Mengapa asteroid berbahaya yang berpotensi menabrak Bumi begitu sulit dideteksi

Seberapa dekat posisi asteroid yang berpotensi berbahaya sebelum dapat terdeteksi? Shutterstock/Alexyz3d

Mengapa asteroid berbahaya yang berpotensi menabrak Bumi begitu sulit dideteksi

Bumi sering menjadi sasaran target asteroid dan komet. Namun sebelum mereka bisa mencapai Bumi, sebagian besar dari mereka terbakar di ketinggian puluhan kilometer. Namun terkadang, beberapa dari mereka yang ukurannya lebih besar bisa lewat.

Itulah yang terjadi di lepas pantai timur Rusia pada 18 Desember tahun lalu. Sebuah ledakan raksasa terjadi di atas Laut Bering ketika sebuah asteroid dengan garis lingkar sekitar sepuluh meter meledak dengan energi ledakan sebesar sepuluh kali lebih besar dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Mengapa kita tidak melihat asteroid ini datang? Dan mengapa kita hanya mendengar tentang tabrakannya yang begitu meledak sekarang?


Read more: Look up! Your guide to some of the best meteor showers for 2019


Tidak ada yang dapat memprediksinya

Seandainya ledakan yang terjadi pada bulan Desember lalu terjadi di dekat kota–seperti yang terjadi di Chelyabinsk, Rusia pada Februari 2013–kita akan mendengar tentang hal itu pada saat ledakan terjadi.

Banyak orang mengamati dan mengabadikan ledakan meteor Chelyabinsk.

Tetapi karena hal itu terjadi di wilayah yang terpencil, maka tabrakan itu tidak diketahui oleh banyak orang selama lebih dari tiga bulan, sampai rinciannya diumumkan pada Konferensi tentang Ilmu Bulan dan Planet yang ke-50 minggu ini. Laporan ini berdasarkan pada pengumpulan data bola api yang dilakukan oleh NASA.

Bola api dengan kekuatan 173kt meledak di lepas pantai timur Rusia pada Desember lalu adalah yang terbesar yang tercatat sejak ledakan pada tahun 2013 yang terjadi di atas kota Chelyabinsk. NASA/JPL-Caltech/Center for Near Earth Object Studies

Darimanakah datangnya asteroid ini?

Resiko sampah ruang angkasa

Tata surya dipenuhi dengan material sisa dari pembentukan planet-planet. Sebagian besar dari itu terkunci di sabuk Asteroid, sabuk Edgeworth-Kuiper dan awan Oort, yang semuanya jauh dari Bumi.

Objek luar angkasa kerap lolos dari sabuk-sabuk tersebut, menyebabkan puing-puing baru masuk ke dalam orbit yang melintasi planet-planet. Tata surya bagian dalam dipenuhi dengan puing-puing, mulai dari bintik-bintik kecil debu hingga komet dan asteroid berdiameter beberapa kilometer.

Sebagian besar puing-puing yang bertabrakan dengan Bumi sama sekali tidak berbahaya, tetapi planet kita masih memiliki bekas luka tabrakan dengan benda-benda angkasa yang berukuran jauh lebih besar.

Yang paling langka, terbesar dan terdahsyat terjadi 65 juta tahun yang lalu dan membunuh dinosaurus ). Tetapi tabrakan berkekuatan lebih kecil yang lebih sering juga berisiko.

Pada 1908, di Tunguska, Siberia, sebuah ledakan besar meratakan lebih dari 2.000 kilometer persegi hutan. Karena lokasinya yang terpencil, tidak tercatat adanya kematian. Seandainya dampak itu terjadi hanya dua jam kemudian, kota Saint Petersburg, Rusia bisa saja hancur.

Pada 2013, sebuah asteroid sebesar 10.000 ton meledak di atas kota Chelyabinsk di Rusia. Lebih dari 1.500 orang terluka dan sekitar 7.000 bangunan rusak, tetapi, luar biasanya, tidak ada yang tewas.

Jejak meteor diambil sekitar 200 km dari Chelyabinsk satu menit setelah ledakan terjadi pada tahun 2013. Flickr/Alex Alishevskikh, CC BY-SA

Kami masih mencoba mencari tahu seberapa sering peristiwa seperti ini terjadi. Informasi kami tentang frekuensi kedatangan asteroid yang lebih besar sangat terbatas, sehingga perkiraannya dapat bervariasi.

Biasanya, orang berpendapat bahwa dampak sebesar Tunguska terjadi setiap beberapa ratus tahun, tetapi itu hanya berdasarkan sampel dari satu peristiwa. Sejujurnya, kita tidak benar-benar tahu.

Apa yang bisa kita lakukan?

Selama beberapa dekade terakhir, upaya bersama telah dilakukan untuk mencari benda yang berpotensi berbahaya yang bisa menabrak Bumi. Hasilnya adalah identifikasi ribuan asteroid dekat Bumi dengan ketinggian beberapa meter.

Setelah ditemukan, orbit dari objek-objek tersebut dapat ditentukan, dan jalurnya diprediksi ke masa depan, untuk melihat apakah dampak tabrakan itu mungkin atau tidak. Semakin lama waktu yang kita punya dalam mengamati objek yang diberikan, semakin baik prediksi yang dihasilkan.

Tapi seperti yang kita lihat dengan Chelyabinsk pada 2013, dan lagi pada bulan Desember, kita belum berhasil melakukan itu. Sementara katalog benda-benda yang berpotensi berbahaya terus bertambah, banyak yang belum terdeteksi.

Jika kita memproyeksikan terjadinya tabrakan dalam beberapa hari mendatang, kita dapat mengetahui di mana dan kapan tabrakan akan terjadi. Itu terjadi untuk pertama kalinya pada 2008 ketika para astronom menemukan asteroid kecil TC3 2008, 19 jam sebelum asteroid tersebut menghantam atmosfer Bumi di atas Sudan utara.

Untuk tabrakan yang dapat yang diprediksi dengan waktu tunggu yang lebih lama, kita dapat mengetahui apakah objek tersebut benar-benar berbahaya, atau hanya akan menghasilkan bola api yang spektakuler tetapi tidak berbahaya (seperti TC3).

Untuk benda apa pun yang benar-benar menimbulkan ancaman, kita akan berlomba-lomba membuat akan mereka tidak menabrak bumi.

Mencari di langit

Sebelum kita dapat mengukur risiko yang ditimbulkan suatu objek, pertama-tama kita perlu mengetahui bahwa objek itu ada di sana. Tetapi menemukan asteroid itu sulit.

Survei dilakukan di langit dengan mencari titik-titik seperti bintang samar. Asteroid yang lebih besar akan memantulkan lebih banyak sinar matahari, dan karenanya tampak lebih terang di langit–pada jarak tertentu dari Bumi.

Akibatnya, semakin kecil objeknya, semakin sulit mendeteksinya.

Asteroid pada peristiwa Chelyabinsk dan Laut Bering (masing-masing berdiameter sekitar 20 dan 10 meter) berukuran sangat kecil. Mereka hanya dapat terlihat ketika berada sangat dekat dengan planet kita. Sebagian besar dari mereka tidak terdeteksi.

Akibatnya, tabrakan seperti ini sering sekali muncul secara tiba-tiba.

Peristiwa Chelyabinsk adalah contoh yang bagus. Asteroid bergerak di orbitnya mengelilingi Matahari, kemudian mendekati Bumi di langit siang hari. Kedatangannya benar-benar tersembunyi dalam cahaya matahari.

Untuk objek yang lebih besar, yang tabrakannya jarang tetapi dapat menghasilkan kerusakan yang jauh lebih besar, kita berharap dapat menerima peringatan sebelumnya.

Mengapa tidak kita pindahkan saja asteroid-asteroid tersebut?

Sementara kita perlu terus mencari benda yang mengancam, ada cara lain yang dapat kita lakukan untuk bisa melindungi diri kita sendiri.

Misi seperti Hayabusa, Hayabusa 2 dan OSIRIS-REx menunjukkan kemampuan untuk melakukan perjalanan ke asteroid dekat Bumi, mendarat di permukaan mereka, dan bergerak memindahkan mereka.

Konsep artis ini menunjukkan pesawat ruang angkasa OSIRIS-REx bersentuhan dengan permukaan asteroid Bennu. NASA's Goddard Space Flight Center

Dari sana, tinggal selangkah untuk dapat membelokkan mereka–sehingga mereka tidak jadi menabrak Bumi.


Read more: How the dinosaurs went extinct: asteroid collision triggered potentially deadly volcanic eruptions


Menariknya, ide-ide untuk menjauhkan orbit asteroid ini cocok dengan kemungkinan melakukan penambangan di asteroid.

Teknologi yang diperlukan untuk mengekstraksi material dari asteroid dan mengirimkannya kembali ke Bumi juga dapat digunakan untuk mengubah orbit asteroid itu dan menjauhkannya dari planet kita.

Kita belum sampai di sana, tetapi untuk pertama kalinya dalam sejarah kita, kita memiliki potensi untuk benar-benar mengendalikan nasib kita sendiri.

This article was originally published in English