Pemilih pemula dalam Pilpres 2019, bagaimana karakter mereka di tengah menguatnya konservatisme

Petugas tempat pemungutan suara mencoba kotak suara di Batang, Jawa Tengah, 27 Maret 2019. Onyengradar/Shutterstock

Dalam pemilihan umum Rabu besok (17 April), setidaknya ada lima juta suara pemilih pemula (usia 17 tahun, baru pertama kali memilih) yang akan diperebutkan oleh pasangan calon presiden dan wakilnya, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jumlah tersebut sekitar 2,5% dari total pemilih yang mencapai 192 juta orang. Meski porsiya kecil, suara mereka sangat mempengaruhi siapa calon presiden yang menang, apalagi di tengah selisih suara yang makin mengecil.

Survei mutakhir menunjukkan selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo 19,8%, sementara pemilih yang belum menentukan pilihan 6,3%. Ayunan suara dari pemilih pemula akan ikut menentukan siapa yang akan menjadi presiden terpilih.

Hasil riset awal saya menunjukkan bahwa pemilih pemula memiliki preferensi memilih yang tidak tergantung pada nilai-nilai ideologis tapi lebih cenderung dipengaruhi oleh isu keseharian seperti isu kemacetan di kota besar, banjir, ketersediaan bahan pokok, dan layanan publik. Satu riset saya lagi menunjukkan mereka juga lebih banyak mengonsumsi media sosial sebagai deskripsi awal tentang preferensi perilaku memilihnya.

Kedua pola tersebut berkembang dari waktu ke waktu karena pada dasarnya pemilih pemula adaptif terhadap dinamika isu dan periode. Pada pemilu 2014, pemilih pemula dihadapkan pada narasi populisme dan oligarki. Sekarang pada 2019, mereka menghadapi narasi konservatisme identitas dan pluralisme kebangsaan. Apa pun narasinya, pemilih pemula memiliki karakter tersendiri yang berbeda dengan generasi yang lebih tua.

Beberapa pemilih muda di Indonesia memilih untuk menjadi relawan dalam gerakan politik dan memiliki identitas kelompok yang kuat. Ada juga yang apolitis dan apatis.

Voluntarisme

Banyak anak muda yang melibatkan diri dalam politik melalui voluntarisme politik. Ini dapat dilihat dalam keterlibatan mereka dalam gerakan relawan misalnya Relawan Jokowi bagi pendukung Presiden petahana Joko Widodo,Teman Ahok bagi pendukung mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan Sahabat Ridwan Kamil bagi pendukung mantan Wali Kota Bandung.

Anak muda yang tidak menyukai hierarki dan institusi kerap memilih untuk terlibat dalam gerakan relawan ketimbang partai politik. Mereka tidak terikat pada norma dan organisasi, tapi masih bisa untuk berjuang bersama dalam sebuah ikatan. Mereka lebih mengedepankan solidaritas berbasis isu atau sebagian juga masih berbasis fanatisme figur.

Kolegialitas

Hal lain yang bisa dilihat dari karakter politik anak muda Indonesia adalah kolegialitas. Suara dan sikap mereka tidak mewakili suara per individu, tapi suara kelompok.

Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa anak muda Indonesia berupaya membangun eksistensi dan representasi dengan membentuk kelompok-kelompok atau komunitas mereka sendiri, misalnya dalam bentuk kelompok bermusik atau komunitas olahraga. Hasil riset tersebut menunjukkan kalau eksistensi dan representasi tersebut digerakkan oleh penggunaan media digital.

Dalam melakukan hal itu mereka menunjukkan sifat mereka yang ingin independen dan netral tapi dalam skala kelompok. Mereka disatukan pada minat dan kesamaan. Kolegialitas juga bermakna sebagai perlawanan kultural terhadap sistem sosial yang telah mapan. Anak muda Indonesia bisa bereksperimen dengan kolegialitas sebelum mencemplungkan diri dalam ajang politik terbuka.

Dalam urusan politik praktis, kolegialitas berbasis kelompok ini menjadi momen penting bagi para politikus maupun partai politik untuk bisa meraup dan merengkuh satu segmen anak muda tersebut. Kelompok band musik Slank, yang mendukung Jokowi, dan para fans mereka adalah contoh bentuk kolegalitas ini.

Bagi para pemilih muda, mereka harus menyadari juga bahwa kolegialitas mereka rentan untuk diinflitrasi dan dibelokkan oleh kelompok masyarakat partisan dan loyalis figur tertentu guna menambah jumlah perolehan suara.

Apolitis dan apatis

Karakter yang paling sering dibicarakan dalam membahas politik anak muda adalah kecenderungan apolitis dan apatis. Kedua sikap tersebut selalu muncul dalam berbagai kajian maupun diskusi akademik yang membahas anak muda Indonesia terutama mereka yang lahir pasca-1998.

Temuan riset Center for Strategic and International Studies dan Alvara mengemukakan bahwa gejala apolitis itu terjadi karena perbedaan faktor sosial ekonomi dan sosial politik, misalnya ketersediaan lapangan kerja dan aksesibilitas informasi. Keduanya berdampak pada pembentukan karakter apolitis yang lebih didorong faktor pragmatis; rezim berganti atau bertahan tidak mempengaruhi langsung kehidupan mereka.

Oleh karena itu, gejala apolitis ini bukan muncul karena maraknya persekusi dan intimidasi misalnya perundungan dan pengucilan di lingkungan sosial karena perbedaan politik, tapi pola apolitis sudah dibentuk lama sejak menjalani pendidikan di rumah. Keluarga memiliki andil besar dalam mempengaruhi perjalanan hidup seseorang ketika nanti menentukan pilihan hidup karena anak dapat menjadi cerminan keberhasilan pendidikan orang tua secara sosial. Banyak keluarga Indonesia yang mendorong anak muda sekarang (17-35 tahun) untuk menjadi kelompok pekerja mapan. Penanaman nilai itu yang menjadi basis pandangan anak muda bahwa mengejar karir mapan secara ekonomis itu suatu keharusan daripada bertarung idealisme.

Bagaimana pun, suara politik anak muda Indonesia berpotensi untuk menjadi penyeimbang, bahkan menjadi penentu dalam pemilu presiden 2019 ini. Siapa pun yang menang, presiden terpilih harus mendengar suara mereka.