Tuberkulosis-diabetes melitus makin mengkhawatirkan, bagaimana mengatasinya?

Tuberkulosis mempengaruhi kualitas hidup, membebani ekonomi negara, dan menimbulkan dampak sosial. Song_about_summer/Shutterstock

Tuberkulosis-diabetes melitus makin mengkhawatirkan, bagaimana mengatasinya?

Laporan terbaru Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kejadian infeksi tuberkulosis (TB) di Indonesia turun menjadi urutan ketiga di dunia–dengan 842 ribu kasus setahun–setelah India dan Cina pada 2018. Tahun sebelumnya, negeri ini menduduki peringkat kedua dengan satu juta kasus baru per tahun.

Namun, tidak berhenti pada masalah jumlah saja, hal lain terkait dengan infeksi TB di Indonesia adalah semakin tingginya proporsi masyarakat Indonesia yang menderita kencing manis/diabetes melitus (DM)–penyebab kematian ketiga setelah stroke dan jantung. Telah lama diketahui bahwa DM–dampak dari pankreas tidak memproduksi cukup insulin–merupakan faktor risiko yang sangat berperan pada terjadinya infeksi TB.

Di negeri ini, dari 2007 ke 2013 ada kenaikan dua kali lipat penyandang DM, dari 1,1% menjadi 2,1% pada penduduk di atas 15 tahun yang jumlahnya mencapai 180 juta orang. Data ini menunjukkan bahwa kasus TB tetap tinggi dan berpotensi semakin tinggi dengan kenaikan kejadian DM.

Dalam penelitian kelompok di tiga klinik TB di Jakarta dan Bandung pada 2000-2005, saya dan anggota tim menemukan bahwa sebanyak 17% pasien yang datang berobat untuk infeksi TB di Jakarta dan 11% di Bandung telah menyandang DM. Penelitian ini melibatkan total lebih dari 700 pasien yang memiliki bakteri TB, yang terdeteksi positif, dari pemeriksaan dahak, artinya ini adalah kasus terkonfirmasi TB.

Dalam sejarahnya, untuk kurun waktu yang cukup lama, perhatian dunia terhadap TB seakan terlupakan, sampai dengan ramainya infeksi HIV pada 1980-an. Infeksi TB yang dulu hanya dipercaya terjadi pada masyarakat miskin sejak ada HIV dapat terjadi pada siapa saja. Kejadian infeksi TB mulai kembali mendapat atensi sejak TB-HIV muncul sebagai masalah. Saat TB kembali menjadi perhatian disadari bahwa DM juga semakin banyak diderita oleh masyarakat yang semakin menambah beban penanganan TB itu sendiri, akibat kedua kondisi ini, tidak hanya TB-HIV tapi juga TB-DM yang butuh mendapat penanganan secara bersamaan.

Tuberkulosis ini mempengaruhi kualitas hidup, membebani ekonomi negara, dan dampak sosial lainnya yang sangat serius secara global. Karena itu, peringatan Hari Tuberkulosis Dunia, 24 Maret tahun ini fokus untuk mendorong adanya komitmen bersama dalam meningkatkan akses pencegahan dan pengobatan, akuntabilitas dalam penanganan kasus, anggaran untuk tata laksana dan penelitian terkait TB. Peringatan tahun ini juga fokus untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB.

Dua beban epidemi

Mana yang lebih dulu menyerang: apakah DM atau TB? Untuk menentukan apakah kejadian DM terjadi lebih dulu atau sesudah TB, saya dan tim peneliti memeriksa kadar insulin pasien yang kami teliti di Jakarta dan Bandung. Memang secara acak dari pasien yang diperiksa kadar insulinnya terbukti bahwa tidak ditemukan adanya penurunan insulin, sehingga bisa jadi saat terinfeksi TB terjadi gangguan sehingga timbul kondisi hiperglikemia seperti DM.

Melihat profil pasien yang diteliti, didapatkan bahwa pasien TB dengan DM memiliki usia yang lebih tua dengan profil tubuh yang lebih gemuk dari pasien yang hanya terinfeksi TB saja. Secara keseluruhan memang didapatkan perbedaan tampilan klinis pada pasien TB+DM dan TB saja.

Menyadari masalah ini, Kementerian Kesehatan telah membuat kebijakan untuk memantau kedua beban epidemi ini. Dokter yang menangani kasus baik TB maupun DM secara terpisah diminta melakukan skrining kasus. Skrining kasus dilakukan pada saat salah satu penyakit ditangani. Sementara untuk kebijakan umum skrining pada masyarakat sehat bukan suatu kebijakan pemerintah

Di Puskesmas, skrining TB pada pasien HIV, DM, atau penyakit paru lain dilakukan melihat adanya kemungkinan TB aktif. Perlu diketahui bahwa infeksi TB bisa bersifat aktif, artinya sudah ada gejala atau bersifat laten. Keadaan itu terjadi saat seorang yang terinfeksi membawa kuman dalam dirinya tapi tidak memiliki gejala apa pun.

Fokus kedua adalah pengobatan, harus dipastikan bahwa obat diminum sesuai dengan standar program dan teratur, dipantau ada tidaknya efek samping obat, dan hasil pengobatan dievaluasi.

Saat ini kebijakan untuk mendeteksi adanya dua kondisi TB dan DM komorbiditas (gangguan simultan) ini lebih banyak untuk kelompok pasien TB dibandingkan pasien DM. Artinya, program pengendalian DM di Indonesia belum secara eksplisit mencari adanya infeksi TB. Hal ini bisa terjadi karena demikian banyak komplikasi secara langsung yang bisa muncul pada saat seseorang telah terdiagnosis DM.

Obat saling mempengaruhi

Penelitian kami juga memperlihatkan bahwa pasien TB yang juga menyandang DM memiliki keluhan lain selain keluhan yang banyak dijumpai pada TB, sementara untuk keluhan TB-nya sendiri tidak lebih berat. Selain tampilan klinis di awal sakit yang berbeda, terdapat juga risiko obat yang saling mempengaruhi satu sama lain antara obat TB dan obat DM sehingga akan mempengaruhi keberhasilan pengobatan.

Seorang pasien TB harus minum obat selama minimal 6 bulan sampai 1 tahun dengan program obat yang telah ditentukan secara nasional. Pengobatan terdiri dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol.

Dalam penelitian lanjutan kami mengukur kadar salah satu obat utama pada TB (rifampisin) pada pasien di Indonesia. Kami temukan bahwa kadar obat rifampisin dalam darah jauh lebih rendah pada pasien TB+DM dibandingkan dengan TB saja. Pengukuran dilakukan pada 6 jam pertama setelah obat diminum.

Penyerapan obat TB rifampisin akan berubah apabila tubuh berada dalam kondisi hiperglikemia (gula darah tinggi), seperti yang dialami oleh penderita DM. Akibat rendahnya kadar obat TB dalam darah pada penderita hiperglikemi atau DM, maka keberhasilan pengobatan akan rendah.

Saat ini pemerintah, bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat, telah mengalokasikan US$294 juta untuk mengatasi masalah TB. Sementara itu untuk DM sendiri, berbagai organisasi profesi kesehatan juga membuat modul pelatihan dan penyebaran informasi tidak hanya untuk tenaga kesehatan tapi juga masyarakat luas tentang DM ini.

Agar dampak dua penyakit ini tidak makin membesar, upaya pencegahan harus dilakukan dengan mendeteksi sesegera mungkin. Apabila sudah terkena, tak ada jalan lain selain mengobatinya untuk mencegah komplikasi dan memonitor pasien yang telah diobati, bukan sekadar minum obat, agar dapat mencapai target pengobatan sembuh total.