Apakah ‘gen homoseksual’ itu benar-benar ada?

Mungkin ada lebih dari satu “gen gay” yang berkontribusi terhadap selera seksual seseorang. Shutterstock

Sebuah klaim yang mengatakan bahwa para laki-laki homoseksual sama-sama memiliki sebuah “gen homoseksual” menciptakan kehebohan pada 1990-an.

Namun 20 tahun kemudian, sebuah riset baru mendukung klaim ini—dan menambah kandidat gen lain.

Bagi seorang ahli genetika evolusi, gagasan bahwa susunan genetika seseorang mempengaruhi preferensi pasangannya tidaklah mengejutkan. Kita juga mendapati hal itu pada hewan. Mungkin ada banyak gen yang mempengaruhi orientasi seks manusia.

Tetapi ketimbang menganggapnya sebagai “gen homoseksual”, mungkin sebaiknya kita menganggapnya sebagai “gen pencinta lelaki”.

Ini lumrah karena pada perempuan, gen pencinta lelaki mempengaruhi mereka untuk kawin lebih cepat dan lebih sering, serta memiliki lebih banyak anak.

Sebaliknya, para perempuan lesbian juga memiliki “gen pencinta perempuan"—yang dalam diri lelaki membuat mereka kawin lebih cepat dan memiliki lebih banyak anak.

Bukti keberadaan ‘gen gay’

masterdesigner/Flickr, CC BY-SA

Kita bisa mendeteksi variasi genetika yang memproduksi perbedaan di antara orang dengan melacak sifat dalam keluarga yang menunjukkan perbedaan.

Pola pewarisan mengungkapkan variasi gen (yang disebut "alel”) yang mempengaruhi perbedaan normal seperti warna rambut, atau kondisi penyakit seperti anemia sel sabit. Sifat kuantitatif, seperti tinggi badan, dipengaruhi oleh banyak gen berbeda serta faktor lingkungan.

Adalah sulit menggunakan teknik ini untuk mendeteksi variasi genetika yang berhubungan dengan homoseksualitas lelaki, karena banyak laki-laki gay memilih untuk tidak terbuka mengenai seksualitas mereka.

Yang lebih pelik, studi kembar menunjukkan bahwa gen bukanlah pemain satu-satunya; hormon, urutan kelahiran dan lingkungan juga ikut berperan.

Pada 1993, ahli genetika Amerika Dean Hamer meneliti sebuah keluarga yang memiliki beberapa lelaki gay dari sisi ibu, menandakan sebuah gen di kromosom X. Ia menunjukkan bahwa pasangan kakak beradik laki-laki yang gay, memiliki satu wilayah kecil di ujung X yang sama, dan menduga bagian itu mengandung sebuah gen yang membuat laki-laki memiliki kecenderungan terhadap homoseksualitas.

Kesimpulan Hamer sangatlah kontroversial. Ia ditentang di tiap kesempatan oleh orang yang tidak bisa menerima bahwa homoseksualitas ada kaitannya dengan genetika, karena menurut mereka homoseksualitas itu “pilihan hidup”.

Dean Hamer berbicara tentang studi gen gay.

Para lelaki homoseksual pun terbelah: Di satu sisi, klaim ini dapat memberi pembenaran terhadap ungkapan “Saya memang terlahir seperti ini” tapi di sisi lain, ada potensi mengerikan untuk deteksi homoseksualitas dan diskriminasi.

Studi-studi sejenis memberikan hasil yang bertolak belakang. Belakangan, sebuah penelitian menemukan asosiasi gen pada tiga kromosom lain.

Tahun 2014, sebuah studi yang lebih luas terhadap kakak beradik lelaki gay, memanfaatkan banyak penanda genetika yang tersedia dari Proyek Genome Manusia, menegaskan temuan yang didapat Dean Hamer, serta mendeteksi “gen gay” lainnya pada kromosom 8. Ini menciptakan kehebohan baru.

Namun mengapa mesti heboh ketika kita sudah mengetahui tentang variasi gen gay pada spesies dari lalat hingga mamalia? Homoseksualitas itu cukup umum di dalam kerajaan binatang.

Misalnya, ada variasi yang mempengaruhi preferensi pasangan pada tikus dan sebuah mutasi pada lalat buah mengakibatkan pejantan merayu pejantan lain alih-alih betina.

Apakah ‘gen gay’ betul-betul ‘alel pencinta laki-laki’?

Pertanyaan besarnya bukanlah apakah “gen gay” benar-benar ada pada manusia, melainkan mengapa gen-gen tersebut sangat umum (diperkirakan sekitar 5-15%). Kita tahu bahwa lelaki gay memiliki rerata anak lebih sedikit, jadi bukankah seharusnya variasi gen ini lenyap?

Ada beberapa teori. Satu dekade lalu saya bertanya-tanya apakah variasi gen gay memiliki pengaruh lain yang meningkatkan kemungkinan memiliki keturunan (“kebugaran evolusioner”), dan mewariskan alel gay.

Sekeping sel darah normal di belakang sel darah manusia pada pasien anemia sel sabit. Wellcome Images/Flickr, CC BY-NC-ND

Ini situasi lumrah yang (disebut “polimorfisme seimbang”) di mana sebuah alel bersifat menguntungkan pada satu situasi, tapi tidak pada situasi lain.

Contoh klasik situasi ini adalah penyakit darah anemia sel sabit, yang menyebabkan penyakit dan kematian bila Anda memiliki dua alel, tapi resisten terhadap malaria bila Anda hanya memiliki satu, sehingga jamak pada daerah malaria.

Sebuah kategori istimewa yakni “gen antagonis seksual” yang meningkatkan kebugaran genetika pada satu jenis kelamin tapi tidak demikian di jenis kelamin lain; beberapa bahkan mematikan. Kita memiliki banyak contoh pada berbagai spesies. Mungkin alel gay hanyalah satu di antaranya.

Mungkin alel “pecinta lelaki” pada perempuan meningkatkan kecenderungan untuk kawin lebih cepat dan punya anak lebih banyak. Bila saudara perempuan, ibu dan bibi mereka memiliki anak lebih banyak yang berbagi beberapa gen mereka, hal tersebut akan mengompensasi jumlah anak yang lebih sedikit dari laki-laki gay.

Dan demikianlah yang terjadi. Jauh lebih banyak anak. Sebuah kelompok Italia menunjukkan, kerabat perempuan dari laki-laki gay memiliki anak 1,3 kali lebih banyak ketimbang kerabat perempuan dari laki-laki heteroseksual. Ini adalah keuntungan selektif sangat besar yang dimiliki alel pecinta lelaki pada perempuan, dan mengimbangi kerugian selektif yang ditimbulkannya pada laki-laki.

Saya terkejut penelitian ini kurang terkenal, dan penjelasannya terabaikan dalam seluruh debat soal “normalitas” perilaku homoseksual.

Seberapa ‘normal’ alel gay itu?

darcyandkat/Flickr, CC BY-NC-SA

Kita tidak tahu apakah studi genetika ini mengidentifikasi “alel gay” dari gen yang sama atau berbeda.

Yang menarik, Hamer mendeteksi “gen gay” pada kromosom X, yang punya lebih banyak gen yang mempengaruhi reproduksi, tapi saya membayangkan ada gen di seluruh genom yang berkontribusi terhadap pilihan pasangan pada manusia (pencinta perempuan atau pencinta lelaki).

Bila ada alel pencinta lelaki dan pencinta perempuan dari puluhan atau ratusan gen yang bertarung dalam populasi, tiap orang akan mewarisi campuran dari variasi berbeda. Dikombinasi dengan pengaruh lingkungan, akan sulit untuk mendeteksi gen individu.

Ini mirip dengan tinggi badan, yang dipengaruhi oleh variasi dalam ribuan gen serta lingkungan, dan menciptakan “distribusi kontinyu” manusia dengan tinggi badan berbeda. Dua ekstremnya yakni sangat tinggi dan sangat pendek.

Demikian pula, di tiap ujung distribusi kontinyu pada selera pasangan manusia, kita bisa membayangkan “yang sangat mencintai lelaki” dan “yang sangat mencintai perempuan” pada kedua jenis kelamin.

Laki-laki gay dan perempuan lesbian mungkin hanyalah dua ujung dari distribusi yang sama.

This article was originally published in English

We need your help to elevate the voices of experts, not the shouters.