Direktur film Netflix Roma, Alfonso Cuarón, menerima penghargaan Oscar untuk Direktur Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Film Bahasa Asing Terbaik. Alberto Rodriguez/PA

Netflix ‘juara sebenarnya’ Oscar tahun ini–hadiah untuk disruptor industri film

Pada 2019, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada satu film pun yang mendominasi Academy Awards 2019, ajang penghargaan film yang diselanggarakan oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences Amerika Serikat. Tapi bisa dibilang perusahaan streaming film online Netflix muncul sebagai juara.

Netflix hadir dalam acara sebagai “pihak luar” dan menang dalam beberapa kategori paling penting. Dengan 15 nominasi Oscar, Netflix mendapat nominasi pada 2019 sebanyak lima tahun sebelumnya digabungkan.

Film Netflix Roma dinominasikan dalam 10 penghargaan termasuk film terbaik, sutradara terbaik, film berbahasa asing terbaik, dan sinematografi terbaik, dan memenangkan tiga nominasi yang disebutkan terakhir. Untuk pertama kalinya, film yang didistribusikan oleh penyedia jaringan online memenangkan penghargaan terbaik industri ini.

Di balik pujian dan pidato penerimaan yang disampaikan secara sopan, ada perasaan pahit di mata industri film arus utama yang mempertanyakan kelayakan Netflix mendapat pengakuan sebesar ini. John Fithian, Presiden National Association of Theater Owners, mengartikulasikan sikap diam-diam ini ketika dia mengatakan, “para pembuat film yang ingin pergi ke Netflix, mereka seperti menjual jiwanya–memilih uang daripada bagaimana sebaiknya film dilihat.”

Poster teatrikal Roma. Netflix

Kesuksesan Roma adalah permulaan baru dalam perjalanan Netflix sebagai disruptor (pengacau) kemapanan industri hiburan. Pada akhir 1990-an perusahaan ini terkenal mendisrupsi bisnis rental VCD dan DVD lewat model langganan di internet dengan film-film yang disewa pelanggan dikirim melalui pos. Kegigihan mereka dalam mempertahankan model bisnis ini membuat Netflix menggeser pemimpin industri rental Blockbuster di Amerika Serikat, yang tutup pada 2010.

“Lawan” berikutnya adalah perusahaan televisi, yang ditantang Netflix lewat layanan streaming-nya ketika kecepatan internet broadband mampu melakukannya. Hal ini telah memicu percepatan ekspansi internasional perusahaan ini, mengubah Netflix dari agregator konten menjadi rumah produksi konten berkualitas tinggi, dan kini menjadi ancaman besar perusahaan televisi arus utama dan membuat orang-orang mencabut langganan televisi kabelnya. Netflix juga telah mengubah kebiasaan orang-orang menonton, memunculkan generasi yang disebut “binge-watchers”.

Keberhasilan Roma di Oscar juga bukan kebetulan. Itu adalah hasil tekad keras Netflix yang turut mengacau industri ini. Film tersebut merupakan senjata ideal untuk mendapat Oscar. Mereka memiliki sutradara dan produser dengan rekam jejak yang baik dan telah memenangkan penghargaan-perhargaan sebelumnya, dan gaya rumah produksi hitam-putihnya jarang ditawarkan pula ke penonton film arus utama.

Netflix bahkan berkompromi dengan strategi hari-dan-tanggal milik mereka, yang memerlukan semua program dirilis di waktu yang sama di semua wilayah di layanan mereka, untuk menyesuaikan kriteria dari Academy (yang mengharuskan tiap film untuk punya perilisan di bioskop). Mereka juga bekerja sama dengan veteran kampanye Oscar, Lisa Taback untuk mempromosikan film ini dengan anggota Academy lainnya.

Menjaga momentum

Namun, Netflix kini menghadapi kenyataan komersial sebenarnya. Harga saham perusahaannya memang telah meningkat 20 kali lipat dan penghasilannya telah tumbuh dari AS$3,5 miliar menjadi AS$16 miliar sejak 2012, tapi sejak 2018 mereka memiliki utang jangka panjang senilai lebih dari AS$10 miliar. Ini juga belum termasuk AS$19,3 miliar tambahan yang dibutuhkan untuk mengamankan hak siar Netflix untuk terus beroperasi pada masa depan.

Volume konten yang diharapkan pelanggan Netflix saat ini terbukti mahal untuk dijaga, dengan anggaran produksi diperkirakan sekitar US$13 miliar tahun ini. Ini pun menekan arus kas bebas-–arus kas tersisa setelah perusahaan membayar beban-beban operasional dan kebutuhan investasinya–-yang akan tidak dapat dihindari akan tetap negatif pada masa yang akan datang.

Jika Netflix ingin menyelesaikan beban utangnya dan terus bertahan, mereka perlu mempercepat pertumbuhan pelanggan dan meningkatkan penghasilan dari mereka. Ini akan menjadi penting di hadapan kompetisi dari pemain bisnis streaming besar lainnya–Amazon, Hulu, atau HBO, juga untuk selangkah di depan pendatang baru seperti Disney dan Apple yang datang dengan modal melimpah.

Hal tersebut tidak akan mungkin jika Netflix terus dipandang hanya sebagai alternatif saluran untuk menonton konten yang sebenarnya sudah ada di televisi. Sebaliknya, Netflix ingin dipandang sebagai saluran premium tempat konten-konten berkualitas dapat ditonton.

Harapannya adalah mereka akan dianggap oleh pasar sebagai tempat orang-orang menonton film-film terbaru, setidaknya setara atau bahkan lebih baik dibanding bioskop. Mencapai perubahan dapat mengacaukan model industri yang sudah ada yang memberikan bioskop prioritas untuk film rilisan terbaru.

Bahkan jika Netflix mampu mencapai ini, pengalaman perusahaan ini menunjukkan bahwa Netflix tidak akan puas di situ. Mereka tidak menyembunyikan visi mereka sebagai pesaing dalam industri yang menangkap waktu luang dan uang pengguna. Fokus mereka untuk mengajak pelanggan menghabiskan waktu untuk menonton film lebih banyak daripada kegiatan lain sepertinya tidak akan terkikis.

Namun, pertanyaannya masih sama: apakah Netflix dapat mengatasi tantangan keuangannya dan melawan pesaing-pesaing yang mencoba menghentikan rencana disrupsi mereka? Mogul media Barry Diller telah menyimpulkan Netflix sudah menang dan “Hollywood kini sudah tidak penting”. Untuk membuktikannya, kita masih perlu terus melihat bagaimana Netflix terus merongrong industri yang sudah mapan berabad-abad ini.

Naskah ini diterjemah dari bahasa Inggris oleh Reza Pahlevi.

This article was originally published in English