Pekan Hiu: Hal-hal yang sering diabaikan tentang hiu

Tidak apa-apa, saya pemakan fitoplankton: Hiu paus di Indonesia. Marcel Ekkel/Flickr, CC BY

Manusia memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap hiu, meskipun data menunjukkan bahwa risiko digigit oleh hiu sangatlah kecil.

Selain sebagai ahli biologi kelautan, saya bekerja sebagai direktur di Program Penelitian Hiu di Florida, Amerika Serikat, yang sudah mendokumentasikan kasus serangan hiu global terhadap manusia sejak tahun 1958. Data tersebut dikumpulkan dalam sebuah dokumen tentang serangan hiu internasional atau (Shark Attack International File).

Melalui data yang berhasil dikumpulkan, kami berusaha membuktikan bahwa serangan hiu justru sangat jarang terjadi.

Anda 30 kali lebih mungkin tersambar petir, lebih mungkin meninggal saat mengambil foto selfie atau bahkan digigit seseorang di New York, ketimbang digigit hiu.

Menyambut program mingguan khusus tentang Hiu (Shark Week) di Discovery Channel, berikut adalah beberapa hal tentang hiu yang sering diabaikan :

Hiu berasal dari keluarga besar dan beragam

Tidak semua hiu sama. Hanya belasan dari sekitar 520 spesies hiu yang berpotensi memiliki konflik dengan manusia. Bahkan ketiga spesies hiu yang dianggap berbahaya bagi manusia, – hiu putih (Carcharodon carcharias), hiu harimau (Galeocerdo cuvier) dan hiu banteng (Carcharhinus leucas) –, memiliki perilaku dan genetik yang berbeda satu sama lain.

Hiu macan dengan hiu banteng berbeda secara genetik, seperti anjing berbeda dengan kelinci. Kedua spesies ini juga jauh berbeda dengan hiu putih, layaknya anjing dengan kangguru.

Kedua grup – hiu putih dengan hiu harimau dan hiu banteng – memisahkan diri karena evolusi sejak 170 juta tahun lalu, saat masih zaman dinosaurus, sebelum asal usul burung, dan 110 juta tahun sebelum asal usul primata.

Hiu putih, hiu harimau, dan hiu banteng adalah spesies berbeda yang terpisah secara genetik ratusan juta tahun yang lalu. Gavin Naylor, CC BY-ND

Meski demikian, banyak orang beranggapan bahwa semua hiu itu sama dan memiliki kecenderungan akan menyerang manusia.

Istilah ‘serangan hiu’ secara ilmiah sama dengan serangan mamalia. Tidak akan ada yang menyamakan gigitan anjing dengan gigitan hamster, tapi inilah yang kita lakukan ketika membicarakan hiu.

Lebih jelasnya, ketika seorang reporter bertanya tentang kasus serangan hiu putih di Cape Cod, Amerika Serikat dan meminta saran bagi para pengunjung pantai di California Utara, Amerika Serikat maka ini sama saja dengan, “Seorang pria mati digigit anjing di Cape Cod. Apa yang harus kita lakukan saat berhadapan dengan kanguru di California Utara?”

Kenali spesies

Memahami perilaku dan kebiasaan hidup spesies lokal adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga diri. Contohnya, hampir semua serangan yang terjadi di Cape Cod dilakukan oleh hiu putih yang memiliki tubuh cukup besar dan berenang sendirian di perairan air dingin untuk mencari ikan. Meskipun mereka juga bisa terlihat bergerombol dekat koloni anjing laut untuk berburu ikan pada waktu-waktu tertentu.

Sementara, serangan hiu yang terjadi di pantai Carolina merupakan spesies air hangat, seperti hiu banteng, hiu harimau, dan hiu sirip hitam (Carcharhinus limbatus).

Setiap spesies hiu memiliki habitat dan preferensi makanan masing-masing.

Hiu sirip hitam, yang kami duga bertanggung jawab atas beberapa kasus serangan ringan pada manusia di Amerika Serikat bagian tenggara, memakan ikan kecil seperti menhaden.

Sebaliknya, hiu banteng bisa berada di perairan air tawar dan perairan air asin, hingga muara sungai.

Gigitan hiu banteng lebih tajam daripada hiu sirip hitam karena mereka lebih besar, lebih kuat, lebih agresif, dan lebih ulet. Beberapa kematian manusia akibat gigitan hiu berasal dari hiu banteng.

Hiu harimau juga besar dan berbahaya bagi manusia, terutama di lepas pantai pulau vulkanik seperti Hawai, Amerika Serikat, dan Reunion, pulau kecil di perairan Afrika milik Prancis. Hiu harimau merupakan hewan tropis yang sering menjelajah ke perairan dangkal yang sering dikunjungi oleh para perenang dan peselancar.

Hiu merupakan predator penting yang memiliki peran dalam rantai makanan di laut.

Manusia bukan target hiu

Hiu tidak “berburu” manusia. Berdasarkan dokumen Serangan Hiu Internasional yang disusun selama 60 tahun terakhir, ada hubungan antara serangan hiu dan jumlah orang di dalam air.

Dengan kata lain, gigitan hiu terjadi karena adanya pertemuan manusia dengan hiu. Kebanyakan kasus gigitan hiu adalah kasus salah identifikasi. Apabila hiu berburu manusia, maka jumlah kasus akan jauh lebih banyak karena manusia merupakan target mereka.

Situasi di lapangan juga berpengaruh terhadap risiko serangan hiu. Pertemuan dengan hiu akan mungkin terjadi apabila mereka berenang dekat ke pantai, tempat manusia berenang. Hiu cenderung berenang mengikuti ikan atau anjing laut yang merupakan mangsa mereka.

Jadi kita bisa menggunakan variabel lingkungan, seperti suhu, pasang surut, atau kondisi cuaca untuk lebih baik memprediksi pergerakan ikan-ikan ke pantai yang bisa digunakan untuk memperkirakan keberadaan hiu.

Hal ini akan dilakukan oleh program kami bekerja sama dengan universitas lainnya selama beberapa tahun ke depan.

Kami sudah memulai pemantauan pergerakan hiu yang ditandai di perairan lepas pantai dan hubungannya dengan variabel lingkungan sehingga bisa mengetahui kondisi apa saja yang membuat hiu mendekati pantai.

Mengetahui lebih banyak tentang hiu

Masih banyak yang harus dipelajari tentang hiu. Terutama fakta bahwa adanya lebih dari spesies hiu yang tidak pernah menggigit manusia. Salah satunya, hiu kantung yang berukuran mungil di laut dalam. Hiu unik ini memiliki kantong aneh di belakang sirip dada.

Hanya dua spesimen hiu kantong berhasil ditangkap - satu di lepas pantai Cile 30 tahun yang lalu dan satu lagi di Teluk Meksiko di Laut Mediterania.

Kami belum mengetahui persis fungsi dari kantong tersebut, dugaan awal kantong tersebut digunakan untuk menyimpan cairan bercahaya yang berguna untuk mengalihkan perhatian predator. Sementara, kerabat dekatnya, tail light shark atau hiu ekor, melepaskan cairan bercahaya dari kelenjar di bagian bawah dekat lubang napas.

Hiu goblin (Mitsukurina owstoni) yang banyak ditemukan di Asia ini bisa memanjangkan rahangnya untuk memasukkan mangsa ke dalam mulutnya.

Bentuk hiu sangatlah beragam, mulai dari hiu goblin yang unik (Mitsukurina owstoni) dan sering ditemui di Jepang, hingga hiu paus (Rhincodon typus), hiu pemakan fitoplankton yang terkenal jinak.

Sayangnya, kami belum bisa menemukan lokasi pembiakan hiu paus yang kemungkinan dipenuhi dengan ribuan anak hiu. Untuk jenis hiu laut dalam, umumnya bisa dideteksi kapal-kapal selam, contohnya hiu enam insang atau sixgill shark, hiu raksasa pemakan bangkai dan kemungkinan hewan lain di laut dalam.

Meski hiu bukan hewan yang asing lagi bagi manusia, namun ternyata banyak yang belum diketahui. Pemahaman tentang biologi hiu masih di permukaan saja. Tapi, setidaknya kita mendapatkan gambaran sedikit bahwa hiu berbeda dengan vertebrata lainnya.

Mereka sudah berevolusi selama 400 juta tahun lamanya untuk beradaptasi dengan lingkungan, oleh karena itu banyak hal yang belum terungkap oleh manusia.

Amira Swastika menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English