Bagaimana seharusnya kode etik hubungan antara dosen dan mahasiswa? Shutterstock

Yang tersisa dari ‘skripsi sampah’: Bagaimana seharusnya etika hubungan dosen-mahasiswa?

Sebuah tweet yang viral di Twitter akhir pekan lalu memicu perdebatan di kalangan akademisi tentang etika hubungan yang sehat antara dosen dan mahasiswa.

Akun @fierza, yang dimiliki seorang mahasiswa Universitas Airlangga yang lulus dua tahun lalu, mengirimkan cuitan pada 13 Oktober berisi beberapa foto lembaran naskah skripsinya dulu yang berisi coretan “SAMPAH” dan beberapa komentar kontroversial lainnya dari dosen pembimbing skripsinya, Sony Kusumasondjaja.

Cuitan @fierza sudah dihapus, namun akun lain @dimitrierlangga yang dimiliki oleh mahasiswa lain yang juga dibimbing Sony mengunggah foto serupa.

Menanggapi cuitan tersebut, banyak netizen, termasuk dari kalangan dosen dan akademisi pun ikut memberikan komentar. Banyak yang menganggap bahwa cara meninjau skripsi seperti itu sangat menghina dan berpotensi membuat mahasiswa mengalami stres.

Menurut observasi media online Tirto, sepanjang 2016 hingga 2018 terdapat 20 kasus pemberitaan mengenai bunuh diri mahasiswa, sebagian besar akibat tekanan akademik. Angka tersebut merupakan tertinggi ke-tiga setelah berita mengenai bunuh diri polisi dan pelajar.

Ketika dihubungi The Conversation, Sony, dosen pemasaran di Universitas Airlangga, menyangkal tuduhan tersebut.

“Kalau kita mau bersikap fair, kita bisa melihat komentar dari netizen mahasiswa yang bahkan bukan mahasiswa Unair yang justru berharap mendapatkan layanan bimbingan seperti yang saya lakukan,” katanya.

“Artinya apa? Artinya, apa yang saya lakukan justru diharapkan oleh banyak mahasiswa.”


Read more: The mental health crisis among America's youth is real – and staggering


Ahmad Rizky Umar, seorang kandidat doktoral di University of Queensland, merupakan salah satu akademisi yang mengkritik pendekatan Sony dalam membimbing mahasiswanya.

Umar berdalih bahwa ini mengindikasikan belum jelasnya batas etika antara dosen dan dosen di kampus-kampus di Indonesia.

“Sebenarnya saya tidak men-judge Pak Sony, tapi saya ingin menunjukkan bahwa ada masalah akademik yang terjadi ketika dosen dan mahasiswa itu hubungannya timpang, dan kita tidak membangun kultur akademik. Kampus harus mengatur relasi itu,” katanya.

Di balik coretan ‘sampah’

Di balik coretan-coretan kontroversial tersebut, Sony mengatakan bahwa hubungannya dengan mahasiswa-mahasiswi bimbingannya sebenarnya sangat dekat.

Sesaat setelah cuitan mahasiswinya viral, ia mengunggah beberapa cuitan yang menjelaskan tentang kelompok bimbingan skripsi beliau.

Misalnya, salah satu aktivitas yang diunggah adalah ‘Thesis Camp’ di mana Sony dan mahasiswanya jalan-jalan di Yogyakarta sembari menggarap skripsi.

“Interaksi kami sangat egaliter. Anda bisa melihat dari foto-foto yang saya pasang di Twitter, atau bagaimana saya berinteraksi dengan mereka di Twitter,” katanya.

“Cara saya mengingatkan deadline skripsi, misalnya, saya lakukan dengan cara-cara yang membuat mereka tersenyum, bahkan tertawa. Mereka bisa bercanda dengan saya. Jadi, dugaan ketidakseimbangan kuasa, lagi-lagi, menurut saya, berlebihan.”

Ketika ditanya mengenai serangan yang diterimanya di Twitter, Sony menantang mereka untuk membuktikan tuduhan adanya dampak psikologis yang buruk pada mahasiswanya.

Ia kemudian mengatakan bahwa cara yang dilakukannya justru efektif dalam meluluskan mahasiswa dengan nilai yang memuaskan.

“Hampir seluruh mahasiswa saya menyelesaikan skripsi dalam waktu 4,5 hingga 7 bulan dan sebagian besar meraih nilai A,” katanya.

“Kalau dibandingkan dengan kinerja mahasiswa rata-rata yang menyelesaikan skripsi dalam 9 bulan (paling tidak di institusi saya), jelas sekali bahwa mahasiswa saya bisa menyelesaikan skripsi jauh lebih cepat daripada teman mereka seangkatan pada fakultas yang sama.”

Peer review yang keras, efektif atau kejam?

Rizqy Amelia Zein, seorang dosen psikologi sosial di Universitas Airlangga, tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Sony.

“Beliau malah menjawab jalan-jalan camp skripsi, ketawa-ketawa, dan sebagainya. Lah, kan ngga ada kaitannya,” katanya.

“Bagus kalau beliau seperti, tapi yang dipermasalahkan orang kan bukan itu, tapi kenapa kok sampe keluar kata sampah, atau degrading personal dignity mahasiswanya.”

Amelia saat ini sedang terlibat dalam Triangle SCI, sebuah proyek yang bertujuan untuk mereformasi proses peer review penelitian agar menjadi lebih adil dan humanis.

Berkaca dari pengalamannya, ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan Sony melanggar prinsip-prinsip akademik.

“Dalam proses peer review, code of conductnya untuk reviewer itu prinsipnya sederhana, bahkan ketika menjadi reviewer, bukan berarti mendapatkan kebebasan untuk ngomong apa aja, itu nggak boleh,” katanya.

Mendengar kritik seperti itu, beserta komentar-komentar lain yang dilayangkan pada akun Twitter-nya, Sony tetap teguh dengan prinsipnya.

Ia mengatakan bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk mendidik mahasiswa supaya menjadi lulusan yang bermental tangguh.

“Dalam dunia bisnis, presentasi ide yang disampaikan dengan tata kalimat yang kacau atau penulisan kata-kata yang banyak salah ketik tidak akan berhasil, kapanpun di manapun,” katanya.

“Komentar-komentar tajam yang saya berikan di skripsi sebenarnya bentuk latihan mental tentang apa yang nantinya akan mereka temui sehari-hari di dunia kerja.”

Ketika mahasiswa membela

Sony mengatakan bahwa hal lain yang membuatnya percaya bahwa gaya bimbingannya bermanfaat adalah banyaknya orang yang membelanya, bahkan mengagumi metode bimbingannya.

“Yang turun membantu bukan hanya mahasiswa saya yang masih aktif saat ini, tapi juga mereka yang sudah lama lulus kuliah, tapi menyadari kelebihan pendekatan yang saya lakukan,” katanya.

“Biarpun saya tidak mendapat dukungan dari netizen, dukungan dari mereka sudah cukup bagi saya untuk meyakini bahwa apa yang saya lakukan sudah ada pada jalur yang benar.”

Mendengar dalih Sony yang membenarkan konsep bimbingannya tersebut, Amelia mengingatkan kembali bahwa dukungan mahasiswa tidak menjustifikasi etis atau tidaknya suatu perilaku.

“Saya ngga pernah mempermasalahkan orangnya baik atau tidak, saya yakin Pak Sony orangnya baik,” katanya.

Concern saya hanya one particular behaviour, dan kenapa kok perilaku ini diglorifikasi seolah-olah perilaku seperti ini yang bener dan diterima dan diharapkan oleh mahasiswa. Loh enggak, ini tu bukan perilaku yang semestinya diharapkan.”

Kode etik relasi akademik

Amelia mengatakan bahwa penyebab utama banyaknya kasus seperti yang melibatkan Sony, yang ia anggap melanggar prinsip akademik, adalah ketimpangan relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa.

“Kadang ketika diingatkan, alasannya "ini lho saya menunjukkan kedekatan dengan mahasiswa, mahasiswanya ngga keberatan”. Ya mana ada mahasiswa yang keberatan mas? Orang dosen itu punya kekuatan untuk menentukan nasib dia,“ ujarnya.

Ia mengajak universitas dan dosen untuk lebih serius mendefinisikan kode etik hubungan yang sehat dan etis antara dosen dan mahasiswa.

"Yang mungkin bisa kita pelajari dari universitas yang sudah mapan adalah, bahwa kita perlu menuangkan itu dalam dokumen yang jelas, relasi seperti apa yang harus kita bangun dengan mahasiswa,” katanya.

The University of Edinburgh, tempat Amelia dulu pernah melakukan studi, misalnya, memiliki panduan khusus yang mengatur tentang etika antara seorang mahasiswa atau peneliti dengan pembimbing ketika melakukan riset.

Di sana diatur mengenai langkah pelaksanaan riset, kewajiban pelayanan dosen, pelayangan komplain terhadap perilaku dosen, bahkan hingga layanan konseling kejiwaan ketika meneliti.

Amelia berpendapat bahwa, selain dapat mencegah maraknya kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus, suatu kode etik yang jelas juga dapat menjamin hak dan aspirasi akademik bagi mahasiswa ketika terlibat suatu penelitian yang melibatkan supervisi dosen.


Read more: Tidak hanya di Amerika, kekerasan seksual di kampus juga marak di Indonesia


“Saat ini apa yang pantas dilakukan dengan mahasiswa, apa yang tidak pantas, itu masih ngga jelas, jadi improvisasinya jadi ngga karu-karuan dari dosen,” katanya.

Senada dengan Amelia, Umar mengatakan bahwa harus ada pembatasan yang jelas antara hubungan personal dengan hubungan akademik.

“Ini saya kira akan sangat penting untuk melihat hubungan dosen-mahasiswa, tidak kemudian seakan-akan kalau sudah sangat dekat kita bisa melakukan apa aja,” katanya.

“Yang saya takutkan dalam hubungan antara mahasiswa dan dosen seperti ini dianggap sebagai sesuatu yang normal, padahal kultur akademik kita sebenarnya masih bisa lebih baik dari ini.”

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 95,300 academics and researchers from 3,097 institutions.

Register now