Penduduk asli di Argentina mengeringkan kulit anaconda kuning (ular) dengan cara mematoknya di ruang terbuka. Tomas Waller, Author provided

Pelarangan kulit eksotik untuk fashion dapat musnahkan ular dan buaya dalam jangka panjang

Kita kenal dengan konsep “berita palsu”: kisah-kisah yang secara faktual tidak akurat, tapi berhasil diterima masyarakat karena pesan mereka cocok dengan keyakinan para penerima pesan.

Kami di bidang sains konservasi mengingatkan bahwa sebuah bentuk dari jenis misinformasi ini–yang dikenal sebagai “feelgood conservation”–mengancam pendekatan untuk pengelolaan hewan liar yang telah dikembangkan oleh beberapa dekade penelitian.

Masalah ini muncul pada Februari lalu ketika pengusaha ritel di Inggris Selfridges mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menjual kulit-kulit “eksotis"—kulit dari spesies reptil seperti buaya, kadal, dan ular—untuk melindungi populasi hewan liar dari eksploitasi berlebihan.

Namun, keputusan ini tidak didukung oleh bukti.


Read more: Guns, snares and bulldozers: new map reveals hotspots for harm to wildlife


Terlalu sederhana

Melarang penggunaan kulit hewan dalam industri mode terdengar mudah dan terlihat terpuji—reptil liar akan hidup damai, daripada harus dibunuh untuk perdagangan kulit mewah.

Namun riset puluhan tahun menunjukkan bahwa menghindari perdagangan komersial kulit reptil, Selfridges mungkin mencapai hal yang berbanding terbalik dari keinginan mereka. Mengurangi perdagangan komersial dapat menjadi bencana bagi beberapa populasi reptil liar.

Bagaimana mungkin? Bukankah penggunaan kulit hewan liar secara komersial mengancam populasi reptil tropis yang dikumpulkan dan dibunuh untuk diambil kulitnya?

Ternyata, tidak. Anda harus melihat masa lalu nasib hewan individual tersebut dan mempertimbangkan masa depan spesies tersebut. Penggunaan kulit hewan liar secara komersial memberi orang lokal—kebanyakan sangat miskin—sebuah insentif finansial langsung untuk merawat populasi reptil dan habitat tempat mereka bergantung.

Jika kadal, ular, dan (khususnya) buaya tidak berharga bagi Anda, mengapa Anda ingin mempertahankan keberadaan mereka, atau melindungi hutan dan rawa-rawa tempat mereka tinggal?

Seorang perempuan membesarkan piton Burma di perkebunan kecil Kepulauan Hainan, Cina. Daniel Natusch, Author provided

Read more: What Australia can learn from Victoria's shocking biodiversity record


Pemakan manusia terbesar di billabong

Studi kasus paling penting yang mendukung prinsip tersebut melibatkan buaya air asin di Australia tropis—pemakan manusia paling besar dan kejam di billabong (danau kecil dalam istilah Australia).

Dipanen berlebihan hingga hampir punah, reptil besar ini akhirnya dilindungi dalam Wilayah Utara Australia pada 1971. Populasi ini mulai pulih, tapi pada 1979-80, ketika kasus buaya menyerang manusia mulai marak, publik dan politikus menginginkan buaya-buaya ini dikurangi lagi. Jadi sulit untuk menyalahkan mereka untuk itu. Siapa yang ingin seekor buaya lapar di kolam tempat anak-anak mereka berenang?

Buaya air asin adalah alasan banyak pantai tidak dibuka untuk berenang di Australia utara. Shutterstock

Namun pada masa kini situasi tersebut telah berubah sepenuhnya. Buaya air asin telah kembali ke habitatnya. Populasi ini telah pulih. Reptil-reptil besar ini kini ada di tiap sungai dan anak sungainya—bahkan di sekitar kota Darwin, ibu kota Northern Territory.

Cerita sukses konservasi ini dicapai bukan dengan melindungi buaya, tapi dengan membuat mereka menjadi aset finansial untuk orang-orang lokal.

Telur dikumpulkan dari alam tiap tahunnya, pemilik tanah dibayar untuk itu, dan hasil penetasannya pun dibawa ke peternakan buaya tempat mereka dibesarkan, lalu dibunuh untuk dibuat aksesoris kulit mewah, dagingnya, dan produk lainnya. Pemilik tanah pun akhirnya memiliki ketertarikan finansial dalam menjaga buaya dan habitatnya karena dapat keuntungan dari itu.

Telur buaya air asin dipanen di Northern Territory, Australia. Daniel Natusch, Author provided

Kunci kesuksesan adalah dukungan oleh masyarakat. Ada banyak hal negatif yang tidak dapat dimungkiri dalam memiliki buaya besar sebagai tetangga—tapi jika buaya-buaya itu dapat berkontribusi pada anggaran keluarga, Anda mungkin ingin mempertahankannya. Di Australia, ini telah berhasil.

Perdagangan ular sanca raksasa di Indonesia, tetangga utara Australia, telah diteliti dengan cara yang sama, dan kesimpulannya sama. Panen ini berkelanjutan karena memberi uang tunai kepada masyarakat lokal, dalam masyarakat yang uang tunai sulit didapat.


Read more: Elephants and economics: how to ensure we value wildlife properly


Keputusan tanpa bukti

Kolektor menangkap seekor ular anaconda kuning di Argentina. Emilio White, Author provided

Jadi bukti menyebutkan bahwa eksploitasi komersial ternyata dapat menjaga populasi, bukannya memusnahkan mereka.

Lalu mengapa perusahaan-perusahaan mengambil keputusan yang dapat membahayakan hewan liar? Mungkin karena mereka tidak tahu hal ini.

Kampanye media oleh aktivis hak-hak hewan bertujuan untuk meyakinkan orang-orang kota yang baik hati bahwa cara terbaik mengkonservasi hewan adalah menghentikan manusia membahayakan hewan-hewan liar. Hal ini mungkin efektif untuk beberapa hewan, tapi gagal total untuk reptil liar.

Kami berpendapat, jika kita ingin menjaga populasi ular besar dan buaya liar hingga cucu kita pun bisa melihat mereka (semoga tidak terlalu dekat), kita perlu meninggalkan ”feelgood conservation“ dan mempertimbangkan manajemen berbasis sains bukti.

Kita perlu meninggalkan pandangan "ayo jangan membahayakan binatang cantik” dan lebih serius untuk mencari bukti kuat. Dan ketika membahas reptil besar, jawabannya jelas.

Pelarangan yang diumumkan Selfridges adalah langkah bencana yang dapat memusnahkan beberapa dari hewan liar paling spektakuler di dunia dan mengasingkan orang-orang yang tinggal dekat mereka.

Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Reza Pahlevi.

This article was originally published in English