Tren hidup di apartemen terus meningkat, bagaimana keluarga dengan anak kecil beradaptasi?

Anak-anak bisa berisik dan menciptakan problem dalam kehidupan bertetangga di apartemen. Pexels, CC BY

Di Australia, semakin banyak orang hidup di apartmen. Di satu sisi, kota kompak (compact city) memang memberi banyak manfaat. Namun di sisi lain, hidup berdekatan satu sama lain juga menghadirkan tantangan.

Pesatnya pembangunan apartemen dalam beberapa dekade terakhir membuat keluhan terkait kebisingan dan percekcokan di perkotaan Australia meningkat. Rumah tangga dengan anak-anak paling sering mengalami ketegangan-ketegangan semacam itu. Mereka adalah salah satu demografi penghuni apartemen yang tumbuh paling cepat.

Analisis terhadap data sensus terakhir menunjukkan, keluarga dengan anak-anak di bawah usia 15 tahun merupakan 25% populasi apartemen Sydney.


Read more: Contested spaces: living next door to Alice (and Anh and Abdullah)


Desain apartemen dan penerimaan budaya keluarga di kota vertikal tidak dibarengi pergeseran bentuk-bentuk perumahan ini. Bayangan akan kehidupan di rumah tapak masih berlaku. Para perancang dan pengembang apartemen mereproduksi bayangan itu dengan mengabaikan anak-anak dalam perancangan dan pemasaran gedung.

Akibatnya, karena suara anak-anak sulit diprediksi atau dikontrol, perubahan demografi apartemen adalah persoalan bagi para perencana maupun penghuni.

Berusaha menjadi orang tua yang baik dan tetangga yang baik

Penelitian saya mengulik pengalaman sehari-hari keluarga yang menempati apartemen di Sydney. Penelitian ini mengungkapkan bahwa para orang tua yang berusaha membuat kehidupan apartemen berjalan baik harus jungkir balik secara emosional.

Hidup di apartemen sering menciptakan dilema emosional antara menjadi orang tua yang baik dan menjadi tetangga yang baik. Para orang tua ingin membiarkan anak-anak menjadi anak-anak, tetapi selalu khawatir kalau-kalau membikin kesal tetangga.

Kota-kota memiliki berlapis-lapis suara yang berlainan, tetapi rumah dirancang sebagai ruang privat yang damai dan tenang. Suara-suara yang menyusup dianggap kebisingan. Tetangga yang “baik” di apartemen tentu tak mau ada suara yang merembes ke tetangganya.

Tetangga-tetangga yang mengeluh cuma menambah stres yang dirasakan orang tua ketika bayi mereka menangis. silentalex88/shutterstock

Ini nyaris mustahil ketika ada anak-anak (apalagi di apartemen yang dirancang dengan buruk). Anak-anak kerap menangis di malam hari dan berlari-lari di siang hari.

Para orang tua mengalami susahnya melatih pola tidur bayi (sleep training) di apartemen. Mereka ingin menjadi tetangga yang berperasaan, sehingga cemas dan merasa bersalah ketika anak-anak mereka tidak bisa diajak bekerja sama.

Tak sedikit yang menerima surat kemarahan dari para tetangga, atau mendengar mereka berteriak-teriak dan memukul-mukul dinding dan langit-langit sebagai tanda protes tengah malam.

Seorang ibu memaparkan sulitnya jungkir balik mengatasi bayi yang rewel dan tetangga yang kesal:

[Tetangga] berteriak … ‘Gendong bayimu!’ … Saya begitu jengkel karena kami sudah berusaha sebaik mungkin dan kami sendiri juga letih … [Tetangga] menggedor-gedor langit-langit keras sekali … Saya merasakannya di kaki saya, rasanya seperti berguncang-guncang … Itu membuat saya tambah stres … Ketika saya kembali ke tempat tidur setelah jerit tangis berhenti dan dia [si bayi] kembali tidur, dan hentakan-hentakan kaki di atap berhenti … Saya bilang, ‘Aku tidak tahu apakah bisa melakukan itu lagi’ … tahu bahwa, yah mereka pasti mendengarnya, dan kami merasa ngeri.

Kecemasan orang tua tidak terbatas pada malam hari. Memantau anak-anak bermain untuk mengurangi kegaduhan, terasa seperti membatasi kesenangan.

Saya selalu merasa seperti terus-menerus mengatakan kepada mereka ‘tidak di sini, tidak di sana, jangan lakukan itu’ … Saya terus-menerus cemas kalau kami mengganggu tetangga. Yang namanya juga anak-anak, suara mereka lantang. Tanpa tombol volume.

Orang tua mencoba banyak strategi untuk menanggulangi kegaduhan, misalnya memasang karpet dan tikar busa, membatasi beberapa aktivitas tertentu, menutup jendela atau menutup lubang ventilasi. Harapannya adalah suara anak-anak tidak menjadi bahan protes di apartemen.

Ketika tetangga pertama kali mengeluh, Harry [anak laki-laki] sedang merangkak. Bayangkan caranya memberitahu seorang bocah yang sedang merangkak bahwa dia tidak boleh merangkak di rumah … Begitulah, dia [tetangga] menginginkan sesuatu yang mustahil dan marah kepada kami ketika kami tidak bisa memenuhi keinginannya, tanpa sedikit pun usaha untuk memahami dari sisi kami …

Tetangga keluarga ini menulis pesan-pesan peringatan, dengan agresifnya memukul-mukul dinding dan mengancam akan berurusan dengan orang tua karena kebisingan anak-anak mereka. Sang ibu menyampaikan perasaan tak berdaya dan bingung:

Rasanya kami seperti memasuki area diskriminasi yang belum pernah saya alami, sebelumnya saya bahkan tidak tahu kalau diskriminasi itu ada, tetapi betul-betul lumrah di kalangan teman-teman sebaya kami. Itu lazim di antara ibu-ibu dalam kelompok ibu-ibu kami … Orang tidak suka anak-anak dan mereka tidak suka kebisingan anak-anak … Anda tahulah mengurus anak itu sulit … Tapi ‘Astaga aku membuat marah banyak orang’ juga tebersit dalam pikiran … benar-benar tidak enak.

Walaupun tidak semua keluarga melaporkan pengalaman negatif semacam itu, hampir semuanya merasakan kecemasan tentang kebisingan dan mempunyai cerita tentang teman-teman yang mengalami problem tersebut.

Takut anak-anak berisik selalu menjadi yang pertama melintas dalam benak. Menyadari pengawasan dan penilaian moral (yang kadang-kadang dilakukan secara terbuka) tetangga mereka, mereka mengubah rutinitas rumah tangga mereka dan memodifikasi rumah mereka sebisa mungkin.

Orang membutuhkan apartemen yang dibuat untuk keluarga

Perlu ada perubahan yang lebih luas. Keluarga yang hidup bersama anak-anak di apartemen tidaklah sesuai dengan norma yang menggambarkan rumah sebagai tempat ketenteraman; yang mendefinisikan “tetangga yang baik” sebagai tetangga yang tenang; dan yang menempatkan anak-anak di tempat lain (rumah-rumah terpisah). Dan mereka dihadang norma semacam itu dalam hunian yang menghambat upaya mereka untuk mengendalikan bunyi.

Keluarga yang hidup di apartemen aktif menjalankan strategi untuk membuat kehidupan sehari-hari “berjalan dengan baik”. Tetapi tak banyak orang yang bisa berubah. Problem lebih luas desain dan performa akustik apartemen yang buruk masih ada. Norma-norma kultural and teknis harus digeser jika paradigma kebijakan konsolidasi urban diharapkan bisa memenuhi kebutuhan sebuah populasi yang beragam.


Read more: This is why apartment living is different for the poor


This article was originally published in English