Politik dunia di balik pengembangan kelapa sawit Indonesia dan Malaysia

Perkebunan kelapa sawit di Cigudeg, Bogor, 2008. Achmad Rabin Taim/Flickr

Tren permintaan minyak kelapa sawit, sama seperti lemak nabati dan hewani lainnya, sudah ada sejak abad ke-18. Ini dibuktikan dengan adanya catatan tentang asupan kalori per kapita di Prancis yang mencapai puncaknya sekitar tahun 1900 dan stabil sejak saat itu.

Grafik 1: Total pasokan pangan (kilo kalori per kapita per tahun). J.-M. Roda/FAO/CIRAD/UPM, Author provided

Saat total asupan kalori di Prancis berkurang, proporsi sumber kalori dari karbohidrat menurun sementara yang dari lemak meningkat. Keduanya pernah bertemu pada garis yang sama antara tahun 1980 dan 2000. Dengan kata lain, begitu warga Prancis mendapatkan pangan yang cukup, mereka akan meningkatkan proporsi lemak hingga level maksimal dalam diet mereka.

Banyak pangan di negara lain tidak melimpah seperti di Prancis, namun ketahanan pangan justru meningkat dalam enam dekade terakhir di seluruh dunia, bahkan di negara-negara kurang berkembang (gambar 1). Sejak tahun 1950, Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (FAO) telah mengumpulkan data yang menunjukkan fenomena yang sama: asupan pangan dan lemak per kapita meningkat dan kelaparan menurun.

Meski berbeda pada setiap negara, namun konsumsi lemak meningkat di semua negara ketika kemiskinan menurun dan urbanisasi meningkat (lihat gambar 2).

Grafik 2: Permintaan protein dan lemak meningkat ketika pendapatan dan/atau urbanisasi meningkat (1950 hingga sekarang, di semua negara). J.-M. Roda/FAO/CIRAD/UPM, Author provided

Pada saat yang sama, terjadi tren lain seperti lemak nabati mulai menggantikan posisi lemak hewani. Di negara maju, konsumsi lemak hewani per kapita mencapai puncaknya pada 1980-an dan mulai menurun setelahnya. Sebaliknya, konsumsi lemak nabati meningkat tajam selama periode itu. Sementara tingkat konsumsi minyak nabati Amerika Utara dan Eropa sedang stabil, semua tingkat konsumsi minyak nabati di negara lain masih jauh dari negara-negara maju.

Grafik 3: Konsumsi minyak nabati. J.-M. Roda/CIRAD/UPM, CC BY

Rata-rata, daerah-daerah tersebut lebih banyak mengonsumsi sayuran daripada lemak hewani. Mereka juga memiliki pertumbuhan populasi yang kuat. Ketika iingkat konsumsi minyak nabati negara-negara berkembang sama seperti di Eropa (diperkirakan tahun 2050), maka permintaan global bisa mencapai sekitar 250 hingga 350 juta ton per tahun. Angka tersebut jauh lebih banyak dari saat ini yang hanya mencapai 170 hingga 180 juta ton.

Hal ini mengarah pada beberapa pertanyaan: minyak nabati mana yang akan diproduksi untuk memberi makan dunia, siapa yang akan menjualnya, siapa yang akan mengendalikan produksi mereka, dan di mana akan ada cukup lahan untuk menanamnya?

Keunggulan minyak nabati

Grafik 4: Minyak nabati yang dikonsumsi di seluruh dunia. J.-M. Roda/FAOSTAT

Empat sumber minyak nabati utama menguasai lebih dari 85% konsumsi dunia (grafik 4). Bunga matahari, tanaman rapa, dan kedelai pada awalnya ditanam di negara-negara beriklim sedang. Namun, peningkatan produksi kedelai sekarang terjadi di Brasil berkat pengembangan genetis varietas. Kelapa sawit hanya tumbuh pada kondisi tropis yang lembab, serta dapat menghasilkan 5 hingga 8 kali lebih banyak minyak per hektar daripada tanaman lainnya.

Dengan kata lain, kedelai, bunga matahari, dan rapa membutuhkan 5 hingga 8 kali lebih banyak lahan daripada pohon kelapa sawit untuk menghasilkan satu ton minyak (grafik 6).

Grafik 6: Lahan yang dibutuhkan oleh minyak nabati per hektar dan produktivitas per hektar. J.-M. Roda/CIRAD/UPM, Author provided

Selain produktivitasnya yang luar biasa, pohon kelapa sawit juga membutuhkan lebih sedikit tenaga dan input produksi per unit daripada tanaman minyak lainnya. Oleh karena itu, minyak sawit sejauh ini adalah minyak termurah untuk diproduksi (grafik 7).

Grafik 7: Harga dalam dolar Amerika Serikat per ton untuk minyak utama. J.-M. Roda/CIRAD/UPM, Author provided

Pohon kelapa sawit juga merupakan salah satu tanaman yang paling menguntungkan bagi petani dan menjadi salah satu cerita sukses untuk memerangi kemiskinan pedesaan di negara tropis. Di Afrika yang lembab, kelapa sawit menjadi salah satu perlindungan terakhir bagi untuk mereka yang miskin. Indonesia dan Malaysia memproduksi lebih dari 80% minyak sawit dunia. Di kedua negara ini, pengembangan minyak kelapa sawit telah menjadi sumber mata pencarian jutaan petani kecil.

Minyak-minyak utama ini juga memiliki karakteristik berbeda untuk keperluan industri. Minyak kelapa sawit adalah satu-satunya yang dilakukan dengan proses hidrogenasi (proses penjenuhan dengan menggunakan hidrogen) yang alami dan stabil pada suhu ruang. Sementara, minyak lainnya harus menjalani proses buatan untuk mencapai sifat serupa yang mahal dan menghasilkan lemak trans yang berbahaya. Namun, semua minyak memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri bagi kesehatan manusia, tidak ada yang lebih baik dari yang lain.

Karena keunggulan produktif yang dimiliki minyak kelapa sawit, permintaan pasar meningkat beberapa dekade terakhir dan mengungguli minyak nabati lainnya (grafik 8). Saat ini, minyak kelapa sawit menjadi sumber minyak lemak nabati utama di dunia (grafik 4).

Grafik 8: Pangsa pasar minyak nabati utama. J.-M. Roda/CIRAD/UPM, Author provided

Perampasan tanah atau memberi makan planet ini?

Semua perusahaan agrobisnis sangat menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing minyak dan tren demografis dunia. Mereka bertaruh pada pasar yang sedang tumbuh, apalagi dengan munculnya kelas menengah di negara berkembang. Mereka menargetkan masyarakat di kota-kota di negara-negara berkembang, termasuk Cina, India, Nigeria, Pakistan, Indonesia, Bangladesh, dan Filipina.

Untuk memasok ke pasar global, perusahaan agrobisnis maupun pemerintah berlomba untuk mengamankan tanah dengan akuisisi langsung atau tidak langsung melalui intervensi politik. Mengamankan lahan menjadi semacam strategi untuk menjamin ketahanan pangan.

Perusahaan agrobisnis terbesar, yang dikenal dengan sebutan “ABCDs”, berkantor pusat di negara-negara barat dan memiliki pengaruh besar di seluruh dunia. Misalnya, mereka diduga menguasai 75% hingga 90% dari pasar biji-bijian dunia. Tiga dari perusahaan ABCDs ini memiliki kantor pusat di Amerika Serikat. Mereka memiliki ukuran tanah besar di luar perbatasan, yaitu lebih dari 7 juta hektar.

Perusahaan-perusahaan agrobisnis dari Asia Tenggara yang lebih kecil juga ikut bersaing. Malaysia memiliki tanah besar kedua dengan lebih dari 3 juta hektar.

Ada pembagian kontrol minyak nabati antara perusahaan multinasional. ABCDs, secara langsung atau tidak langsung, mengontrol produksi minyak kedelai, rapa, dan bunga matahari. Sementara, perusahaan multinasional Asia Tenggara yang lebih kecil seperti Wilmar, Olam, Sinar Mas, Sime Darby dan lainnya mengendalikan produksi minyak kelapa sawit.

Akibatnya, ada persaingan global di pasar minyak nabati antara perusahaan agrobisnis di barat yang dominan dengan perusahaan dari Asia Tenggara, yang relatif masih kecil namun semakin progresif merebut pasar.

Kebijakan pertanian Uni Eropa dan rapa

Tanaman utama penghasil minyak di Uni Eropa adalah rapa dan bunga matahari. Rapa dominan di Prancis, Jerman, dan Polandia. Di antara produsen besar biodiesel, Prancis dan Jerman adalah satu-satunya negara yang menggunakan rapa sebagai bahan baku utama. Rapa jauh lebih mahal daripada minyak kelapa sawit dan kedelai, tetapi tanaman tersebut memainkan peran penting dalam politik pertanian kedua negara.

Pada tahun 2003, Prancis dan Jerman menetapkan kebijakan fiskal yang mempromosikan biodiesel. Hal ini meningkatkan konsumsi domestik rapa di Eropa, tetapi juga mendorong impor minyak sawit, yang meningkat sebesar 3,1% untuk setiap kenaikan 1% dalam harga minyak rapa. Meskipun kebijakan impor berakhir, setelah tahun 2008, konsumen industri terus mengimpor minyak sawit. Minyak kelapa sawit telah dan tetap menjadi pesaing yang tangguh untuk minyak rapa Eropa.

Baru-baru ini, Amerika Serikat memulai perang dagangnya dengan Cina yang membebankan tarif pada kedelai Amerika Serikat pada tahun 2018. Pada tahun itu, ekspor kedelai Amerika Serikat ke China turun sebesar 98%. Pada saat yang sama, diplomasi perdagangan Amerika Serikat berhasil meyakinkan Eropa untuk meningkatkan impor kedelai hampir 250%. Sebagian besar kedelai yang diimpor ke Eropa digunakan untuk pakan ternak dan menghasilkan minyak sebagai produk sampingan, yaitu digunakan sebagai biodiesel. Volume tambahan minyak murah untuk biodiesel ini merupakan saingan lain untuk rapa Eropa.

Pada awal 2019, Uni Eropa mengajukan peraturan yang akan mengurangi sumber minyak nabati yang menyebabkan risiko perubahan penggunaan lahan secara tak langsung dan deforestasi atau proses penghilangan hutan alam. Teknis peraturan masih diperdebatkan oleh para ahli, namun pelaksanaannya berujung kepada larangan minyak sawit. Hal ini membuat marah para produsen utama minyak kelapa sawit, Indonesia dan Malaysia.

Pertanian campuran kelapa sawit dan padi di Sumatra (2019) J.-M. Roda, Author provided

Minyak kelapa sawit dan deforestasi

Perkebunan kelapa sawit memiliki reputasi sebagai faktor utama deforestasi. Namun, terlepas dari persepsi yang tersebar luas, perkebunan kelapa sawit hanya bertanggung jawab atas 3% deforestasi global. Di Indonesia dan Malaysia, deforestasi memuncak beberapa dekade yang lalu, dan sudah menurun sebelum permintaan minyak sawit mulai meningkat. Perkebunan kelapa sawit sebagian besar menggantikan penggunaan pertanian lainnya. Contohnya di Malaysia, fase deforestasi terjadi saat pengembangan perkebunan karet yang terjadi sebelum tahun 1980-an. Hampir semua perkebunan karet kemudian digantikan oleh perkebunan kelapa sawit (grafik 10).

Beberapa perkebunan kelapa sawit didirikan di tanah yang sebelumnya berhutan. Namun, deforestasi yang benar-benar disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit sudah memuncak pada 1990-an dan telah menurun secara konsisten sesudahnya. Saat ini, hampir tidak ada deforestasi di Malaysia (angkanya di bawah 1%). Untuk Indonesia, puncaknya terjadi antara tahun 2000 dan 2008 dan sekarang telah menurun hingga 5% (grafik 11).

Grafik 10: Deforestasi Malaysia oleh kelapa sawit. J.-M. Roda/CIRAD/UPM, CC BY
Grafik 11: Deforestasi Indonesia oleh kelapa sawit. Ph. Guizol/CIRAD, CC BY

Kita tahu bahwa permintaan akan minyak nabati mencapai sekitar 250 hingga 350 juta ton di masa depan. Pengembangan kedelai di Brasil dan perkebunan kelapa sawit di tempat lain akan terus berlanjut karena permintaan utama bukan datang dari negara-negara yang menentang pengembangan sumber-sumber minyak nabati tersebut. Tanpa kelapa sawit, permintaan akan minyak nabati di masa depan akan membutuhkan luas lahan pertanian yang hampir sebesar benua Australia.

Demi kepentingan kita semua, kita seharusnya mencegah deforestasi di masa depan, bukan melarang minyak kelapa sawit. Sangat penting untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit, guna memungkinkan angka produksi minyak kelapa sawit yang stabil meski dalam dalam area yang sama. Tantangan sebenarnya adalah membangun lanskap pertanian dan hutan demi mendorong masyarakat lokal untuk menjaga hutan mereka alih-alih mengubahnya menjadi lahan pertanian.


Artikel ini dikembangkan dari sebuah ceramah penulis dalam bidang geopolitik kehutanan, agrobisnis, minyak kelapa sawit, dan ketahanan pangan yang diberikan sebagai bagian dari studi kasus internasional “Malaysia, Singapura: Apa pilihan pembangunan?” siklus nasional 2018-2019 dari Institute of Advanced Studies untuk Sains dan Teknologi (IHEST) .

Amira Swastika menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English