Nilai tukar rupiah terus merosot di atas Rp14.000 per dolar. Kapan akan stabil?

Apakah nilai tukar rupiah terhadap dolar akan terus melemah? www.shutterstock.com

Nilai tukar rupiah terus merosot di atas Rp14.000 per dolar. Kapan akan stabil?

Nilai tukar rupiah mengalami guncangan yang signifikan pada tahun ini. Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Mei lalu, rupiah menembus level psikologis Rp14.000 per dolar, dan tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terjelek kedua di Asia pada Februari sampai April 2018.

Bank Indonesia sebagai bank sentral telah mengintervensi dalam beberapa kesempatan melalui pembelian surat utang dan penjualan valuta asing untuk menjaga rupiah di level aman. Namun tren rupiah tetap saja menurun. Pada 13 Juli 2018, rupiah berada pada kisaran Rp14.400 per dolar.

Nilai tukar US$ ke rupiah ; 3 Juli 2017 - 3 Juli 2018; Sumber: https://www.xe.com.

Lewat tulisan ini, saya akan mencermati beberapa faktor yang menyebabkan turunnya nilai tukar rupiah sembari mengidentifikasi yang diuntungkan dan dirugikan dari pergerakan rupiah tersebut. Saya juga akan melihat prospek rupiah ke depan apakah nilai tukar rupiah akan menguat kembali.

Faktor internal dan eksternal

Salah satu faktor internal di balik turunnya nilai tukar rupiah adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang kurang optimal dengan lambannya peningkatan konsumsi domestik.

Sebenarnya, tren pelemahan ke dolar tidak hanya terjadi pada rupiah, tapi juga terjadi pada mata uang negara Asia yang lain. Mengamati hal ini, pasti ada faktor-faktor eksternal juga yang melemahkan rupiah.

Faktor eksternal utama penyebab turunnya nilai tukar rupiah adalah langkah agresif dari Federal Reserve (the Fed) untuk menaikkan suku bunga di Amerika Serikat. Dari awal sampai pertengahan 2018, suku bunga di Amerika sudah naik dua kali. Keputusan ini diambil untuk menekan laju inflasi di Amerika yang naik ketika negara adidaya tersebut semakin pulih dari krisis ekonomi global.

Kenaikan suku bunga di Amerika telah memicu para investor mengalihkan dananya dari aset-aset keuangan di negara berkembang seperti Indonesia. Investor ini kemudian memilih membeli aset-aset yang berbasis dolar. Ketika ini terjadi, permintaan dolar di pasar akan meningkat, dan secara otomatis dolar akan menguat terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Untung rugi nilai tukar rupiah yang melemah

Pelemahan nilai tukar rupiah adalah berita buruk bagi masyarakat Indonesia yang akan bepergian ke luar negeri, atau bagi mereka yang akan belanja online. Tiket pesawat, tarif hotel dan harga-harga barang impor dalam dolar menjadi lebih mahal bagi konsumen Indonesia.

Ketika importir merugi, eksportir Indonesia justru diuntungkan dengan situasi ini. Bagi konsumen di luar negeri, barang-barang Indonesia menjadi lebih murah ketika rupiah melemah. Produk buatan Indonesia yang di ekspor akan menjadi lebih kompetitif di pasar dunia.

Ketika ekspor naik dan impor turun, net ekspor Indonesia akan meningkat. Pertumbuhan jangka pendek ekonomi Indonesia dalam hal ini akan terpacu. Ini akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang beberapa tahun ini macet di level 5%.

Untuk mendapatkan analisis yang lebih menyeluruh tentang dampak ekonomi pelemahan rupiah, kita harus melihat pergerakan rupiah di dalam indeks real effective exchange rate (REER).

Indeks REER tidak cuma melihat nilai tukar nominal rupiah terhadap dolar. Lebih dari itu, REER indeks melihat pergerakan rupiah secara rata-rata terhadap beberapa mata uang penting dari negara-negara yang menjadi mitra dagang Indonesia, seperti dolar Amerika, yuan, euro, dan yen. Di samping itu, REER indeks juga melihat dampak inflasi domestik maupun luar negeri terhadap posisi dagang Indonesia.

Kesimpulan bahwa Indonesia akan lebih kompetitif dalam perdagangan dunia baru bisa kita dapatkan bila rupiah tidak cuma menurun terhadap dolar, tapi juga menurun secara indeks REER. Dalam hal ini, data dari global makro ekonomi database CEIC menunjukkan ada penurunan di dalam rupiah REER indeks pada periode April 2017 sampai Maret 2018. Sekarang kita benar-benar dapat mengambil kesimpulan bahwa pelemahan rupiah akan baik untuk posisi perdagangan dan ekonomi Indonesia.

Secara singkat, melemahnya rupiah adalah satu hal yang positif untuk ekonomi Indonesia.

Namun kita harus berhati-hati dengan dampak-dampak negatif lainnya bila rupiah terus merosot.

Rupiah yang terus merosot akan menambah beban utang bagi pemerintah, mengingat sebagian utang Indonesia ada di dalam bentuk mata uang asing.

Turunnya nilai tukar rupiah yang berkelanjutan juga akan menyebabkan kenaikan laju inflasi dengan semakin mahalnya ongkos produksi, khususnya untuk produksi yang memakai bahan baku impor. Pada akhirnya Bank Indonesia harus mengambil pilihan berat untuk lagi-lagi menaikkan suku bunga demi meredam kenaikan laju inflasi di Indonesia, dan memberikan stimulus untuk menaikkan rupiah.

Prospek rupiah ke depan?

Akan sangat mungkin pada penghujung tahun ini untuk rupiah semakin jatuh ke level Rp15.000 per dolar.

The Fed tetap akan meneruskan aksinya untuk menaikkan suku bunga di Amerika. Isyarat-isyarat yang ada menunjukkan bahwa akan ada kenaikan suku bunga dua kali lagi di Amerika tahun ini.

Sekarang ekonomi dunia juga lagi dihebohkan dengan perang dagang Amerika versus Cina. Konflik perdagangan ini akan berdampak negatif untuk ekspor Indonesia, khususnya komoditas seperti biodiesel dan produk-produk turunan dari minyak mentah kelapa sawit.

Cina dan Amerika adalah dua negara terpenting untuk ekspor Indonesia. Dampak negatif perang dagang kedua negara ini mungkin akan merugikan Indonesia. Implikasi selanjutnya adalah menurunnya permintaan rupiah yang akan berdampak pada terus melemahnya rupiah.

Bank Indonesia harus siap mengintervensi lagi dengan menjual valuta asing untuk menghindari krisis rupiah. Untungnya, sekarang Bank Indonesia mempunyai cadangan valuta asing yang jauh lebih mumpuni dibanding ketika Indonesia menghadapi krisis moneter Asia pada 1998.

Jadi, bersiaplah! Fluktuasi rupiah yang cukup signifikan akan terus terjadi!

This article was originally published in English