Temuan riset: Orang berbuat curang bukan karena uang, tapi karena sudah bawaan lahir

Kecurangan lebih erat kaitannya dengan kepribadian dibanding alasan ekonomi. Shutterstock

Mengapa orang berbuat curang?

Ketika ada orang miskin yang menipu orang lain demi uang, kita akan menghubungkan perilaku itu dengan kemiskinan, lalu memaklumi tindakannya walau melanggar etika dan hukum karena mereka membutuhkan uang.

Tapi orang yang kaya dan punya kuasa pun melakukan kecurangan: memalsukan permohonan pinjaman, menghindari pajak, dan menjalankan skema Ponzi yang merugikan investor jutaan dolar.

Sebagai ahli ekonomi perilaku, saya tertarik pada bagaimana uang memengaruhi manusia dalam membuat keputusan. Jika uang adalah faktor utama di balik kecurangan, mengapa orang kaya masih melanggar hukum untuk mencari keuntungan finansial?

Untuk mencari tahu apakah perbuatan curang didasari atas kebutuhan ekonomi atau sifat manusia, saya dan ekonom Billur Aksor mengadakan penelitian. Kami ingin mencari tahu peran uang dalam penipuan finansial.

Temuan riset kami yang terbit dalam Journal of Economic Behavior & Organization Juli lalu menyimpulkan bahwa kecenderungan seseorang untuk berbuat curang tidak terkait kondisi ekonomi mereka. Baik orang kaya maupun miskin, dua-duanya bisa berbuat curang.

Terisolasi sepenuhnya

Untuk melakukan penelitian ini, kami menemukan tempat yang tidak biasa–semacam cawan penelitian tempat orang-orang yang sudah merasakan kemakmuran dan paceklik: sebuah desa penghasil kopi terpencil dan terisolasi di dataran gunung berapi Fuego di Guatemala.

Selama tujuh bulan sebelum masa panen, para penduduk desa itu mengalami paceklik. Kemudian, selama lima bulan pada musim panen, desa ini relatif makmur. Tanpa bank atau bantuan pinjaman, para petani hanya mengandalkan pendapatannya setelah masa panen.

Gunung berapai Fuego dan desa sekelilingnya. AP Photo/Santiago Billy

“Relatif”, karena saat musim panen pun desa-desa di Guatemala masih kesulitan mengakses layanan kesehatan, makanan, dan air bersih. Penduduk setempat mengaku memperoleh pendapatan US$ 3 (sekitar Rp42.000) per hari. Namun, setiap musim panen tiba, kondisi keuangan mereka sedikit membaik.

Para penduduk desa memiliki kondisi keuangan yang unik. Di sini kami bisa mempelajari sekelompok masyarakat yang sama pada saat makmur dan paceklik, sehingga faktor mitigasi-–tingkat stres, aktivitas fisik, ketidakstabilan domestik dan lainnya–-akan tetap serupa untuk seluruh penduduk.

Karena hasil penelitian baru-baru ini yang diadakan di 23 negara menunjukkan bahwa angka kecurangan yang terjadi di negara kaya dan miskin itu sama, maka kami tahu hasil studi ini tidak hanya menggambarkan Guatemala saja.

Menggulirkan dadu

Kami pertama kali mengunjungi desa tersebut sebelum panen pertama, pada September 2017, ketika sumber pendapatan mereka benar-benar tidak ada. Kemudian kami datang kembali pada Desember, saat penjualan kopi secara signifikan meningkatkan pendapatan mereka.

Pada dua kunjungan itu, kami memainkan permainan sederhana dengan 109 penduduk desa sebagai peserta. Para peserta memasukkan dadu ke dalam sebuah cangkir, kemudian dadu itu dikocok, lalu digulirkan. Kemudian peserta memberi tahu kami–-tanpa memperlihatkan pada kami-–angka yang keluar, dan mengocoknya lagi agar tidak ada orang lain yang melihat.

Setelah beberapa kali digulirkan, setiap sisi dadu memiliki kemungkinan muncul 16,67% Shutterstock

Permainan ini dirancang agar kami tidak tahu apakah peserta melaporkan hasilnya secara jujur.

Setiap peserta dibayar setara dengan 1 dolar untuk setiap nomor yang keluar. Jadi, apabila setelah dadu digulir, muncul angka 4, maka peserta tersebut akan mendapatkan 4 dolar, apabila angka yang muncul adalah 2, maka akan didapat 2 dolar. Kecuali untuk angka 6; dalam peraturan permainan ini 6 tidak ada nilainya.

Secara statistik, kami tahu ada tiga angka dengan bayaran paling tinggi – tiga, empat, dan lima – yang memiliki 50% kemungkinan muncul, begitu juga angka dengan bayaran kecil: satu, dua, dan enam.

Pada kedua kunjungan tersebut, 85% peserta mengaku menggulirkan angka dengan bayaran tinggi. Dari semua peserta, 50% peserta mengaku mendapat angka lima, yang merupakan angka tertinggi. Hampir tidak ada yang mengaku mendapat angka enam, yang tidak menghasilkan apa-apa.

Hasil ini mengindikasikan adanya kecurangan dengan skala besar, baik pada masa makmur dan paceklik. Sepertinya, kecurangan cenderung dilakukan bila orang merasa tidak akan ketahuan–-baik kaya maupun miskin.

Kebaikan yang tidak terduga

Setelah permainan putaran pertama selesai, Prof. Aksoy dan saya meminta peserta untuk kembali menggulirkan dadu.

Kali ini, angka yang didapat peserta akan menentukan bayaran untuk orang lain di desa itu. Di kota kecil, seperti desa ini, mereka bermain untuk membantu meningkatkan pendapatan teman, keluarga, tetangga, dan rekan kerja.

Pada putaran kali ini, angka dengan bayaran tinggi dilaporkan lebih sedikit dibandingkan dengan putaran pertama–-73% saat masa makmur dan 75% saat masa paceklik. Kecurangan masih terjadi, tetapi lebih sedikit. Pada putaran pertama, tingkat kecurangan hampir sama saat masa makmur dan paceklik.

Pola tersebut berubah saat peserta diminta untuk menggulirkan dadu untuk menentukan bayaran bagi orang asing–orang dari luar desa.

Pada Desember, saat masa makmur, peserta melapor angka dengan bayaran rendah dan tinggi sama-sama 50%-–sesuai dengan perkiraan statistik. Mereka tidak berbohong untuk keuntungan finansial orang asing. Namun, pada masa paceklik, 70% angka dengan bayaran tinggi dilaporkan, ini menunjukkan tingkat kecurangan mereka untuk membantu orang asing dan tetangga adalah sama.

Mengapa mereka rela melanggar aturan untuk seseorang sekalipun mereka sendiri sedang terpuruk?

Menurut kami, rasa empati penduduk desa meningkat saat masa paceklik; mereka memiliki kepedulian yang sama untuk orang lain seperti yang mereka lakukan untuk teman dan keluarganya.

Dalam kaya maupun miskin

Dua temuan terbesar kami–bahwa orang akan tetap mencurangi sistem tidak peduli saat kondisi keuangan mereka sedang baik atau buruk dan kebaikan untuk orang asing tidak bergantung dengan kekayaan–perlu diwaspadai. Ini hanya sebuah penelitian di satu negara.

Namun, peneliti di Thailand baru-baru ini mencapai suatu simpulan yang mirip dengan hasil penelitian kami dalam penelitian mereka kepada petani padi. Pada penelitian itu, para petani juga berbohong untuk keuntungan pribadi saat makmur dan paceklik.

Penelitian ini membuktikan bahwa kekayaan tidak banyak mempengaruhi kecurangan dibanding etika seseorang–yaitu apakah seseorang cenderung melakukan kecurangan atau tidak.

Kesimpulan ini sejalan dengan hasil studi baru-baru ini yang menyatakan seseorang yang melakukan tindakan anti-sosial atau yang melakukan kejahatan memang mempunyai kecenderungan genetik untuk berlaku demikian.

Dalam kata lain, beberapa orang mungkin lahir dengan memiliki sifat berbuat curang. Kalau memang begitu, faktor lingkungan seperti kemiskinan dan kesempatan bukanlah penyebab kecurangan–ini hanya alasan saja untuk perilaku mereka yang buruk.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English