Penyakit difteri bisa menyerang semua umur. Vaksin tidak membunuh bakteri. Tobias Arhelger/Shutterstock

Setelah mewabah, mungkinkah penyakit difteri menular di ajang Asian Games 2018?

Asian Games 2108 yang berlangsung pada 18 Agustus sampai 2 September tidak hanya menjadi pertandingan empat puluh cabang olahraga, tapi juga dapat berpotensi menjadi ajang penularan penyakit antara sesama atlet yang bertanding. Pasca wabah difteri di Indonesia akhir tahun lalu, bukan tidak mungkin dapat terjadi penularan penyakit difteri antara atlet, pelatih, tim pendukung atlet, penonton, dan wisatawan.

Walau pada Januari 2018 kasus difteri dinyatakan sudah mereda, tapi sampai Juli lalu kasus difteri dalam skala kecil masih dapat ditemukan, salah satunya di DKI Jakarta. Di daerah seperti Jawa Barat dan Banten, sampai Juli lalu, mungkin masih dapat ditemukan kasus difteri dalam skala kecil. Sayangnya data dari dua daerah ini tidak tersedia.

Ancaman difteri

Menjelang akhir 2017, wabah difteri yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia menjadi sorotan internasional sehingga menjadi perhatian serius pemerintah untuk mengatasinya.

Pemerintah serius karena Indonesia bakal menjadi tuan rumah ajang olahraga Asian Games 2018 yang dihadiri oleh 16 ribu orang (11 ribu di antaranya atlet, selebihnya pelatih dan anggota tim pendukung atlet) dari berbagai negara Asia. Jumlah ini belum termasuk jurnalis, panitia, dan penonton baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, yang akan menyaksikan secara langsung pertandingan se-Asia empat tahun sekali yang dimulai akhir pekan ini.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah dan mengeliminasi penularan penyakit difteri ke warga negara lain menjelang Asian Games 2018. Salah satunya melalui outbreak response immunization(ORI), yakni upaya penanggulangan kejadian luar biasa dengan cara imunisasi secara massal. Target prioritas ORI meliputi Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta karena di tiga daerah tersebut kasus difterinya banyak, kepadatan penduduk tinggi, dan mobilitas penduduk juga tinggi.

Sementara di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan, yang menjadi tempat pelaksanaan Asian Games selain di Jakarta, penderita penyakit difteri belum ditemukan sehingga tidak diimunisasi massal. ORI dilakukan di Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) karena di dua kabupaten tersebut sudah ada dugaan kasus difteri.

Target sasaran ORI adalah 75% anak–anak sekolah. Bila target ORI tercapai 90-95%, maka kasus kejadian difteri diharapkan berkurang dan mereda menjelang Asian Games.

Pertanyaanya, benarkah demikian? Saat ini angka kejadian kasus difteri sudah berkurang, tapi benarkah penularan bakteri difteri dapat dihentikan dengan melakukan ORI di beberapa daerah? Tulisan ini menjawab pertanyan ini.

Pola infeksi dan vaksinasi atlet

Penyakit difteri merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh jenis bakteri patogen bernama Corynebacterium Diphtheria toksigenik. Manusia merupakan satu satunya reservoir (tempat hidup dan berkembang biak agen penyebab penyakit) dari bakteri difteri. Penyakit difteri dapat menyerang semua umur, tapi yang paling sering diserang adalah anak-anak dan bisa menyebabkan kematian.

Kematian timbul karena toksin (zat beracun) yang dihasilkan oleh bakteri difteri. Penyakit difteri menular dengan kontak dekat melalui percikan udara ketika seseorang penderita difteri batuk, bersin atau berbicara. Walau tidak selalu dimuat media secara besar-besaran, kasus difteri di Indonesia tiap tahunnya selalu ada.

Negara peserta Asian Games 2018 umumnya adalah negara berkembang, tempat kasus difteri masih endemik di negara-negara tersebut. Faktor penentu penyebaran penyakit infeksi yang memungkinkan dapat terjadi di kalangan para atlet adalah aktivitas di lapangan saat bertanding, interaksi di hotel dan restoran, kontak erat dengan sesama atlet, dan ruang tempat kumpul yang ramai seperti ruangan loker dan ruang pertemuan media.

Karena itu, saya menyebut Asian Games dapat berpotensi menjadi tempat penularan penyakit difteri antara sesama atlet yang bertanding. Penyakit ini tidak hanya dapat menyebar dari dalam negeri, tapi juga dapat penularan dari negara lain. Pada saat yang sama, di Myanmar juga terjadi wabah difteri dan tidak menutup kemungkinan adanya penularan dari atlet Myanmar kepada atlet negara lain.

Untuk mencegah timbulnya penyakit difteri yang berpotensi menyerang para atlet yang berlaga di Asian Games 2018, sudah ada antisipasi pasca wabah difteri di Indonesia dengan cara vaksinasi difteri 4–6 minggu sebelum pertandingan, sesuai rekomendasi Centers for Disease Control and Prevention.

Para wisatawan yang ikut menyaksikan pertandingan Asian Games juga direkomendasikan untuk ikut imunisasi DPT (difteri, pertussis, tetanus). Pemerintah Indonesia juga telah mewajibkan seluruh atlet dan delegasi resmi untuk Asian Games 2018 dari berbagai negara untuk imunisasi sebelum datang ke Indonesia.

Bakteri tidak mati

Perlu diketahui bahwa vaksin difteri yang beredar saat ini tidak didesain untuk mencegah infeksi bakteri difteri ke manusia. Salah satu kandungan semua vaksin difteri adalah toksoid atau toksin difteri, yakni toksin bakteri yang telah dilemahkan efek racunnya dengan menggunakan bahan kimia yang disebut formaldehide.

Karena yang diimunisasikan ke tubuh manusia merupakan toksin dari difteri maka tubuh akan merespon dengan membentuk anti toksin yang akan menetralisasi toksin yang beredar dalam aliran darah jika seseorang terinfeksi bakteri difteri. Lantas bagaimana dengan bakterinya? Bakteri tidak bisa dibunuh dengan anti toksin. Toksin ini disuntikkan ke tubuh seseorang dengan harapan dapat merangsang pembentukan antibodi terhadap toksin difteri.

Bila seseorang terinfeksi bakteri difteri, maka toksin yang diproduksi oleh bakteri dapat segera dinetralisasi oleh antibodi yang terbentuk. Artinya tubuh seseorang yang telah dimunisasi difteri hanya mampu menetralkan toksin difteri, tapi tidak membunuh bakteri difteri itu sendiri. Bakteri difteri masih tetap hidup pada seseorang yang telah diimunisasi.

Saat seseorang yang telah diimunisasi dan terinfeksi bakteri difteri, walau orang tersebut tidak sakit, dia berpotensi menjadi sumber penularan penyebaran penyakit. Vaksin difteri yang beredar saat ini hanya mampu mencegah timbulnya penyakit, namun tidak mampu mencegah penularan bakteri penyebab difteri. Artinya masih ada kemungkinan proses penularan infeksi difteri di antara para atlet yang berlaga, pelatih, anggota tim pendukung atlet, pentonton, dan para wisatawan yang datang di Asian Games 2018.

Vaksin difteri yang beredar di pasaran saat ini berupa vaksin DPT (difteri, pertussis, tetanus), vaksin DPT-HB-Hib (difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, haemophilus influenza tipe B), vaksin DT (difteri, tetanus), dan vaksin TD (tetanus, difteri). Semua kandungan vaksin yang beredar itu berasal dari toksoid atau toksin difteri dan bukan sel utuh bakteri atau hanya bagian sel bakteri yang menyebabkan proses penularan tetap berlangsung.

Perlu inovasi

Bakteri yang masuk ke tubuh tidak bisa dimatikan oleh vaksin yang disuntikkan ke tubuh. Dalam jangka panjang ke depan, harus ada inovasi dan strategi untuk mengubah kandungan komponen vaksin difteri dengan mengganti komponen dari sel utuh bakteri atau bagian sel bakteri atau sintesis bagian sel bakteri difteri.

Peran peneliti sangat penting untuk mencari alternatif desain kandidat kandungan vaksin difteri yang lebih ampuh ketimbang vaksin yang ada sekarang. Rantai penularan difteri diharapkan dapat diputus dan kemungkinan kasus difteri akan hilang ketika desain kandungan vaksin difteri diganti atau dimodifikasi.

Saat ini cara yang paling ampuh dalam upaya pencegahan dan penyebaran penyakit difteri selain imunisasi difteri adalah mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat. Masalahnya, di negara berkembang seperti Indonesia, begitu kita keluar dari pintu rumah, dihadapkan dengan ludah, ingus batuk dan bersin yang dibuang sembarangan, yang menjadi “ladang” bagi penyebaran penyakit difteri.

Semoga ajang Asian Games di Jakarta dan Palembang kali ini tidak menjadi ajang penularan penyakit difteri.