Untuk meningkatkan anggaran riset, Indonesia seharusnya melibatkan sektor swasta untuk berinvestasi lebih banyak dalam mendukung proses inovasi. www.shutterstock.com

Memburu inovasi: Indonesia membutuhkan lebih banyak investasi dari sektor swasta

Indonesia yang anggaran risetnya tergolong paling rendah di antara negara-negara lain harus meningkatkan inovasi berbasis riset untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang bergantung pada inovasi. Namun inovasi adalah bentuk investasi yang berisiko tinggi dan penuh dengan ketidakpastian. Sektor publik tidak bisa menanggung risiko ini sendirian sehingga mereka memerlukan sokongan dari perusahaan swasta.

Dengan mendukung program riset pemerintah, pelaku usaha bisa memperoleh keuntungan dengan memasarkan produk inovatif mereka. Ini juga memberi mereka fleksibilitas untuk masuk dan bahkan merancang pasar di kemudian waktu.

Lebih banyak anggaran untuk inovasi yang lebih banyak

Pada tahun 1911, Joseph Schumpeter, seorang ekonom Austria, menerangkan bahwa proses inovasi memegang andil penting dalam proses industrialisasi. Adanya inovasi dan para wirausahawan berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi.

Beberapa dekade kemudian, parameter inovasi mulai dipergunakan untuk memahami kemajuan ekonomi modern. Sebuah indikator makroekonomi yang dikenal dengan Global Innovation Index (GII) dikembangkan untuk mengukur proses inovasi di tingkat nasional. Indikator makroekonomi lainnya, Global Competitive Index (GCI), menyediakan panduan untuk sebuah negara agar dapat mempertahankan daya saing global dengan berinovasi.

Tak ayal, kekurangan dukungan finansial untuk riset dan pengembangan telah menghambat proses inovasi teknologi di Indonesia.

Di wilayah Asia Tenggara, anggaran untuk riset Indonesia masih jauh di bawah Thailand dan Vietnam. Data terbaru menunjukkan bahwa Thailand mengalokasikan 0.5% dari produk domestik bruto (PDB) dan Vietnam sebesar 0.4%. Sementara Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengalokasikan sekitar Rp24.9 triliun pada tahun 2017 atau sekitar 0.2% dari PDB.

Untuk meningkatkan anggaran riset, Indonesia seharusnya melibatkan sektor swasta untuk berinvestasi lebih banyak dalam mendukung proses inovasi.

Kolaborasi antara sektor swasta dan publik

Perusahaan-perusahaan swasta Indonesia belum berkontribusi dalam pengeluaran riset nasional sebanyak negara-negara lain.

Di sebagian besar negara, kontribusi sektor swasta dalam riset jauh lebih besar dibandingkan dengan sektor publik.

Jerman mengalokasikan 2.9% PDB untuk riset di tahun 2017 di mana 2% berasal dari sektor swasta. Sektor swasta Amerika Serikat menghabiskan 1.9% PDB untuk kegiatan riset dari 2.7% pengeluaran nasional. Sementara itu, Cina mengeluarkan 2% PDB untuk riset dengan partisipasi sektor swasta sebesar 1.6%.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia mengatakan bahwa kontribusi dari perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia hanya sebesar Rp 6 milyar atau setara 0.04% PDB di tahun 2017.


Read more: Moving Indonesian research forward with more private sector support: lessons from Germany


Sektor swasta seharusnya berkontribusi lebih banyak mengingat keuntungan yang mereka bisa raup ketika mereka mendukung program riset dan pengembangan untuk berinovasi.

Keuntungan untuk sektor swasta

Berinvestasi dalam sektor riset memberikan berbagai macam keuntungan bagi perusahaan.

Pertama, perusahaan bisa meraup keuntungan dari pengembangan dan penjualan paten inovasi teknologi mereka.

Kedua, adanya konsep inovasi terbuka mengizinkan pihak ketiga untuk menggunakan paten dalam mengembangkan produk mereka di bawah skema hak kekayaan intelektual (HKI).

Ini memberikan solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak: pemegang paten mendapatkan royalti dari menjual atau melisensikan paten mereka, dan pihak ketiga bisa memasuki pasar dengan model bisnis dan produk mereka yang baru. Bukan hanya perusahaan besar yang bisa mengambil keuntungan komersial dari penggunaan HKI, tapi juga perusahaan kecil dan menengah.

Sebuah studi kasus pada tahun 2011 untuk Xerox di Amerika Serikat menunjukkan bahwa nilai pasar untuk sepuluh perusahaan spin-off yang dibangun untuk mengembangkan inovasi teknologi baru mencapai dua kali lebih besar dari nilai pasar Xerox sendiri. Penelitian tersebut membuktikan bagaimana pihak ketiga bisa mendominasi pasar dengan model bisnis mereka yang baru.

Industri berbasis teknologi sangat bergantung pada kegiatan riset untuk keberlanjutan bisnis mereka.

Sering kali tidaklah mudah bagi sektor swasta untuk berinovasi dan memperoleh keuntungan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa satu dari 3.000 idea inovatif bisa dikomersialisasikan. Di bawah kebijakan laissez-faire di mana pemerintah tidak turut campur dalam kegiatan perekonomian, perusahaan cenderung tidak berinvestasi banyak untuk kegiatan inovasi.

Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik untuk mendorong sektor swasta untuk mengembangkan dan memasarkan inovasi.

Indonesia bisa mengikuti contoh Norwegia yang memperkenalkan sebuah set kebijakan lunak untuk transfer teknologi dari industri migas ke industri perikanan dan maritim. Sementara itu, Cina memberikan intensif pajak kepada perusahaan venture capital (modal ventura) untuk berinvestasi dalam mendanai perusahaan-perusahaan dengan teknologi terdepan.

Dengan memberikan dukungan seperti itu, pemerintah Norwegia dan Cina telah menciptakan dorongan bagi sektor swasta dalam berkompetisi guna menciptakan inovasi.

Padangan optimis untuk Indonesia

Sebagai ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia adalah pasar yang menarik untuk menjual inovasi teknologi. Indonesia memiliki 93.4 juta konsumen untuk inovasi di bidang digital. Pada Mei 2019, Indonesia membukukan transaksi total sebesar $32,442 juta (Rp457 miliar) di bidang tekonologi finansial.

Dari sektor energi, misalnya, tantangan dari konsentrasi karbon dioksida tinggi di lapangan gas East Natuna harus dijawab dengan menggunakan inovasi teknologi terbaru agar dapat memisahkan karbon dioksida dari gas yang diproduksi.

Pertamina masih mencari inovasi teknologi tersebut. Jika ditemukan, Indonesia akan memasok gas alam terbesar tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk kawasan Asia Pasifik.

Investasi riset dari sektor swasta menciptakan lebih banyak lapangan kerja, mendorong produktivitas bisnis yang lebih baik, dan menopang daya saing nasional yang lebih tinggi. Sudah saatnya Indonesia memajukan ekonomi bangsa dengan mendorong pertumbuhan yang berbasis inovasi.

This article was originally published in English