File 20170821 27181 uvzhty.jpg?ixlib=rb 1.1

Semangat membaca di pelosok menantang anggapan minat baca rendah

Anak-anak di Pantai Palipis, Mandar, Sulawesi Barat, membaca buku yang dibawa perahu pustaka Pattingalloang, yang termasuk dalam jaringan Pustaka Bergerak. Urwa/Pustaka Bergerak, CC BY-NC-SA

Semangat membaca di pelosok menantang anggapan minat baca rendah

Artikel ini adalah yang pertama dalam seri tulisan memperingati Hari Aksara Internasional yang jatuh pada tanggal 8 September.


Siang yang cerah di sebuah sekolah dasar negeri di pinggiran Yogyakarta. Siswa berbaris rapi untuk mengembalikan buku yang dipinjamkan oleh Helobook, komunitas nirlaba yang rutin menyediakan bacaan gratis ke sekolah-sekolah dan pesantren di pinggiran Yogyakarta.

Anak-anak itu tampak ceria dan banyak bercanda. Pantas saja mereka senang karena kehadiran Helobook memberi peluang mereka mengakses buku-buku baru dan menarik, juga film-film bermutu. Pasalnya, koleksi perpustakaan mereka masih jauh dari memadai.

Sebagian besar buku yang tersedia adalah buku bantuan pemerintah terbitan Balai Pustaka di tahun 1990-an. Jarak sekolah dengan toko buku juga relatif jauh, sekitar 15 kilometer. Begitu pula jarak ke perpustakaan umum terbesar, Grahatama Pustaka, sekitar 20 kilometer. Jarak tempuh dan harga buku tentu jadi soal, mengingat mereka berasal dari keluarga menengah ke bawah.

Anggapan minat baca rendah

Media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, dan kantor berita Antara, memaparkan data yang diklaim berasal dari UNESCO (data tersebut tidak ditemukan di basis data UNESCO dan permintaan data ke kantor Unesco di Jakarta tidak dijawab) mengenai minat baca orang Indonesia yang rendah. Disebutkan angka 0,001, yang diartikan hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia memiliki minat baca tinggi. Pejabat dan tokoh juga kerap menyatakan keprihatinan yang sama, bahwa warga Indonesia rendah minat bacanya.

Siswa SDN 02 Ngijon di Sleman, Yogyakarta, melihat-lihat buku yang dibawa komunitas literasi Helobook. Lukman Solihin, Author provided

Tahun lalu Central Connecticut State University juga mendudukkan tingkat literasi masyarakat Indonesia di posisi 60 dari 61 negara yang disurvei, hanya setingkat di atas Botswana. Meski ranking ini bukan perkara minat baca—tetapi antara lain masalah akses komputer, sirkulasi surat kabar, dan tingkat pemahaman literasi—survei ini juga kerap dipakai pejabat dan tokoh untuk menyatakan keprihatinan atas rendahnya minat baca.


Baca juga: Delapan buku fiksi wajib baca sebelum usia 30


Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) sampai 2015 juga menunjukkan kecenderungan meningkatnya penonton televisi hingga mencapai 91,5% sementara pembaca surat kabar hanya 13,1% pada 2015, atau terendah sepanjang tercatat oleh BPS sejak 1984.

Antusiasme siswa di awal tulisan ini tampak kontras dengan persepsi banyak orang tentang minat baca orang Indonesia. Pertanyaannya, apakah minat baca masyarakat kita memang rendah atau hal itu berkaitan dengan sulitnya akses terhadap buku yang menarik?

Akses buku dan kondisi perpustakaan

Mari tengok data yang dapat menjadi parameter untuk memahami persoalan di seputar minat baca ini. Pertama, data jumlah perpustakaan sekolah. Kita ambil data di tingkat sekolah dasar (negeri maupun swasta), dari 147.503 sekolah baru ada sekitar 90.642 perpustakaan, persentasenya mencapai 61,45%. Namun angka ini masih menyusut lagi, karena dari jumlah itu, kondisi perpustakaan yang bebas dari rusak ringan-total hanya 28.137, atau tersisa 19% dibandingkan angka jumlah sekolah atau 31% dibandingkan angka perpustakaan SD. Kondisi serupa juga dialami di tingkat SMP dan SMA.

Kedua, jumlah perpustakaan desa juga tidak lebih baik. Dari 77.095 desa/kelurahan yang ada, baru terdapat 23.281 perpustakaan atau sekitar 30%.

Ketiga, jumlah toko buku belum sebanding dengan luasnya wilayah Indonesia. Jaringan toko buku terbesar, Gramedia, hanya membuka sekitar 100 toko yang tersebar di kota-kota besar dari 514 kabupaten/kota.

Minimnya jumlah toko buku, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan umum memperlihatkan sulitnya akses masyarakat terhadap buku. Jika untuk mengakses buku saja sulit, bagaimana akan terbentuk minat baca? Lantas, bagaimana masyarakat dapat mengakses buku?

Komunitas literasi

Upaya menumbuhkan minat baca pertama-tama harus dibangun melalui ketersediaan bacaan. Sayangnya, seperti disebutkan di atas, jumlah dan kondisi perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum masih jauh dari memadai. Bahkan tak jarang bangunan perpustakaan sekolah yang tampak baik, belum tentu memiliki koleksi yang layak.

Banyak perpustakaan sekolah yang baru dibersihkan dan ditata ulang ketika akan ada lomba. Tak jarang, penataan asal jadi itu masih menyisakan bekas sebagai gudang atau tempat olahraga. Salah satu perpustakaan sekolah di Sleman, misalnya, memiliki gedung baru, namun koleksi bukunya berasal dari era Orde Baru, lengkap dengan lapangan tenis meja yang mengindikasikan perannya yang tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

Padahal pemerintah menetapkan anggaran minimum—ditingkatkan menjadi 20% di bulan Juli dari sebelumnya 5% dari dana biaya operasional sekolah (BOS)—untuk pengembangan perpustakaan, terutama membeli buku pelajaran. Sayangnya, dana terkadang habis untuk membeli buku teks pelajaran saja. Alhasil, minat baca siswa terhambat oleh minimnya koleksi buku, karena siswa merasa bosan dengan buku yang itu-itu saja.

Mengingat jumlah dan kondisi perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum yang jauh dari memadai, maka keberadaan komunitas literasi memegang peran penting. Komunitas-komunitas literasi ini mendirikan taman bacaan dan belakangan ada jaringan Pustaka Bergerak. Gerakan taman bacaan dan Pustaka Bergerak ini masif dan sporadis, menjangkau sampai ke pelosok dan pedalaman.

Diperkirakan lebih dari 6.000 taman bacaan tersebar di seluruh Indonesia. Sementara jaringan Pustaka Bergerak mencatat 312 komunitas di seluruh Indonesia pada Agustus 2017, dan daftarnya terus bertambah. Komunitas ini terdiri dari kuda pustaka, becak pustaka, perahu pustaka, sampai tukang jamu keliling pun membawa buku untuk dipinjamkan secara gratis.

Kuda pustaka di Rangkasbitung, Banten, dikerubuti penduduk desa, terutama anak-anak. Semangat kerelawanan komunitas literasi mendorong minat baca hingga ke pelosok. Mohammad Hashemi Rafsanjani/Pustaka Bergerak, CC BY-NC-SA

Gerakan ini rupanya mendapat respons positif dari pemerintah. Setelah pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan para pegiat literasi pada 2 Mei 2017 lalu, pemerintah menggratiskan pengiriman buku kepada seluruh komunitas literasi melalui PT Pos Indonesia setiap tanggal 17. Para donatur buku dapat memangkas ongkos kirim buku yang jumlahnya bisa melampaui nilai buku yang dikirimkan.

Semangat melampaui keterbatasan skala

Komunitas literasi umumnya tumbuh dan berkembang karena kecintaan pengelolanya terhadap buku dan keinginan untuk berbagi. Sifat kerelawanan dan belarasa merupakan ciri khas dari gerakan ini, sehingga kemunculan dan perkembangannya tidak banyak dipengaruhi oleh ada tidaknya dukungan dana dari pemerintah.

Semangat, idealisme, dan kemampuan membangun jaringan merupakan kunci tumbuh dan berkembangnya komunitas literasi. Jejaring itu kini dipermudah dengan adanya Forum Taman Bacaan Masyarakat yang diinisiasi oleh pemerintah. Pustaka Bergerak juga kian bersemangat melalui jaringan mereka di media sosial melalui inisiasi Nirwan Ahmad Arsuka.

Anak-anak menyambut buku-buku yang dibawa kuda pustaka di Manokwari, Papua Barat. Ali Sunarko/Pustaka Bergerak, CC BY-NC-SA

Jumlah komunitas literasi mungkin “tidak seberapa” mengingat luasnya wilayah dan besarnya jumlah penduduk Indonesia. Namun, gerakan ini patut diapresiasi karena dampak yang ditimbulkannya: mengenalkan minat baca.

Simak misalnya bagaimana anak pemulung akhirnya tuntas menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi, tukang gorengan yang bertransformasi menjadi wartawan, serta anak petani yang menjelma menjadi penyair setelah bersentuhan dengan buku di Pustakaloka Rumah Dunia di Serang, Banten. Cerita ini dibukukan menjadi Relawan Dunia.

Perjumpaan dengan buku juga mengubah hidup Muhidin M. Dahlan, anak kampung di pedalaman Sulawesi yang penasaran dengan buku dan akhirnya hijrah ke Yogyakarta untuk menjadi penulis dan pegiat di Indonesia Boekoe, komunitas yang dikenal karena ketekunannya mengelola arsip, menerbitkan buku, dan menginisiasi lahirnya Radio Buku. Kisahnya dibukukan dalam Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta.

Berbeda dengan lembaga pendidikan formal seperti sekolah, keberhasilan komunitas literasi tidak diukur secara kuantitatif, misalnya dari berapa banyak jumlah masyarakat yang terbantu aksesnya, seberapa besar koleksinya. Kekurangan dari segi skala dibayar oleh semangatnya, yaitu upaya menyebarkan gagasan pentingnya buku dan mendesaknya berbagi akses buku. Literasi, dengan begitu, bukan hanya soal bacaan dan ilmu pengetahuan, melainkan juga soal semangat kerelawanan.


Penulis sedang melakukan penelitian tentang gerakan literasi oleh komunitas di Yogyakarta di Departemen Antropologi Universitas Gadjah Mada.

We produce knowledge-based, ethical journalism. Please donate and help us thrive. Tax deductible.