Tanpa perencanaan yang baik, masa depan infrastruktur energi terbarukan tak menentu

Panel-panel surya menyediakan energi di desa ini, tapi mereka akan menjadi usang ketika jaringan listrik nasional tiba di sana. Shutterstock

Tanpa perencanaan yang baik, masa depan infrastruktur energi terbarukan tak menentu

Pada 2005, sebuah pembangkit listrik kecil bertenaga air dibangun di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pembangkit ini merupakan proyek di luar jaringan listrik PLN (off-grid), yang dimiliki oleh masyarakat, menyediakan listrik melalui sebuah jaringan listrik lokal untuk sekitar 150 rumah tangga, utamanya untuk lampu penerangan. Tapi setelah 10 tahun, pembangkit tersebut tidak berlanjut karena masyarakat di sana dihubungkan pada jaringan listrik nasional (PLN) yang diperluas baru-baru ini.

Masalah ini adalah kisah banyak proyek seperti itu di daerah tersebut, termasuk sistem listrik perumahan bertenaga surya. Berkali-kali, investasi energi terbarukan hilang begitu saja saat instalasi-instalasi tersebut ditinggalkan begitu jaringan listrik nasional datang. Di Indonesia, lebih dari 150 desa telah meninggalkan proyek jaringan listrik mini (mini-grid) sejak akhir 2000-an.

Saat ini berinvestasi pada energi berbasis bahan bakar fosil menjadi lebih berisiko. Namun, ada juga risiko-risiko unik dalam investasi sistem energi terbarukan skala kecil. Di negara-negara berkembang, tempat banyak desa mengandalkan listrik pada selain jaringan nasional atau jaringan listrik kecil, infrastruktur ini menghadapi risiko menjadi “aset terlantar”–infrastruktur terbengkalai yang tidak lagi bernilai. Ini bisa menghambat upaya membatasi perubahan iklim.

Masalah ini merupakan sebuah isu yang signifikan untuk 1,1 miliar orang di dunia yang masih tidak memiliki akses pada listrik. Menurut Badan Energi Internasional, untuk mencapai 100% elektrifikasi pada 2030, kita perlu mengandalkan pada solusi-solusi yang tidak bergantung pada sebuah jaringan listrik terpusat. Di wilayah dengan tingkat ketiadaan listrik yang begitu tinggi seperti sub-Sahara Afrika, hampir tiga perempat dari hubungan listrik baru harus berasal dari sistem di luar jaringan listrik terpusat (off grid) atau sistem kecil (mini-grid).

Energi terbarukan yang terancam

Secara tradisional, pendekatan yang dominan untuk mengaliri listrik wilayah tanpa akses listrik adalah dengan memperluas jaringan listrik nasional ke daerah-daerah tersebut. Mayoritas jaringan listrik besar itu dijalankan dengan bahan bakar berbasis fosil seperti batu bara, yang masih tetap menjadi sumber bahan bakar yang dominan secara global.

Sebuah ladang angin untuk pembangkit listrik tenaga angin di Seychelles, Afrika. IRENA/flickr, CC BY-NC-ND

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, teknologi listrik di luar jaringan nasional berbasis pada energi terbarukan seperti panel surya, tenaga angin atau tenaga air mulai dilirik karena kemampuan mereka untuk mengaliri listrik dengan mudah di komunitas terpencil. Ini yang telah terjadi pada bentuk jaringan listrik mini, versi lebih kecil dari sebuah jaringan transmisi besar, yang menghubungkan puluhan atau ratusan rumah, atau sistem mandiri off-grid untuk satu atau beberapa rumah.

Tapi pengembangan jaringan kecil dan jaringan di luar jaringan nasional terancam oleh datangnya jaringan utama/nasional, karena konsumen akan segera menyeberang ke jaringan besar tersebut. Ini membahayakan harapan dari pengembang jaringan mini dan penjual sistem listrik mandiri.

Sebuah riset tentang jaringan listrik mini di tiga negara berkembang menunjukkan bahwa fenomena ini berkembang luas. Dalam studi lainnya, satu investor jaringan listrik mini di India menyatakan bahwa pemerintah tidak memberinya:

“…kepastian bahwa jika Anda mengerjakan proyek-proyek ini, apakah jaringan besar akan mencapai wilayah sana (tanpa listrik dari jaringan nasional) dalam satu tahun, tiga tahun, lima tahun? Jadi di sana tidak ada yang pasti dalam semua itu.”

Bahkan, dalam sebuah laporan terbaru yang dibuat oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pembangunan (UNDP), perluasan jaringan listrik (besar) diidentifikasi sebagai salah satu hambatan utama yang menghadang pengembangan jaringan listrik kecil dan listrik tanpa jaringan.

Opsi-opsi untuk pengembang

Ada dua opsi bagi para pengembang untuk menyelamatkan sebagian aset-aset mereka, ketika jaringan listrik gede tiba.

Pengembang jaringan listrik kecil dan jaringan di luar jaringan besar dapat secara parsial melindungi investasi mereka dengan melepaskan aset-aset terkait pembangkit listrik–seperti pembangkit listrik atau generator–tapi tetap menjaga jalur distribusi listrik di tempatnya.

Di Kamboja, misalnya, yang memiliki sistem jaringan listrik mini mayoritas berbasis diesel, ketika jaringan listrik besar diperluas, jaringan listrik mini yang lebih besar diintegrasikan ke dalamnya). Langkah ini membolehkan pengembang jaringan listrik mini mengubah model bisnis mereka dan menjadi distributor energi skala kecil. Sayangnya, pendekatan ini seringkali melenyapkan keuntungan energi bersih yang berasal dari jaringan mini yang memproduksi energi terbarukan.

Pada September 2015, kota Les Côteau di selatan Haiti menyalakan lampu penerangan untuk pertama kalinya setelah sebuah jaringan mini dipasang. UNEP/Marc Lee Steed

Opsi lainnya adalah melepas jaringan distribusi dan menggunakan sistem pembangkit untuk menyuplai lagi energi kepada jaringan listrik besar. Contohnya, di Sri Langka, tiga proyek pembangkit listrik bertenaga air menjadi produsen energi skala kecil. Namun, langkah ini tingkat keberhasilannya kecil dan sebuah LSM harus melakukan kerja yang signifikan untuk mengubah tiga proyek tersebut.

Perbaikan kebijakan

Tapi langkah-langkah ini tidak dapat terjadi tanpa adanya regulasi yang memadai. Kompetisi dari jaringan listrik terpusat pada masa mendatang dapat dihindari melalui rencana terintegrasi untuk elektrifikasi.

Baik sistem jaringan mini dan tanpa jaringan terpusat dapat digunakan bersamaan secara sukses jika pemerintah mengupayakan dua hal sekaligus: akses listrik untuk semua dan mengurangi emisi. Dengan menciptakan zona off grid dan area layanan yang tidak tumpang tindih, mereka dapat mengurangi risiko investasi untuk solusi terdesentralisasi. Pemerintah kemudian dapat fokus pada peningkatan operasional dan kapasitas perawatan sistem lokal.

Desentralisasi energi telah dipuji di banyak negara maju sebagai pelopor demokratisasi energi. Tapi gambaran itu sangat berbeda di negara-negara berkembang.

Elektrifikasi menggunakan pendekatan konvensional, peningkatan level konsumsi, dan ketergantungan menggantungkan pada solusi terdesentralisasi tanpa perencanaan dapat menyebabkan banyak proyek kecil rendah karbon dibuang/ditelantarkan, dan menciptakan ketegangan antara konsumen, para investor, dan pemerintah.

Pengunaan energi terbarukan diakui sebagai salah satu dari cara terpenting untuk mitigasi krisis perubahan iklim. Maka, memahami kerentanan mereka dan mengurangi kerentanan tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya pengurangan perubahan iklim.

This article was originally published in English