Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama setelah bebas dari penjara. MADE NAGI/EPA

Plus-minus perkawinan beda generasi seperti Ahok-Puput

Kehidupan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama (BTP) selalu menarik disimak. Setelah keluar dari penjara karena perkara penodaan agama, Ahok (52 tahun) berencana menikahi Puput Nastiti Devi (21 tahun), mantan polisi yang usianya terpaut 31 tahun lebih muda darinya.

Perkawinan pasangan beda generasi mudah kita temui di masyarakat di berbagai kelas sosial di kota dan desa, baik yang dipublikasikan ataupun tidak. Akhir tahun lalu, misalnya, ada foto dan video viral dari Semarang yang menunjukkan pesta pernikahan komisaris Jamu Jago, Suryo Hadiwinoto (84 tahun), dan karyawan perusahaan tersebut, Lily Budirahardjo (48 tahun).

Secara psikologis, laki-laki atau perempuan yang menikahi pasangan yang beda usianya sangat jauh atau beda generasi merupakan keputusan besar. Sejauh ini belum ada data statistik di Indonesia tentang perbedaan usia pasangan yang menikah.

Di luar urusan cinta, perbedaan usia yang terpaut jauh tidak harus menjadi masalah bila masing-masing pihak memahami dan siap menghadapi risikonya. Lalu apa saja plus-minusnya menikah dengan orang yang rentang usianya begitu jauh? Artikel ini mengulasnya dari sudut psikologi perkembangan individu atas keputusan panjat sosial seseorang, khususnya pada perempuan.

Tahap mencari pasangan

Ahli psikologi dari Jerman Erik Erikson menyatakan individu akan mengalami krisis psikososial yang berbeda-beda pada setiap tahapan perkembangannya. Tahap Dewasa Muda (21-39 tahun), misalnya, merupakan awal individu mencari pasangan hidup. Individu mulai cemas memikirkan pasangan ideal yang tepat baginya.

Sungguh membahagiakan bila ia berhasil mendapatkan pasangan yang diimpikan dan lalu hidup bersama serumah. Sebab, seiring dengan berjalannya waktu, pergaulan seseorang akan menyempit saat memasuki dunia kerja. Kecemasan mendapat pasangan hidup (menikah) akan lebih tinggi bila mengetahui teman-teman sebayanya sudah menikah. Ia mungkin merasa terisolasi dan sendiri.

Tahap merasakan makna hidup dan bekerja

Pada Tahap Dewasa (40-65 tahun), individu mulai merasakan makna hidup dan bekerja. Mereka dituntut untuk memberi kontribusi pada masyarakat dan meninggalkan legacy atau sesuatu yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Bila gagal pada tahap ini, ia akan merasa menjadi warga yang tak berguna bagi masyarakat. Kondisi stagnan akan makin terasa pada akhir tahap ini, saat mereka mulai menyiapkan diri memasuki masa pensiun.

Memasuki tahap terakhir perkembangan (65+ tahun), individu umumnya sudah pensiun. Mereka mulai melihat kembali ke belakang dan merefleksikan diri apakah selama hidupnya telah melakukan perbuatan yang bermakna dan maksimal. Bila yakin telah mengisi hidupnya dengan maksimal, hidupnya akan dirasa penuh. Sebaliknya, putus asa mungkin terjadi pada mereka yang gagal mengisi hidupnya dan merasa tidak ada waktu lagi untuk memperbaiki kegagalan pada masa lampau.

Dengan memahami krisis psikososial pada setiap tahap perkembangan tersebut, pernikahan beda usia yang cukup jauh tetap bisa berjalan dengan lancar, khususnya bila berada dalam tahap perkembangan yang sama. Potensi masalah mungkin terjadi saat pasangan berada pada tahapan yang berbeda.

Tuntutan berbeda

Konstruksi sosial gender dalam sistem patriarkal membuat perempuan dan laki-laki memiliki tuntutan psikososial yang berbeda. Misalnya, pada usia 30 tahun laki-laki diharapkan sudah mulai mempunyai pekerjaan yang tetap dan meniti karir dalam pekerjaannya karena ia akan atau telah mengambil peran kepala rumah tangga.

Sementara pada usia yang sama, umumnya masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, mengharapkan perempuan untuk menikah ketimbang melajang dan meniti karir. Itu sebabnya muncul stigma “perawan tua” yang dilekatkan pada perempuan, tapi tidak ada stigma serupa pada laki-laki.

Keuntungan panjat sosial

Bila pasangan beda usia melewati beda generasi (tahapan perkembangan), perlu ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Kebutuhan atas kemapanan hidup bisa jadi salah satu faktor pendorong perempuan muda yang menikahi laki-laki berumur lebih tua. Jika laki-laki berumur yang dinikahi telah mapan secara ekonomi, sosial, dan psikologis, kebutuhan-kebutuhan standar seperti rumah dan kendaraan dengan mudah terpenuhi.

Kemapanan sosial yang dicapai suami juga dengan mudah menjadi bagian istri. Kebutuhan konsumtif yang berhubungan dengan gaya hidup, misalnya, untuk bisa tampil dengan pakaian, tas, dan sepatu bermerek serta memegang gawai keluaran mutakhir, akan lebih mudah terpenuhi bagi perempuan yang menikah dengan laki-laki yang mapan. Jika suami adalah orang terkenal, secara otomatis ia pun akan naik pamornya.

Sebagai perempuan muda, perkawinan ini bisa menaikkan derajat sosialnya. Secara psikologis, laki-laki berumur juga biasanya lebih matang, kebapakan, dan cenderung ‘ngemong’. Pada perempuan yang kehilangan figur ayah, karakter kebapakan seperti ini seringkali menjadi hal yang dirindukan. Karakter yang melindungi, mempunyai kemampuan memimpin dan bisa diandalkan menciptakan perasaan aman bagi perempuan.

Kerugian juga ada

Walau ada yang sisi “keuntungan” nikah beda generasi, ada sejumlah konsekuensi yang perlu dipertimbangkan. Perempuan bisa mengalami stres bila suami tidak bisa mengimbangi gejolak dan dinamika kehidupan mudanya. Misalnya, istri ingin beraktivitas outdoor seperti naik gunung bersama sahabat karib atau berdansa di kelab malam. Suami mungkin enggan menemani istri, tapi memberi izin istrinya melakukan kegiatan yang disukainya.

Pada titik tertentu suami yang hidup dalam budaya patriarki juga bisa stres karena mengetahui istrinya meninggalkan pekerjaan domestik rumah tangga karena sering melakukan kegiatan di luar rumah.

Jika suami berusia 40–65 tahun, ia berada pada fase menyiapkan sesuatu yang diwariskan generasi mendatang. Istri yang jauh lebih muda mungkin mempunyai aspirasi yang berbeda dan yang ingin mereka penuhi juga. Potensi konflik ada dan baik suami maupun istri bisa mengalami frustrasi karena harapannya tidak terpenuhi.

Istri mungkin menginginkan suaminya menyesuaikan diri, misalnya tampil muda, menggunakan gaya bahasa anak muda, dan lainnya. Dampak positifnya, suami menjadi tampak segar dan muda. Hal ini tentu menggembirakan istri dan teman-temannya.

Sebaliknya, istri juga dituntut untuk bisa menjadi pendamping suami dan bergaul di lingkungan sosial suaminya. Hal ini tidak mudah dan membutuhkan komunikasi terus menerus untuk bisa saling memahami dan mendukung.

Apa pun motivasinya, pernikahan beda generasi menuntut pemahaman yang lebih dalam dari pasangan, termasuk risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam kehidupan rumah tangga.