengidentifikasian faktor risiko untuk sakit punggung bukanlah tujuan utama riset tersebut. Karena itu pengukuran yang digunakan dan waktu pengumpulan data mungkin tidak optimal untuk membangun hubungan kausalitas.

Hingga kini tidak ada riset-riset yang mencari hubungan kausalitas antara penggunaan tas punggung dan sakit punggung karena desain studi yang meminta anak-anak membawa tas dengan beban spesifik tidak etis untuk dilakukan.

Studi-studi di masa depan yang menelusuri penyebab sakit punggung pada anak-akan dan remaja perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan risiko dan faktor gaya hidup yang mungkin menyumbang pada rasa sakit. Sebagai contoh, mengurangi aktivitas fisik diketahui berhubungan dengan kesehatan yang lebih buruk.

Para orang tua tidak terlalu khawatir bahwa beban tas punggung akan menyebabkan masalah bagi anak-anak. Tapi jika membawa sebuah tas berat menyebabkan anak menghindari jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah atau bentuk aktifitas fisik insidental lainnya, ini bisa jadi alasan untuk mengurangi beban tas punggung.

Jika Anda atau anak Anda memiliki sakit punggung yang diperburuk oleh bawaan tas Anda, maka logis untuk mengurangi beban atau membawanya dalam waktu yang singkat saja.

This article was originally published in English