Bagaimana agama berperan dalam perilaku intoleran individu dan masyarakat?

Bagus Indahono/EPA

Mengapa dan apa yang mempengaruhi individu dan masyarakat memiliki perilaku intoleran menjadi bahasan yang menarik untuk dipelajari.

Di dalam dunia psikologi perkembangan, perdebatan yang melatarbelakangi terbentuknya perilaku selalu mengarah pada dua konsep besar, yaitu apakah perilaku dipengaruhi oleh sifat alami dan bawaan (nature) atau perilaku dibentuk oleh proses pembelajaran dan pengalaman (nurture)

Penelitian Amanda Ramos, peneliti psikologi perkembangan dari Penn State University, Amerika Serikat (AS), berusaha menjembatani dua konsep ini dengan penelitiannya.

Menurutnya, faktor genetika memberikan manusia potensi dalam diri. Namun, tidak dipungkiri bahwa faktor lingkungan memainkan peranan dalam membentuk perilaku tiap individu.

Sebagai bagian dari faktor lingkungan, agama menjadi bagian penting untuk dipahami dan menjadi landasan dalam berperilaku.

Harvey Whitehouse, direktur Institut Anthropologi Kognitif dan Evolusi di Magdalen College, Inggris, mengajukan gagasannya tentang konsep “Tuhan dan moral” sebagai alat yang mendorong manusia berperilaku dan menentukan pilihan.

Pertanyaannya, bagaimana agama memainkan peranan dalam membentuk perilaku intoleran dari individu dan masyarakat?


Read more: Memahami sikap intoleransi di Indonesia dengan metode riset yang tepat


Nilai sakral yang lama tertanam

Mengapa agama memainkan peranan krusial dalam membentuk perilaku intoleran?

Barbara Muzzulini, peneliti psikologi kognitif dari Universitas Oxford, Inggris, mengatakan manusia memiliki hubungan personal di dalam kelompok karena dilatarbelakangi oleh terjadinya penggabungan identitas (identity fusion).

Proses penggabungan identitas terjadi karena adanya situasi “saling berbagi pengalaman” dan pembentukan memori individu atas kelompok. Proses “saling berbagi pengalaman” ini menjadi sesuatu yang sifatnya sakral, berbentuk ritual, dan terjadi secara konsisten atau rutin.

Pelan-pelan, pemahaman tentang apa yang benar dan salah tertanam kuat dan lama dalam pikiran dan memori individu bersangkutan.

Agama pada akhirnya memainkan peranan sentral karena identitas agama kebanyakan telah terbentuk sejak kecil dan bertumbuh semakin kuat seiring tumbuhnya usia.

Tetapi perlu kita pahami pula bahwa gagasan tentang konsep “Tuhan dan moral” itu mungkin tidak bersifat universal.

Perbedaan tentang keyakinan dan konsep agama yang dipandang sebagai sebuah kebenaran tentu semakin lebar di tengah tatanan masyarakat yang semakin kompleks.

Padahal, masyarakat hidup tidak hanya berdasarkan satu budaya atau agama semata, melainkan hidup berdampingan dengan masyarakat lain yang memiliki budaya atau agama berbeda. Kondisi ini yang menyebabkan konflik rentan terjadi dan berujung pada perilaku intoleran.

Fundamentalisme dan tindakan ekstrim

Gesekan di antara tiap kelompok masyarakat yang memiliki kepercayaan dan nilai yang berbeda rentan menimbulkan perilaku intoleran.

Ini fenomena yang terutama terjadi pada golongan masyarakat yang memiliki tingkat fundamentalisme agama sangat tinggi: mereka yang meyakini agamanya paling benar dibandingkan agama lainnya.

Dalam studi Barbara, identitas yang telah tertanam kuat akan membangun motivasi fight and die response, sehingga menjelaskan kenapa individu mau dan berani merelakan dirinya untuk kelompok dan bertarung atas nama kelompok, termasuk melakukan kegiatan ekstrem.

Di Indonesia, kita dapat melihat terjadinya kontradiksi pada perilaku masyarakat.

Kita merupakan salah satu negara yang paling religius dan paling murah hati di dunia, namun juga dianggap sebagai negara yang masyarakatnya terbiasa berperilaku intoleran.

Menurut survei Pew Research Center, 93% penduduk Indonesia menganggap agama sangatlah penting dalam kehidupan mereka.

Berdasarkan indeks Charities Aid Foundation (CAF) 2018, Indonesia menempati peringkat pertama negara paling murah hati di dunia.

Terdapat tiga indikator yang menentukan peringkat ini, yaitu kerelaan menolong orang asing, mendonasikan uang, dan meluangkan waktu untuk kegiatan sosial. Indeks ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia peduli dan ingin menolong sesama.

Kerelaan untuk membantu sesama merupakan apa yang diajarkan oleh tiap agama dan membentuk perilaku individu dan masyarakat. Apalagi di Indonesia yang memiliki semangat kekeluargaan dan sifat kerohanian yang kental.

Di sisi lain, laporan Social Progress Index tahun 2017 menunjukkan angka toleransi di Indonesia masih dikategorikan rendah, yaitu pada angka 35,47 dari 100. Indonesia berada di posisi 117 dari 128 negara. Skor terendah justru terletak pada toleransi beragama.

Pada tahun yang sama, perhatian nasional sempat tertuju pada politikus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2017. Ahok yang berasal dari etnis Cina dan menganut agama Kristen gagal menjadi gubernur dan malah ditahan karena dituduh menista agama.

Di sini dapat dilihat bagaimana agama memainkan peranan signifikan.


Read more: Jakarta dan Yogyakarta demokratis tapi intoleran: Mengapa ini bisa terjadi di Indonesia?


Solusi mengatasi intoleransi

Menurut Harvey, tatanan masyarakat yang semakin kompleks membuat masalah yang hadir semakin parah.

Permasalahan ini dapat diatasi apabila ada suatu sistem pengawasan yang dijalankan.

Gagasan tentang sistem pengawasan ini Harvey sebut sebagai konsep “eye in the sky” - sebuah konsep akan adanya “Tuhan” yang dapat melihat pikiran terdalam manusia dan mampu memberikan hukuman ataupun ganjaran.

Konsep “eye in the sky” perlu diakui dan dijadikan kesadaran oleh individu dan masyarakat dalam berperilaku.

Individu dan masyarakat perlu berpikir dua kali untuk sebelum bertindak intoleran dan perlu memiliki kemauan untuk berperilaku toleran.

Agar dapat dipahami dan diakui sama oleh seluruh individu dan masyarakat, konsep ini harus dituangkan dalam produk hukum yang mengatur nilai dan norma berperilaku, serta disepakati bersama antara tokoh-tokoh dari kepercayaan berbeda.

Perlu pula adanya sosialisasi terkait produk hukum yang disepakati dan menjadi aturan main.

Agama dan tokoh agama sebagai entitas yang memainkan peranan signifikan, seyogyanya menjadi aktor utama.

Tiap tokoh agama seharusnya dirangkul dan mampu berperan menjadi agen dalam melakukan sosialisasi. Harapannya, nilai dan norma pada akhirnya terwujud pada praktik nyata toleransi sehingga menjadi bentuk perilaku keseharian.


Read more: Kaum sekuler dan ateis Indonesia hidup di bawah bayang-bayang stigma


Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 100,700 academics and researchers from 3,219 institutions.

Register now