Tiga hal yang bisa kita pelajari dari orang yang tidak menggunakan ponsel dan media sosial

Seseorang yang sama seperti saya. www.shutterstock.com

Kita seringkali menghabiskan waktu dengan perangkat-perangkat elektronik yang kita miliki. Kita setia mengetuk layar kaca kecil gawai sambil berharap mendapatkan lebih banyak likes atau email, memantau dunia maya dan pelan-pelan mengembangkan profil daring kita. Platform media sosial seperti Whatsapp, Snapchat, Instagram, Facebook dan Twitter seharusnya membuat kita semakin terhubung. Namun, ketergantungan kita terhadap teknologi untuk “melihat” dunia sosial justru dapat menjadi beban bagi kita.

Laporan dari Pew Research Centre menemukan bahwa seperempat dari orang dewasa Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa mereka hampir terus-menerus online. Tidak mengagetkan bahwa stres, adiksi, depresi, dan gangguan kecemasan menjadi konsekuensi dari penggunaan media sosial yang dirancang secara khusus untuk membuat kita mengulang kebiasaan-kebiasaan kita.

Meski begitu, banyak yang khawatir saat membayangkan prospek hidup offline atau bahkan menilai bahwa mustahil hidup seperti itu. Karena itu, kami melakukan suatu penelitian kecil dengan 50 peserta yang dapat dianggap sebagai manusia-manusia yang terasing dari kehidupan yang telah tersaturasi dengan layar gawai. Semua peserta penelitian tidak ada yang memiliki akun media sosial atau telepon genggam, dan kebanyakan dari mereka bahkan menolak berkomunikasi lewat surel.

Kami bertujuan untuk memahami mengapa orang-orang ini memutuskan untuk “switch off” dari dunia maya dan bagaimana mereka mengelola kehidupan yang demikian. Daripada hanya melihat solusi-solusi cepat untuk penggunaan gawai yang berlebihan, kami menelusuri prinsip-prinsip dan nilai yang mendorong orang-orang ini dalam membuat keputusan hidup tersebut. Sudah banyak tulisan yang membahas bagaimana kita bisa berhenti menggunakan gawai tapi kita harus benar-benar merasakan keuntungannya.

Ini adalah beberapa pelajaran dari responden kami yang memutuskan untuk menjalani kehidupan sosial mereka secara offline.

1. Habiskan waktu bersama orang lain

Bagian dari permasalahan yang ada pada media sosial adalah bahwa kita tidak hanya menggunakannya untuk berkomunikasi tapi juga untuk mempromosikan suatu cara tertentu untuk berhubungan dan mendukung orang-orang di sekitar kita. Interaksi yang kita lakukan lalu menghasilkan data yang dapat dibaca oleh orang yang menjual dan memasarkan data kita.

Para partisipan kami percaya dalam cara bersosialisasi yang berbeda dan terfokus pada ekspresi muka, sentuhan, percakapan, dan kehadiran fisik dalam satu tempat. Buat mereka, hal-hal tersebut telah mempertahankan rasa keterikatan satu sama lain.

Tidak ada yang sebanding dengan pelukan. Shutterstock.

Partisipan juga menganggap bahwa cara berhubungan yang lebih lambat ini tidak hanya berharga bagi mereka tapi juga menguntungkan masyarakat secara umum. Mengingat sifat media sosial yang hingar-bingar dan penuh kecemasan, kita semua dapat mengambil manfaat dari hidup yang lebih pelan dan reflektif.

Untuk banyak orang, rasa “selalu terhubung” justru menghasilkan keinginan untuk mencapai keseimbangan dan melepaskan diri dari hal-hal yang membuat mereka stres. Bagi para partisipan kami yang tidak menggunakan telepon genggam pintar dan media sosial, menghabiskan waktu bersama orang lain dikaitkan dengan rasa tenang untuk menemukan tujuan dalam hidup.

2. Anda tidak ketinggalan banyak ketika mematikan gawai

Partisipan kami mempertanyakan apa yang “sosial” dari “media sosial”: apa yang sebenarnya dianggap komunikasi dan apa yang kita dapatkan dari interaksi sosial yang diukur di platform daring–apakah itu pertemanan, dukungan atau kontak sosial. Daripada punya ratusan “teman,” mereka lebih memilih untuk bertatap muka dengan orang lain dan memelihara hubungan yang dapat memberikan dukungan di saat sulit.

Mencoba switch off mungkin menyebabkan rasa cemas di awal. Namun harus kita sadari bahwa hanya karena kita memutuskan untuk tidak menggunakan gawai tidak berarti kita akan ketinggalan berita. Bahkan saat Anda pertama kali memutuskan untuk mematikan gawai mungkin saja Anda akan menghabiskan lebih banyak waktu sendiri. Namun saat-saat tersebut yang dapat membantu Anda menyadari betapa melelahkannya terus-terusan berhubungan online dan dangkalnya bertukar pikiran yang sepele.

Mereka yang memilih untuk tidak terhubung ke dunia maya tidak merasa sedih ataupun terasing. Terbebas dari layar, mereka berhasil melarikan diri dari arus informasi dan tugas-tugas yang berlebihan. Justru hubungan mereka dengan dunia dan orang-orang yang mereka sayangi jelas tampak lebih dalam.

3. Menjadi sesuatu ketimbang melakukan sesuatu

Banyak orang yang memutus hubungan di dunia maya menemukan kembali kegairahan hidup karena mereka memiliki waktu untuk terhubung dengan dunia nyata. Hal tersebut penting untuk membantu kita untuk mengatur kembali kehidupan kita dan rileks agar kita dapat lebih siap untuk menghadapi waktu-waktu saat kita merasa stres.

Waktu yang kita pakai melihat-melihat media sosial mungkin terasa seolah-olah tugas yang ringan untuk pikiran dan tubuh kita. Namun gangguan visual dari layar yang terang jauh dari menenangkan. Anda akan lebih sulit beristirahat apabila Anda berbagi kasur dengan gawai atau melihat Internet sebelum tidur.

Ketakutan kalau ketinggalan atau FOMO (fear of missing out) membuat Anda terjaga? Shutterstock.

Saat gaya hidup yang memberikan perhatian penuh menjadi lebih populer, pemikiran utamanya seringkali diambil alih oleh teknologi. Contohnya di Instagram, para tokoh-tokoh media sosial yang berpengaruh memamerkan kemampuan yoga mereka dan mempromosikan disiplin spiritual. Alat pelacak kebugaran, data kesehatan dan aplikasi yoga secara konsisten selalu menempati posisi atas sebagai aplikasi yang diunduh oleh para pemakai ponsel pintar.

Para partisipan yang tidak terhubung ke dunia maya mengatakan bahwa seharusnya kita lebih kritis terhadap penggunaan aplikasi dan menyarankan untuk meninggalkan telepon genggam kita. Apabila kita mau lebih perhatian terhadap masa kini–menyalurkan pikiran, perasaan dan sensasi yang mengalir melalui kita–apa gunanya ada layar? Selalu terhubung dengan orang lain lewat media sosial justru mengurangi waktu bebas kita di mana kita bisa berpikir tanpa diganggu oleh tuntutan kehidupan sehari-hari.

Para responden kami tidak memutuskan untuk tidak memakai gawai karena mereka “anti-sosial.” Mereka memutuskan untuk mengambil alih kendali atas kapan dan di mana mereka berhubungan dengan orang lain. Mereka bisa jadi justru menjadi garda depan dari cara hidup yang lebih bahagia, lebih punya kesempatan untuk beristirahat, dan bahkan merasa lebih sosial.

Sepuluh tahun dari sekarang, kita mungkin akan memandang ke belakang dan melihat munculnya media sosial sebagai bagian dari pertumbuhan masyarakat–suatu masa yang menciptakan perpecahan sosial, kecemasan dan kegelisahan yang telah merusak kesehatan dan kesejahteraan banyak orang. Sampai saat itu tiba, mungkin sebaiknya kita meletakan ponsel kita–atau paling tidak lebih sering mematikannya.

This article was originally published in English

Give now and double the power of your support. Dollar for dollar doubled by NewsMatch.