Apa penyebab terjadinya dejavu?

“Tunggu sebentar. Saya pernah ke sini sebelumnya …” PhotoJonny/Flickr

Pernahkah Anda mendadak mengalami perasaan sama atau akrab terhadap suatu kondisi, padahal Anda berada di tempat yang sama sekali baru?

Atau perasaan seperti pernah memiliki percakapan yang sama persis dengan seseorang sebelumnya?

Rasa akrab ini, seperti kita tahu, disebut dejavu (dari bahasa Prancis “déjà vu” yang berarti “pernah dilihat”) dan ini dilaporkan terjadi sesekali pada 60% hingga 80% orang. Ini pengalaman yang hampir selalu terjadi secara singkat dan acak.

Apa penyebab timbulnya perasaan ini?

Meski kerap diulas dalam budaya pop, pengalaman dejavu kurang dipahami dalam istilah ilmiah. Dejavu terjadi singkat, tanpa pertanda, dan tidak memiliki manifestasi fisik, kecuali pengumuman: “Aduh dejavu!”

Banyak peneliti mengatakan, fenomena ini merupakan pengalaman berbasis ingatan dan disebabkan oleh pusat ingatan di otak.

Sistem memori

Lobus temporal medial sangat penting dalam mempertahankan ingatan jangka panjang dari berbagai peristiwa dan fakta.

Daerah tertentu dari lobus temporal medial berfungsi penting dalam mendeteksi perasaan akrab atau kenal—bukan dalam mengingat detail peristiwa-peristiwa tertentu.

Perasaan akrab sepertinya bergantung pada fungsi korteks rhinal, sedangkan ingatan mendetail itu terkait dengan hippocampus.

Pengalaman dejavu yang terjadi acak dalam individu yang sehat, membuatnya sulit dipelajari secara empiris. Semua penelitian bergantung pada pelaporan sendiri atau pengakuan mereka mengalaminya.

Gangguan dalam matriks

Sementara itu, sebagian pasien epilepsi secara konsisten mengalami dejavu pada awal terjadinya kejang—yakni ketika kejang berawal di lobus temporal medial.

Ini membuka kesempatan para ilmuwan untuk meneliti dejavu dengan cara yang lebih terkontrol secara eksperimental.

Kejang epileptik dipicu oleh perubahan aktivitas listrik pada neuron dalam daerah fokal otak. Gangguan fungsi kerja neuron ini dapat menyebar ke seluruh bagian otak, sebagaimana gelombang kejut akibat gempa bumi.

Daerah-daerah otak tempat terjadinya aktivasi listrik ini mencakup lobus temporal medial.

Gangguan listrik pada sistem saraf menghasilkan sebuah aura (semacam peringatan) dari dejavu sebelum terjadinya kejang epileptik.

Dengan mengukur pelepasan neuron yang terjadi dalam otak pasien, ilmuwan mampu mengidentifikasi daerah otak mana saja tempat sinyal dejavu dimulai.

Ilmuwan menemukan bahwa dejavu lebih mudah diinduksi pada pasien epilepsi melalui stimulasi listrik pada korteks rhinal ketimbang hippocampus.

Pengamatan ini mengarah pada spekulasi bahwa dejavu disebabkan oleh pelepasan listrik abnormal di otak.

Pelepasan neuron ini dapat terjadi secara non-patologis pada orang tanpa epilepsi. Contohnya adalah hyponogogic jerk, kedutan tak segnaja yang dapat terjadi tepat ketika Anda mulai tertidur.

Ada gagasan bahwa dejavu dapat dipicu oleh pelepasan saraf serupa, yang menghasilkan rasa akrab yang aneh.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa jenis dejavu yang dialami oleh pasien epilepsi lobus temporal berbeda dari dejavu pada umumnya.

Dejavu yang dialami sebelum kejang epilepsi berlangsung agak lama, bukan perasaan sekilas seperti yang dirasakan orang-orang yang tidak mengalami kejang epilepsi.

Sementara itu, bagi orang tanpa epilepsi, rasa akrab yang kuat yang berpadu dengan pengetahuan bahwa mereka berada di lingkungan yang benar-benar baru, secara alamiah memperkuat pengalaman dejavu.

Ketidakcocokan dan hubungan pendek

Dejavu pada orang yang sehat dilaporkan sebagai kesalahan ingatan yang dapat mengekspos sifat alami dari sistem memori.

Beberapa peneliti berspekulasi bahwa dejavu terjadi akibat ketidaksesuaian dalam sistem memori yang mengarah pada pembangkitan memori rinci yang keliru dari sebuah pengalaman sensorik baru.

Artinya, suatu informasi menerabas memori jangka pendek, dan malah mencapai memori jangka panjang.

Ini menyiratkan bahwa dejavu dipicu oleh ketidakcocokan antara input sensorik dan output pemanggilan memori. Ini menjelaskan mengapa pengalaman baru bisa terasa akrab, tetapi tidak begitu nyata seperti memori sebenarnya.

Teori-teori lain mengatakan aktivasi sistem saraf rhinal, yang terlibat dalam pendeteksian rasa akrab, terjadi tanpa aktivasi sistem ingatan dalam hippocampus. Ini mengarah pada rasa akrab tanpa detail spesifik.

Terkait dengan teori ini, ada gagasan bahwa dejavu adalah reaksi sistem memori otak terhadap pengalaman yang sudah dikenal. Pengalaman ini diketahui sebagai pengalaman baru, tetapi memiliki banyak elemen yang dapat dikenali, meskipun dalam keadaan yang sedikit berbeda.

Contohnya? Berada di bar atau restoran di negara asing yang memiliki tata letak yang sama dengan yang sering Anda kunjungi di rumah.

Ada lebih banyak lagi teori tentang penyebab dejavu. Mulai dari segi paranormal—kehidupan masa lalu, penculikan alien dan mimpi ramalan—hingga ingatan yang terbentuk dari pengalaman tidak langsung (seperti adegan dalam film).

Sejauh ini tidak ada penjelasan yang sederhana mengenai dejavu, tetapi kemajuan teknologi dalam pencitraan saraf dapat membantu kita memahami tentang memori dan tipuan dari pikiran kita sendiri.

Diterjemahkan oleh Franklin Ronaldo dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 109,100 academics and researchers from 3,580 institutions.

Register now