Beberapa kadal, seperti tokek, dapat mengamputasi ekornya ketika merasa terancam. Ekor ini dapat bergerak-gerak hingga 30 menit lamanya, mengalihkan perhatian dan meloloskan kadal dari genggaman pemangsa. Shutterstock

Autotomi: Hewan yang terancam predator akan mengamputasi dirinya demi bertahan hidup

Bayangkan diri Anda dalam genggaman pemangsa yang mematikan. Anda melihat hidup Anda berkedip di depan mata Anda: hidup Anda sepertinya akan berakhir. Tapi tunggu! Dengan sentakan cepat, potongan anggota tubuh Anda hinggap di mulut predator dan Anda bisa melarikan diri. Anda telah lolos dari kematian tertentu melalui sebuah pertukaran yang mengerikan.

Jika Anda menonton drama menegangkan 127 hours - film yang didasari kisah nyata pendaki Aron Ralston, yang mengamputasi lengannya sendiri untuk membebaskan diri dari batu yang jatuh menimpanya—mungkin Anda bertanya-tanya: jika berada dalam situasi yang mematikan, seberapa besar kemungkinan selamat?

Ternyata, taktik amputasi diri yang ekstrem ini adalah taktik yang telah berevolusi berkali-kali pada kerajaan hewan. Tim peneliti ekologi evolusioner kami mempelajari bagaimana sifat-sifat yang beragam dan fungsional seperti ini berkembang di alam.

Beban berat

Melepaskan suatu bagian tubuh dapat membantu hewan yang ditangkap mengalihkan perhatian pemangsa dan melarikan diri. Banyak spesies kadal menggunakan taktik ini, mematahkan ekornya ketika terkejut atau diserang. Anda mungkin pernah melihat ini terjadi pada tokek. Pada beberapa spesies tokek, ekornya bahkan dapat terus bergerak-gerak hingga 30 menit setelah dipatahkan, membuat perhatian predator teralihkan.

Capung jarum (damselflies) telah berevolusi dengan berbagai strategi bertahan hidup untuk menghadapi predator yang berbeda. Strategi ini termasuk amputasi diri dan kamuflase. Shutterstock

Banyak kepiting, serangga, dan laba-laba dapat mematahkan satu anggota tubuh tepat pada titik lemah tubuh mereka. Serangga tanaman kaktus mengamputasi diri tidak hanya untuk melarikan diri dari pemangsa, tetapi juga untuk melepaskan bagian tubuh yang terluka yang bisa menghambat pergerakan mereka.

Amputasi diri juga tidak terbatas pada tungkai. Tikus berduri Afrika dapat meluruhkan hingga 80 persen dari kulit mereka ketika dicengkeram oleh predator, seperti mengupas sosis.

Meskipun dapat membantu menghindari situasi yang fatal, melepaskan bagian tubuh harus dibayar dengan harga yang tinggi. Hewan itu sekarang menjadi pincang, ini membuatnya lebih lambat atau lebih lemah. Lebih buruk lagi, bekas amputasi dapat terinfeksi. Bahkan jika hewan itu bisa menumbuhkannya kembali, proses ini bisa menjadi beban besar bagi hewan dengan menggunakan sumber daya berharga. Karena harga untuk kehilangan anggota badan itu mahal, ada beberapa misteri di balik spesies yang memilih untuk diamputasi sendiri, dan alasannya.

Perilaku amputasi diri yang unik ini telah menginspirasi para insinyur. Banyak fitur keselamatan dalam kehidupan modern kita melindungi orang-orang dengan cara secara sengaja berhenti berfungsi pada saat kejadian ekstrem, seperti kecelakaan mobil.

Papan penanda jalan dan lampu jalanan di sepanjang jalan menimbulkan risiko besar bagi pengemudi yang kehilangan kendali. Sehingga, beberapa tiang direkayasa untuk bisa patah pada sambungan khusus ketika ditabrak mobil, sehingga mengurangi kerusakan bagi yang menabraknya. Demikian juga, banyak elemen mobil dirancang untuk dapat rusak sendiri dengan cara tertentu untuk melindungi penumpang.

Berbagai strategi pertahanan

Bagaimana jika amputasi diri adalah strategi yang efektif melawan beberapa predator namun tidak untuk yang lain? Seekor hewan seharusnya tidak melepaskan anggota tubuhnya ketika tidak ada bahaya nyata.

Beberapa capung jarum (damselflies) Amerika Utara - sepupu capung dengan tubuh yang lebih ramping dan rapuh - telah mengembangkan strategi yang berbeda untuk menghindari dirinya dimangsa. Larva damselflies kadang-kadang ada di kolam yang . berisi predator seperti ikan atau serangga yang lebih besar seperti capung. Strategi berburu para predator ini berbeda, sehingga diperlukan strategi pertahanan yang berbeda.

Tim peneliti kami ingin tahu apakah damselflies mungkin menyesuaikan taktik pertahanan mereka dengan berbagai jenis predator.

Bagi damselflies yang mencoba melarikan diri dari pemangsa yang bisa mencengkeram korbannya, melepaskan satu bagian tubuh adalah sebuah pertahanan yang penting. Capung sering menargetkan ekor berbulu dari damselflies yang melarikan diri, yang disebut lamellae. Damselflies dapat mengamputasi diri dengan melepasnya selama pelarian, meninggalkan calon predator dalam kesulitan. Ini adalah langkah yang berisiko, karena ekor ini juga penting untuk berenang dan bernapas di bawah air.

Dalam beberapa kasus, amputasi diri adalah suatu taktik pertahanan yang tidak berguna untuk damselflies. Tidak semua predator menangkap mangsanya; pemangsa yang lebih besar seperti ikan akan menelan damselflies utuh. Dengan predator ikan, seharusnya tidak ada alasan untuk mencoba amputasi diri, dan karena itu damselflies lebih mungkin bertahan hidup dengan bersembunyi dan berkamuflase.

Mempersiapkan diri dari pemangsa

Kami mengamati bahwa larva dari kolam yang berisi capung melepaskan lamellae mereka lebih mudah daripada yang berasal dari kolam yang berisi ikan. Namun, bagaimana tepatnya mereka tahu untuk menumbuhkan ekor yang lebih kokoh yang tidak akan lepas secara tidak sengaja, atau ekor yang lebih lemah yang dapat diamputasi pada saat itu juga?

Katherine Black, seorang mahasiswa sarjana pada waktu itu dan anggota tim penelitian kami, tertarik dengan pertanyaan ini.

Untuk mengetahuinya, dia mengumpulkan larva damselfly dari kolam dekat Guelph di Ontario selatan dan membesarkan mereka di laboratorium. Dia mengekspos beberapa larva damselfly ke predator capung yang ditempatkan di kandang mereka di belakang penghalang jala dan kemudian mengamati apa yang terjadi pada sendi yang menghubungkan lamellae ke perut ketika larva damselfly berkembang.

Untuk menilai kekuatan sendi, kami mengukur kekuatan yang dibutuhkan untuk mematahkan lamellae dengan tepat. Karena larva damselflies sangat kecil (biasanya hanya beberapa sentimeter), kami perlu alat khusus yang dapat mendeteksi perubahan gaya yang lebih kecil dari satu miligram tekanan per milimeter. Ini cukup sulit dilakukan, tapi kesabaran kami terbayar pada akhirnya: kami menemukan bahwa damselflies yang tumbuh di hadapan capung mengembangkan sendi lamellae yang lebih lemah.

Ketika kami memeriksa struktur lamellae lebih dekat, kami menemukan bahwa diameter perlekatan sendi lebih kecil di damseflies dengan sambungan yang lebih lemah. Titik lemah yang disebabkan oleh diri sendiri ini memungkinkan mereka untuk mengamputasi lamellae lebih mudah ketika diserang oleh capung yang lapar.

Ini berarti bahwa larva damselfly dapat mengubah bagaimana bagian tubuh mereka berkembang tergantung pada isyarat yang ada di lingkungan mereka. Kemampuan seperti itu sangat penting untuk bertahan hidup, sebab mereka tidak bisa tahu predator mana yang harus mereka hadapi di kolam tempat tinggal mereka.

Dan ketika hewan mengamputasi bagian tubuhnya sendiri untuk terhindar dari menjadi santap malam hewan lain, sangat penting untuk memastikan bahwa taktik itu bekerja.

Las Asimi Lumban Gaol menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English