“Selera politik” pemilih muda Indonesia—partai lama, capres sipil

Anak muda berjalan melewati billboard di salah satu mall di Jakarta. Reuters/Beawiharta

Dalam Pemilu 2014, pemilih muda di Indonesia—mereka yang memiliki hak pilih dan berusia 17-25 tahun—mencapai hampir 30% dari total pemilih. Jumlah mereka yang sangat signifikan ini menjadikan kaum muda Indonesia sebagai salah satu faktor penentu kalah-menang partai-partai yang akan beradu di pemilu tahun depan.

Namun, preferensi politik pemilih muda masih kurang terpetakan dengan baik. Sebuah kajian pada tahun 2014 memperkirakan generasi muda Indonesia cenderung apatis terhadap perkembangan politik dan tidak se-nasionalistik generasi lain di Tanah Air. Lebih dari 53% mereka yang berpartisipasi dalam survei pra-Pemilu 2014 itu mengaku akan memilih langkah golput.

Pemilih muda Indonesia adalah golongan yang memiliki singgungan dengan politik lewat cara yang agak berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi baru ini memiliki sedikit memori kolektif tentang Orde Lama dan Orde Baru. Mereka biasa mengakses internet untuk mencari informasi dan haus akan gelombang perubahan.

Sebagai peneliti ilmu politik dengan minat pada politik pemilu saya berusaha mencari tahu seperti apa sebetulnya “selera politik” anak muda Indonesia melalui survei online yang saya lakukan pada bulan Oktober-Desember 2017.

Saya menemukan kebanyakan pemilih muda penganut kesetaraan gender—mereka tidak merasa pemimpin laki-laki lebih baik dari perempuan. Mereka juga tidak ideologis, dan sangat independen dalam menentukan pilihan politik mereka. Mereka tidak mau dipengaruhi keluarga maupun teman.

Pemilih muda lebih memilih partai-partai yang sudah lama berdiri ketimbang partai baru. Mereka juga lebih senang pemimpin dari kalangan sipil ketimbang militer.

Preferensi partai politik

Sebanyak 235 orang responden berpartisipasi dalam riset yang dibantu penyebarluasannya lewat kontak para mahasiswa dan dosen di berbagai universitas di Indonesia.

PDI-Perjuangan keluar sebagai peringkat pertama partai preferensi pemilih muda. Terhadap pertanyaan “Bila esok adalah hari Pemilu, saya akan memilih partai politik apa?”, 33,33% responden menjawab PDI-Perjuangan, partai yang mendominasi peraihan suara di Pemilu 2014.

Partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri itu keluar sebagai jawara pada 1999 dengan meraup 33,74% suara sah dan tahun 2014 sebanyak 18,95 persen.

Partai lain yang diminati oleh pemilih muda adalah Gerindra (15,81%) dan Demokrat (12,39%). Temuan lain yang menarik adalah 13,25% responden memilih untuk abstain. Artinya, sebagian pemilih muda masih berpotensi menjadi “massa mengambang” di Pemilu 2019.

Apa saja faktor yang menjadi pertimbangan pemilih muda dalam memilih partai? Survei menunjukkan beberapa temuan menarik. Sebanyak 61,1% responden riset mengaku memilih partai politik berdasarkan sosok ketua umumnya. Meski demikian, tercatat 13,2% memilih menjawab sangat tidak setuju bila pilihan terhadap partai ditentukan oleh figur pemimpinnya.

Sebanyak 77% responden menyatakan dukungan terhadap partai yang memiliki rekam jejak baik. Namun temuan ini tidak dapat menjelaskan lebih rinci rekam jejak yang seperti apa yang dianggap baik dan menarik minat pemilih muda.

Unsur ideologi partai politik ternyata tidak terlalu mendominasi pertimbangan pemilih muda Indonesia. Hal ini terlihat dari jumlah responden yang setuju dan tidak setuju dengan pernyataan “Saya memilih partai politik berdasarkan ideologi tertentu, misalnya partai Islam atau partai nasionalis” terbagi 50-50.

Temuan ini sedikit banyak menopang kajian Tom Pepinsky (2014) yang menengarai partai Islam di Indonesia tidak bisa mendulang suara mayoritas pemilih, tidak seperti partai-partai Islam di Tunisia dan Mesir. Pemilih muda tidak memandang ideologi Islam atau nasionalis sebagai faktor pembeda yang sangat tegas di antara partai-partai yang berlaga di Pemilu.

Terkait dengan persepsi pemilih muda terhadap kepemimpinan perempuan di dunia politik, riset mendapati 59% responden tidak setuju dengan pernyataan “Laki-laki lebih mumpuni daripada perempuan untuk menjabat sebagai ketua partai politik”. Sebanyak 31% responden bahkan menjawab sangat tidak setuju atas pernyataan tersebut.

Tingkat penerimaan terhadap kesetaraan gender dalam hal kepemimpinan di dunia politik ini berkebalikan dari survei World Value Survey pada tahun 1999 dan 2005, di mana sebanyak 58% dan 59% responden setuju dengan pernyataan “Laki-laki adalah pemimpin politik yang lebih baik daripada perempuan”. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemilih muda tidak selalu melihat pria sebagai politikus yang lebih hebat daripada perempuan.

Pemilih muda Indonesia yang terlibat dalam survei mayoritas meminati partai yang sudah lebih lama berdiri daripada partai yang relatif baru didirikan. Partai-partai baru hanya didukung oleh 31% responden, dan ini menunjukkan bahwa kharisma partai yang sudah lebih berpengalaman masih sangat kuat di benak pemilih.

Bila partai baru ingin berjaya di Pemilu 2019, mereka harus berusaha lebih keras untuk menggarap kelompok pemilih muda karena survei ini mengindikasikan dukungan terbesar tetap diarahkan kepada partai yang mengantungi “jam terbang” yang lebih banyak.

Calon presiden

Dalam riset ini, mayoritas responden (58,3%) mengaku mendukung calon presiden (capres) yang dinominasikan oleh partai yang dipilih untuk pemilu legislatif.

Pemilih muda Indonesia masih melihat faktor partai politik sebagai salah satu yang berpengaruh dalam menentukan pemilu presiden. Hal ini mengindikasikan bahwa partai dan capres masih sangat mempengaruhi, dan penting untuk diselami lebih lanjut apakah preferensi ini mencair bila capres diajukan oleh koalisi partai politik.

Pemilih muda Indonesia yang disurvei juga menunjukkan preferensi yang lebih kuat terhadap capres dengan latar belakang sipil, bukan militer. Sebanyak 57,5% responden mengaku tidak setuju atau sangat tidak setuju dengan pernyataan “Presiden sebaiknya memiliki latar belakang militer”.

Temuan ini tidak terlalu mengejutkan karena pemilih muda memang cenderung melihat capres yang kuat bukan hanya mereka yang pernah berkarier di sektor militer. Capres sipil justru memiliki peluang yang lebih besar untuk menang di alam demokrasi Indonesia saat ini, berkaca dari kesuksesan Joko Widodo di 2014 saat mengalahkan pesaingnya yang memiliki pengalaman di militer, Prabowo Subianto.

Lingkar pengaruh

Dalam hal “selera” memilih partai politik, calon legislatif (caleg), atau calon presiden, kebanyakan pemilih muda Indonesia yang terlibat dalam survei ini mengaku keputusan mereka tidak dipengaruhi oleh orang tua dan saudara kandung serumah.

Nyaris 70% responden memilih tidak setuju atau sangat tidak setuju terhadap pernyataan “Saya memilih caleg dan capres yang sama dengan pilihan keluarga”.

Mereka yang memilih sangat tidak setuju mencapai 35%, sementara mereka yang mengaku sangat setuju adalah 3,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa generasi muda cenderung mandiri dalam memilih, tidak ingin mengikuti preferensi lingkar pengaruh terdekat.

Grafik serupa namun lebih tajam lagi tingkat kontrasnya terjadi di pernyataan yang menguji dampak pengaruh pertemanan terhadap keputusan memilih caleg atau capres di pemilu. Mereka yang sangat tidak setuju terhadap kalimat “Pilihan saya terhadap caleg dan capres dipengaruhi oleh teman” menembus 41%, sementara yang memilih sangat setuju hanyalah 1,7%. Dengan kata lain, pemilih muda cenderung sangat independen ketika memilih anggota legislatif dan presiden, tidak terlalu meniru teman sepergaulan.

Survei eksperimental terhadap pemilih muda di Indonesia ini menunjukkan beberapa temuan yang penting untuk dijadikan acuan strategi partai yang ingin menggarap serius kelompok yang merupakan 30% konstituen nasional.