Menyelamatkan lingkungan tidak hanya sekadar ganti sampo hotel

Gerakan melarang miniatur peralatan mandi tidak mungkin membekas pada pada krisis plastik global. vaidehi shah/Flickr, CC BY-SA

Grup Hotel InterContinental akan mengganti sampo dan kondisioner hotel mereka dengan produk yang lebih efisien untuk mengurangi limbah plastik pada tahun 2021.

Baru-baru ini, Hotel Marriott juga ikut, berjanji untuk berhenti menyediakan peralatan mandi hotel pada tahun 2020.

Namun, aksi ini tidak serta merta menjadi kabar baik bagi para aktivis lingkungan.

Sama halnya dengan komitmen lingkungan lainnya – seperti melarang penggunaan sedotan plastik, klaim berkelanjutan yang salah kaprah, serta janji korporasi untuk hal yang masih jauh di masa depan, ini tidak lebih dari kegiatan promosi.

Saya Profesor Teknik di MIT dan juga direktur Pusat Transportasi dan Logistik MIT. Seperti yang saya kemukakan dalam buku saya, “Balancing Green: When to Embrace Sustainbility in a Business (And When Not To)”, pemberitahuan semacam ini justru mengalihkan perhatian kita dari langkah-langkah yang lebih penting yang perlu kita ambil untuk menghindari bencana lingkungan.

Di balik berita utama

CEO Grup Hotel InterContinental Keith Barr mengatakan bahwa mengganti peralatan mandi hotel “dapat mengurangi emisi karbon dan dampak lingkungan secara signifikan” di hotel-hotel mereka, antara lain InterContinental, Crowne Plaza, dan Holiday Inn.

Clear Conscience, sebuah yayasan di Inggris, memperkirakan ada 200 juta perlengkapan mandi untuk perjalanan (travel size) setiap tahunnya yang berakhir di tempat pembuangan sampah di negara itu.

Namun, ada motivasi lain: Dengan 5.600 hotel, Grup Hotel InterContinental dapat menghemat hingga US$11 juta setiap tahunnya, atau Rp155 miliar.

Selain itu, beberapa studi yang telah kami lakukan di MIT dan di tempat lain menunjukkan bahwa evaluasi dampak lingkungan suatu produk dapat menyesatkan jika para ekonom tidak mempertimbangkan seluruh proses manajemen rantai pasokan.

Sebagai contoh, sebagian besar jejak karbon dari perusahaan besar seperti Apple, Microsoft, dan Cisco berasal dari pemasok yang memproduksi iPhone, perute (router), dan Xbox. Jejak karbon mereka tidak langsung berasal dari perusahaan.

Lebih lanjut, pengurangan bersih untuk plastik yang dibuang bisa menjadi minimal jika wadah yang lebih besar diisi dengan kantong plastik sekali pakai.

Kita juga belum mengetahui apakah wadah-wadah yang lebih besar tersebut bisa didaur ulang, atau berapa ongkos dan dampak lingkungan saat produksi, pengangkutan, pemasangan hingga pemeliharaan.

Bahkan, apabila mengganti peralatan mandi hotel bisa mengurangi limbah – ada jaringan hotel lainnya ikut bergabung dengan gerakan ini dan hukum di negara bagian California mendukung kebijakan ini – peralihan produk tidak akan membuat perubahan berarti dalam mengurangi limbah plastik yang kini mengotorisungai dan lautan di Bumi ini.

Komitmen semacam ini hanya sebatas inisiatif “berbuat baik” yang malah menjauhkan orang dari aksi yang lebih serius dan benar-benar dapat membuat perubahan.

Contohnya, pelarangan sedotan plastik. Meskipun pelarangan pembuatan sedotan plastik adalah gerakan promosi yang bagus, namun larangan ini tidak memiliki dampak pada akumulasi sampah plastik global.

McDonald’s dan organisasi lainnya mengganti sedotan plastik dengan berbahan kertas. Reuters/Toby Melville

Dukungan dari konsumen

Setidaknya jejaring hotel merespon dukungan konsumen yang kian meningkat pada produk dan layanan ramah lingkungan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa lebih dari 80% konsumen mereka bersedia mengorbankan hal yang personal agar bisa mengatasi permasalahan sosial dan lingkungan,

Namun, saat membeli barang, dukungan mereka terhadap produk ramah lingkungan justru meredup.

Untuk mencari sebab adanya perbedaan antara apa yang orang ucapkan dan seberapa besar niat mereka untuk melakukan, saya dan siswa saya mengamati pilihan konsumen di supermarket di Boston.

Supermarket ini menyajikan produk-produk dengan label ‘ramah lingkungan’ dengan bingkai warna hijau, – detergen, sabun, produk kertas dan lainnya – di samping produk-produk biasa di lorong yang sama.

Kurang dari 10% konsumen memilih produk-produk yang ramah lingkungan, meskipun studi justru menunjukkan bahwa ada sejumlah besar konsumen yang berpendidikan dan berpenghasilan tinggi.

Produk-produk ramah lingkungan tersebut, umumnya, akan lebih mahal 5% hingga 7%.

Mengingat ambivalensi konsumen untuk membayar produk hijau, perusahaan-perusahaan berusaha mengambil tindakan yang bisa menghindarkan mereka dari rusaknya reputasi dan protes dari grup pecinta lingkungan, yang akhirnya bisa memicu boikot dari konsumen dan mereka kehilangan keuntungan penjualan.

Di luar dari itu semua, merek dagang akan melakukan klasifikasi ekonomi ulang yang memperhitungkan penghematan biaya, seperti penghematan energi, sebagai inisiatif keberlanjutan.

Salah satu cara yang baik untuk menghijaukan hotel adalah dengan membatasi penggunaan penyejuk udara.

Cara lainnya, membuat para tamu membayar ekstra untuk handuk yang tidak dipakai kembali ketimbang memohon mereka untuk menggunakan kembali barang-barang ini.

Slogan yang menyatakan “Hotel kami tidak akan membuat kamar lebih dingin dari 75 derajat di musim panas dan tidak lebih hangat dari 65 derajat di musim dingin” memang tidak dapat meningkatkan daya jual hotel.

Bahkan, penggantian botol sampo kecil dengan dispenser curah tidak begitu diterima oleh konsumen.

Grup Hotel InterContinental mengganti perlengkapan mandi hotel dengan produk yang lebih massal. KR_Netez / Shutterstock.com

Usaha yang sia-sia

Dampak paling merusak dari inisiatif “berbuat baik” yang dilakukan oleh korporasi adalah mereka mengalihkan perhatian dari tindakan yang benar-benar bisa membuat perbedaan.

Perusahaan tersebut bisa memfokuskan upaya mereka pada teknologi pengurangan karbon.

Memang teknologi semacam ini belum tersedia dalam skala global, namun “Protokol Montreal” – yang melarang zat-zat yang dapat mengikis lapisan ozon – adalah contoh perjanjian internasional sederhana yang berhasil.

Pemerintah dapat menerapkan langkah adaptasi perubahan iklim, seperti membangun tanggul laut di garis pantai yang rentan, perubahan pola produksi makanan, hingga mengatasi migrasi besar-besaran akibat perubahan iklim.

Contoh dari strategi adaptatif yang komprehensif adalah upaya yang sudah dilakukan oleh Badan Penilaian Lingkungan Belanda.

Memang, di era sekarang, korporasi yang ‘memberikan hadiah’ untuk memuaskan pelanggan mereka karena sudah melakukan pilihan hijau palsu seperti Marriott dan InterContinental akan mendapat pengakuan besar. Tapi, era itu sepertinya akan berumur pendek.

Fahri Nur Muharom menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Artikel ini diperbarui pada tanggal 23 Agustus 2019.

This article was originally published in English