Sains Sekitar Kita: Kisah Djoko Iskandar, pionir peneliti katak dari ITB, tak mengekor ke Barat

Djoko Tjahjono Iskandar, peneliti kodok dari Institut Teknologi Bandung. ITB

Sains Sekitar Kita: Kisah Djoko Iskandar, pionir peneliti katak dari ITB, tak mengekor ke Barat

Sains Sekitar Kita: Kisah Djoko Iskandar, pionir peneliti katak dari ITB, tak mengekor ke Barat.

Sekitar 30 tahun lalu, Djoko Tjahjono Iskandar kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi doktor di Université Montpellier 2 Prancis. Awalnya dosen Institut Teknologi Bandung itu akan meneliti tikus, tapi rupanya untuk peralatan untuk riset tikus terlalu mahal untuk ukuran Indonesia. Maka dia ganti objek penelitian ke kodok.

Iskandar ingat betul waktu itu hanya ada tiga makalah tentang kodok yang ditulis orang Indonesia pasca Perang Dunia Kedua. Sangat timpang dengan penelitian dari luar negeri yang seabrek-abrek. Tapi itu justru bikin semangat dia berlipat-lipat. Justru karena tidak banyak orang meneliti kodok, dia makin tertarik mendalami riset katak.

Dia kemudian masuk keluar hutan di Kalimatan untuk mencari sampel kodok. Salah satu temuan yang penting adalah katak kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis), jenis katak langka yang tidak punya paru-paru. Temuan itulah yang membuat namanya mulai dikenal sebagai ahli katak di dunia.

Sampai hari ini, sudah sekitar 200-an spesies kodok baru yang ditemukan oleh Iskandar. Misalnya, kodok terkecil di dunia dan kodok yang bisa melahirkan kecebong. Ada enam jenis reptil dan amphibi temuan baru yang diberi nama sama seperti Djoko Iskandar: katak Polypedates iskandari, katak Fejervarya iskandari, ular Djokoiskandarus annulatus, kadal Draco iskandari, tokek Luperosaurus iskandari, dan Collocasiomya iskandari.

Hampir semua hutan di Indonesia sudah dia masuki. Lokasi favoritnya adalah hutan di Kalimantan dan Papua yang relatif bagus meski terancam deforestasi. Di belantara, dia harus bertahan hidup sebulan sampai tiga bulan untuk mencari kodok jenis baru.

Selama puluhan tahun Profesor Iskandar menghabiskan waktunya untuk meneliti kodok, yang mayoritas menggunakan uang pribadi. Guru Besar ITB ini mengkritik iklim penelitian Indonesia yang terlalu mengekor pada penelitian negara Barat. Misalnya, kini hampir semua arah penelitian biodiversitas diarahkan pada riset DNA, bidang yang dikuasai oleh para peneliti Barat dan harga alatnya miliaran rupiah dan bahan kimianya ratusan juta. Alat ini sulit dijangkau oleh peneliti Indonesia.

Di satu sisi, Indonesia adalah gudangnya keanekaragaman hidup, yang datanya masih kosong. Seharusnya, kata dia, peneliti Indonesia fokus pada kekuatan sumber keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia dan belum banyak dieksplorasi.

Edisi ke-41 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ihsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!