Menu Close
Banyak anak laki-laki diajarkan bahwa mereka tidak boleh melakukan ‘kegiatan perempuan’ seperti balet. UvGroup/Shutterstock.com

Ada identitas gender dalam mainan anak; untuk menghilangkannya butuh upaya lebih serius

Orang tua yang ingin membesarkan anak-anak mereka secara lebih terbuka terhadap segregasi maskulin dan feminin (gender-nonconfirming) kini memiliki pilihan mainan baru: boneka yang netral secara gender.

Diumumkan pada September tahun lalu, perusahaan mainan Mattel mengeluarkan boneka humanoid netral gender yang tidak secara jelas diidentifikasi sebagai laki-laki atau perempuan. Boneka-boneka tersebut datang dengan berbagai pilihan pakaian dan dapat dikenakan dalam berbagai gaya rambut dan pakaian.

Namun, bisakah boneka – atau [bermunculannya mainan lain yang netral gender] – benar-benar mengubah cara kita berpikir tentang gender?

Mattel mengatakan upaya tersebut menanggapi penelitian yang menunjukkan “anak-anak tidak ingin mainan mereka ditentukan oleh norma gender.” Hasil penelitian terbaru yang melaporkan bahwa 24% remaja Amerika Serikat memiliki orientasi seksual atau identitas gender nontradisional , seperti biseksual atau nonbiner, sehingga keputusan tersebut masuk akal secara bisnis.

Sebagai seorang psikolog perkembangan yang meneliti gender dan sosialisasi seksual, saya juga berpendapat bahwa keputusan itu masuk akal secara ilmiah. Gender adalah identitas dan tidak didasarkan pada jenis kelamin biologis seseorang. Bagi saya, adanya boneka-boneka ini berguna karena akan lebih mencerminkan bagaimana anak-anak melihat diri mereka sendiri.

Sayangnya, boneka saja tidak cukup untuk membalikkan sosialisasi puluhan tahun yang telah membuat kita percaya bahwa anak laki-laki memakai pakaian biru, berambut pendek dan main mobil-mobilan; sedangkan anak perempuan suka merah muda, memanjangkan rambut mereka dan bermain boneka.

Lebih penting lagi, usaha ini juga tidak akan mengubah bagaimana anak laki-laki diajarkan bahwa maskulinitas itu baik dan feminitas adalah sesuatu yang kurang – sebuah pandangan yang menurut penelitian saya terkait dengan kekerasan seksual.

Mainan anak perempuan cenderung berwarna merah muda. AP Photo/Nick Ut

Merah muda dan biru

Jenis-jenis mainan yang dimainkan anak-anak di Amerika Serikat tersedia dalam biner gender yang jelas.

Mainan yang dipasarkan untuk anak laki-laki cenderung lebih agresif dan melibatkan aksi dan kesenangan. Mainan anak perempuan, di sisi lain, biasanya berwarna merah muda dan pasif, menekankan keindahan dan pengasuhan.

Padahal dulu tidak seperti itu.

Pada akhir abad ke-19, mainan jarang dipasarkan untuk jenis kelamin yang tertentu. Namun, pada 1940-an, produsen menyadari bahwa keluarga kaya akan membeli seluruh set pakaian, mainan, dan aksesori baru lainnya jika produknya dipasarkan sesuai jenis kelamin yang berbeda.

Maka lahirlah gagasan bahwa merah muda itu untuk anak perempuan dan biru untuk anak laki-laki.

Saat ini, pemasaran mainan berbasis gender di AS sangat mencolok. Di lorong mainan apa pun, kita dapat dengan jelas melihat pangsa pasar yang dituju. Lorong mainan perempuan hampir secara eksklusif berwarna merah muda, menampilkan sebagian besar boneka Barbie dan putri. Sementara lorong anak laki-laki kebanyakan berwarna biru dan memiliki mainan truk serta pahlawan super.

Merobohkan biner

Munculnya boneka netral gender adalah tanda bagaimana pemisahan biner anak laki-laki dan perempuan ini mulai runtuh – setidaknya terkait anak perempuan.

Sebuah penelitian pada 2017 menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat dari mereka yang disurvei setuju agar orang tua mendorong anak perempuan untuk bermain dengan mainan atau melakukan kegiatan “lawan jenis.” Sekitar 80% perempuan dan generasi milenial mengungkapkan pendapat yang sama.

Namun ketika ditanya soal anak laki-laki, dukungan turun secara signifikan: hanya 64% – dan jauh lebih sedikit partisipan laki-laki yang setuju – yang setuju untuk mendorong anak laki-laki melakukan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Mereka yang lebih tua atau lebih konservatif bahkan lebih cenderung berpikir itu bukan gagasan yang baik.

Secara tersirat, ini menunjukkan ada pandangan bahwa sifat-sifat yang secara stereotip berhubungan dengan laki-laki – seperti kekuatan, keberanian dan kepemimpinan – itu baik, sedangkan yang terkait dengan feminitas – seperti kerentanan, emosi, dan kepedulian – itu buruk. Dengan demikian, anak laki-laki menerima pesan bahwa keinginan untuk meneladani anak perempuan itu tidak baik.

Dan banyak anak laki-laki diajari berulang-ulang sepanjang hidup mereka bahwa memperlihatkan “sifat perempuan” adalah salah dan menunjukkan bahwa mereka bukan “laki-laki sejati.” Lebih buruk lagi, mereka sering dihukum karena itu – sedangkan menunjukkan sifat-sifat maskulin seperti agresi sering dihargai.

Bagaimana hal ini memengaruhi ekspektasi seksual

Sosialisasi gender ini terus berlanjut hingga dewasa dan mempengaruhi harapan laki-laki terkait hubungan romantis serta seksual.

Contohnya, sebuah penelitian tahun 2015 yang saya lakukan dengan tiga rekan mengeksplorasi bagaimana peserta merasa gender mereka mempengaruhi pengalaman seksual mereka. Sekitar 45% perempuan mengatakan bahwa mereka bersiap-siap mengalami semacam kekerasan seksual hanya karena mereka perempuan; sedangkan tidak ada laki-laki yang melaporkan ketakutan akan kekerasan seksual dan 35% mengatakan bahwa karena mereka laki-laki berarti mereka seharusnya memperoleh kenikmatan.

Dan temuan ini dapat dikaitkan kembali dengan jenis mainan yang kita mainkan. Anak perempuan diajari untuk bersikap pasif dan berusaha cantik dengan bermain boneka putri serta merias wajah. Sementara anak laki-laki didorong untuk lebih aktif atau bahkan agresif dengan mobil-mobilan, senjata mainan, dan mainan figur yang menekankan sisi membangun, bertempur, dan bahkan dominasi.

Analisis terbaru dari mainan Lego menunjukkan dikotomi ini dalam apa yang ditekankan untuk anak laki-laki - keahlian membangun dan profesi yang terampil - dibandingkan dengan anak perempuan - merawat orang lain, bersosialisasi dan menjadi cantik. Jadi, anak perempuan menghabiskan masa kecilnya berlatih bagaimana menjadi cantik dan merawat orang lain, sementara anak laki-laki berlatih mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Hal ini menghasilkan standar seksual ganda, yang menempatkan laki-laki sebagai aktor yang kuat dan perempuan adalah bawahan. Dan bahkan dalam kasus kekerasan seksual, penelitian telah menunjukkan, orang akan lebih menyalahkan korban perkosaan perempuan jika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai peran gender tradisional, seperti selingkuh dari suaminya – yang justru lebih diterima jika dilakukan oleh laki-laki.

Sebuah penelitian tahun 2016 menemukan bahwa lelaki remaja yang menganut norma gender maskulin tradisional lebih mungkin terlibat dalam kekerasan dalam pacaran, seperti kekerasan seksual, pelecehan fisik dan emosional serta menguntit.

Jajaran boneka baru Mattel kini hadir dengan pakaian untuk semua jenis kelamin. Mattel

Mengajarkan toleransi gender

Boneka Mattel yang netral gender menawarkan variasi yang sangat dibutuhkan dalam mainan anak-anak, tapi anak-anak – serta orang dewasa – juga perlu belajar lebih banyak toleransi tentang bagaimana orang lain mengekspresikan gender secara berbeda dari yang mereka lakukan.

Dan anak laki-laki, pada khususnya, membutuhkan dukungan dalam menghargai dan mempraktikkan sifat-sifat feminin yang lebih tradisional, seperti mengkomunikasikan emosi atau merawat orang lain – keterampilan yang diperlukan untuk hubungan yang sehat.

Netralitas gender lebih berarti tidak adanya gender – alih-alih toleransi terhadap ekspresi gender yang berbeda. Jika kita hanya menekankan itu, saya yakin feminitas dan orang-orang yang mengungkapkannya akan tetap tidak dihargai.

Jadi pertimbangkanlah untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai gender konvensional dengan boneka anak-anak Anda yang sudah ada, seperti membuat Barbie memenangkan pertandingan gulat atau memasang rok tutu pada Ken. Dan dorong anak-anak lelaki dilingkungan Anda untuk bermain bersama mereka juga.

Aisha Amelia Yasmin menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 114,900 academics and researchers from 3,735 institutions.

Register now