shutterstock.com

Riset yang mendapatkan dana dari industri mengaburkan kebenaran. Ini penjelasan ahli

Artikel ini merupakan bagian dari serial kebebasan akademisi di mana para akademisi terkemuka dari seluruh bagian dunia dapat menulis tentang kondisi kebebasan berpendapat di daerah mereka masing-masing.


Selama lebih dari dua dekade, terjadi peningkatan jumlah pendanaan industri untuk penelitian medis secara global, sementara dana dari pemerintah dan lembaga nirlaba justru menurun. Pada tahun 2011, pendanaan riset dari dunia industri sudah mencakup dua pertiga dari seluruh penelitian medis di seluruh dunia, dibandingkan dengan sumber publik.

Pendanaan penelitian dari sektor industri lain juga meningkat, termasuk dari industri makanan dan minuman, kimia, pertambangan, komputer, dan perusahaan telpon genggam. Hal ini berujung kepada terancamnya kebebasan para akademisi.

Sponsor berasal industri akan menekan hasil riset

Seorang akademisi muda baru-baru ini meminta saran kepada saya mengenai penelitiannya yang didanai oleh industri.

Berdasarkan kontrak – yang ditandatangani oleh pembimbingnya – ia tidak dapat mempublikasikan hasil uji klinis dari penelitiannya.

Seorang peneliti lain lagi, mahasiswa program doktoral, meminta bantuan untuk disertasi yang sedang dilakukannya. Penelitian yang ia lakukan ternyata berada di bawah perjanjian pendanaan yang dilakukan oleh pembimbing disertasi dengan sebuah perusahaan.

Perjanjian tersebut mencegah publikasi setiap penelitian yang dianggap commercial-in-confidence (dianggap akan merugikan secara komersial) bagi penyandang dana. Artinya, mahasiswa tersebut tidak diperbolehkan untuk memasukkan makalah yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan disertasi.


Read more: Influential doctors aren't disclosing their drug company ties


Saya sering mendapati cerita yang serupa dan mereka memiliki kesamaan, yaitu publikasi yang diblokir karena menempatkan produk-produk perusahaan pada posisi yang tidak menguntungkan.

Walau hak untuk publikasi riset adalah kebebasan akademis, tapi kontrak penelitian sering menyertakan pasal-pasal yang menyerahkan keputusan final untuk publikasi berada di tangan para sponsor.

Para peneliti muda rentan akan pembatasan publikasi semacam ini, yaitu penelitian yang didanai oleh perusahaan.

Publikasi terhadap penelitian sangat penting bagi karier mereka, namun pembimbing dapat mengontrol hubungan tersebut dengan industri.

Sebuah penelitian menemukan bahwa obat generik memiliki kualitas yang sama dengan obat bermerek, yang menyebabkan perusahaan obat berusaha keras untuk menekan temuan tersebut. dari shutterstock.com

Tidak hanya peneliti muda, peneliti senior juga rentan terhadap industri yang menekan penelitian mereka.

Pada tahun 1980-an, sebuah perusahaan farmasi mendanai peneliti untuk membandingkan obat tiroid dari perusahaan tersebut dengan obat generik. Hasilnya, ia menemukan bahwa obat generik memiliki kualitas sama baiknya dengan obat farmasi.

Sponsor penelitian tersebut berusaha keras untuk menghentikan publikasi dari penelitian tersebut, termasuk mengambil tindakan hukum terhadap peneliti dan universitas.

Selanjutnya, ada juga faktor pengawasan yang lemah dari institusi.

Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa hanya sepertiga dari 127 institusi akademis di AS yang mewajibkan fakultas mereka untuk menyerahkan perjanjian konsultasi penelitian untuk ditinjau oleh institusi.

Sebanyak 35% institusi akademis berpikir tidak perlu meninjau ulang perjanjian tersebut. Ketika meninjau perjanjian, hanya 23% institusi akademis yang melihat pada hak-hak publikasi. Dan, hanya 19% yang melihat persyaratan soal kerahasiaan yang tidak sepatutnya, seperti melarang segala komunikasi tentang penelitian tersebut.

Industri mempromosikan fakta yang dimanipulasi

Definisi kebebasan akademik bermuara pada kebebasan penyelidikan, investigasi, penelitian, ekspresi dan publikasi (atau diseminasi).


Read more: Freedom of speech: a history from the forbidden fruit to Facebook


Dokumen internal dari industri yang diperoleh melalui litigasi memperlihatkan banyaknyanya sponsor dari sektor dari industri yang memengaruhi rencana dan pelaksanaan penelitian, serta publikasi penelitian yang parsial, hanya temuan yang menguntungkan bagi mereka yang dipublikasikan.

Sebagai contoh, sebuah studi di Jepang di tahun 1981 menunjukkan relasi antara perokok pasif dan kanker paru-paru.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa istri dari perokok berat memiliki risiko dua kali lipat terkena kanker paru-paru daripada istri non-perokok. Risiko juga berkaitan dengan dosis.

Hal ini membuat perusahaan tembakau mendanai penelitian yang menyangkal temuan tersebut.

Perusahaan tembakau terlibat langsung dalam setiap tahapan penelitian tersebut, namun berhasil menyembunyikan keterlibatan mereka selama puluhan tahun.

Mereka membingkai pertanyaan penelitian, merancang penelitian, mengumpulkan dan menyediakan data, dan menulis publikasi akhir.

Perusahaan tembakau membuat studi mereka sendiri untuk menyangkal temuan tentang bahaya perokok pasif. dari shutterstock.com

Publikasi akhir dari perusahaan inilah yang digunakan sebagai “bukti” bahwa merokok tembakau tidaklah berbahaya. Kesimpulan yang diambil adalah tidak ada bukti langsung yang membuktikan bahwa paparan perokok pasif meningkatkan risiko kanker paru-paru.

Industri tembakau berbondong-bondong mengutip peneltian tersebut di pemerintahan dan dokumen regulasi untuk membantah data independent yang menunjukan bahaya dari perokok pasif.

Sponsor dari industri memengaruhi agenda penelitian

Ancaman terbesar bagi kebebasan akademis adalah pengaruh yang dimiliki oleh sponsor dari industri pada tahap pertama proses penelitian, yaitu menetapkan agenda penelitian.

Artinya, industri memiliki kontrol atas pertanyaan terhadap studi yang akan dilakukan.

Baru-baru ini, kami menelaah kembali studi penelitian yang melihat pengaruh korporasi pada agenda penelitian.

Kami menemukan pendanaan dari industri mendorong para peneliti untuk meneliti hal-hal yang bisa memaksimalkan manfaat dan meminimalkan bahaya pada produk mereka, mengalihkan perhatian dari penelitian independen yang tidak menguntungkan, menurunkan regulasi atas produk mereka, dan mendukung posisi hukum dan kebijakan mereka.

Industri gula mendanai peneliti universitas untuk menemukan bukti yang menyalahkan penyebab penyakit jantung dari gula menjadi lemak. dari shutterstock.com

Contoh lain yang berhubungan dengan tembakau, tiga perusahaan tembakau mendirikan dan mendanai Pusat Penelitian Udara Dalam Ruangan yang akan melakukan penelitian untuk “mengalihkan perhatian” dari bukti-bukti bahaya bagi perokok pasif.

Sepanjang tahun 1990-an, pusat ini mendanai puluhan proyek penelitian yang mengatakan bahwa benda-benda, seperti karpet yang mengeluarkan volatile organic compound (VOC) atau gas ke udara (off gas) atau filter udara kotor, lebih berbahaya daripada tembakau.

Industri gula juga berusaha mengalihkan fokus dari bukti yang menunjukkan relasi antara gula dengan penyakit jantung.

Baru-baru ini terungkap bahwa pada tahun 1960-an, industri gula membayar para ilmuwan dari Universitas Harvard untuk meminimalkan hubungan antara gula dan penyakit jantung dan mengalihkan kesalahan ke lemak sebagai penyebab penyakit jantung.


Read more: Essays on health: how food companies can sneak bias into scientific research


Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa rekomendasi diet saat ini sebagian besar dibentuk oleh industri gula. Dan, beberapa ahli telah mempertanyakan apakah informasi yang keliru tersebut dapat menyebabkan krisis obesitas saat ini.

Produk seperti Coca-Cola dan Mars juga mendanai penelitian universitas terkait aktivitas fisik untuk mengalihkan perhatian adanya relasi produk mereka dengan obesitas.

Bagaimana melindungi kebebasan akademik?

Hubungan antara akademisi dan industri kini terus didorong dan pendanaan akan riset terus tumbuh, namun para akademisi harus berhati-hati terhadap ancaman kebebasan akademis yang dilakukan oleh dukungan industri.

Kebebasan akademis berarti pendanaan dari industri haruslah tanpa syarat. Peneliti sendiri yang bisa mempertimbangkan apakah dana dari industri berkontribusi bagi penemuan baru atau hanya mengakomodir agenda dari industri untuk meningkatkan keuntungan mereka semata.

Pemerintah atau konsorsium independen dari banyak penyandang dana, termasuk pemerintah dan industri, harus memastikan dukungan untuk penelitian bagi kebutuhan publik.

Ketika penelitian dibiayai oleh industri, maka pemberi dana tidak boleh ikut campur dalam menetapkan kerangka, kinerja penelitian, atau publikasi.

Banyak universitas telah memiliki dan menjalankan kebijakan yang mencegah hal tersebut, namun tidak berlaku universal. Ilmu pengetahuan yang terbuka, termasuk protokol publikasi dan data, dapat mengekspos campur tangan industri dalam penelitian.

Lebih lanjut, para peneliti tidak boleh menandatangani, atau membiarkan lembaga mereka menandatangani, perjanjian yang memberikan kekuatan pemberi dana untuk mencegah penyebaran temuan-temuan penelitian mereka.

Universitas dan jurnal ilmiah harus melindungi para peneliti baru dan mendukung semua akademisi dalam mencegah pengaruh industri dan menjaga kebebasan akademik.


Artikel pertama dari serial kebebasan akademis dapat dibaca di sini

This article was originally published in English